Rabu, 25 April 2007

BUAT YANG TERUS MERINDU



bertanyalah pada Sang Waktu,
bagai mana Adam dan Hawa dipertemukan.
bagaimana Rama dan Shinta kembali dipersatukan


rinduku padamu
seperti rindu kemarau pada hujan
tanah ini telah kerontang dan retak
semak meranggas


burung-burung entah dimana
kupu-kupu entah kemana
mawar tak lagi mengenal bunga


sungai kecil itu sudah lama kering
gersang sepanjang mata memandang


aduhai...
bila awan berubah kelabu
dan warna hitam membayang sendu
aku mengira hujan lebat akan menderu


tapi kemarau ini
belum juga berhenti
kemarau ini terlalu panjang
kapan kau pulang
kapan hujan akan menyiram pematang




Sabtu, 21 April 2007

LEDAKAN RINDUKU



akh...
bagiku kini semua tampak kelabu
diusik rindu yang bermukim di kalbu
burung, hujan, mawar ataupun kupu-kupu
bukanlah yang diharap oleh seorang perindu
karena, hanya pertemuanlah penawar rindu.

kasihmu adalah lautan biru permai
yang deru ombaknya berdebur dipantai
sedang aku sekelompok nyiur melambai
yang gundah pucuknya gelisah menggapai

tahukah engkau
ledak rinduku yang memuncak
adalah sebab cinta yang berjarak ?

Wahai Yang Arif,
jangan biarkan asa cintaku bagai ombak
dari jauh berlari mengejar pantai
sudah sampai pecah berderai

Kamis, 19 April 2007

KAMIS MALAM



Tuhan
Dari Kamis malang
Jiwaku nyetan !!

Seribu iblis terbang
dan aku ikut melayang
tengelam dalam lautan awan
bergerak berlawanan
ketidakberaturan

Amboi, angin bertiup hujan deras
iringi seribu iblis yang lepas
sementara mereka bergerak lugas
aku sibuk mencari yang paling buas
menumpang ditanduknya yang ganas

Oooh panas hawa tubuhku panas
Nuraniku dipasung nafsuku beringas
Ada
amuk didadaku menggeragas
Menuntut dendam ini terbalas

Oooh panas hawa tubuhku panas
Didih cecairan menggelora panas
Ubun ubunku mengepul uap panas
Kulit tubuhku memerah panas

Oooh panas hawa tubuhku panas
Bagai buldozer ia menggilas
Setiap penghalang ku tebas tuntas

Tanpa perasaan
Ku hirup darah hingga kering tandas

Adakah air dari tujuh sumur tujuh muara
Yang sejuknya mampu mendamaikan amuk
Mencuci rongga dadaku dari anyir dan bau busuk
Mengusir segala dedemit yang datang merasuk
Meredam api dendam untuk merendah bertekuk?

Tuhan
Si Kamis malam
Menyetani jiwaku !!





Selasa, 17 April 2007

G A P

(untuk menghadang curigamu, teman!)

aku di sini
kau di sana

aku lihat kau
kau lihat aku
aku kenal kau
kau kenal aku
aku pedulikanmu
kau pedulikanku
tapi...
kapankah kita ketemu ??

waktu berjalan begitu kencang
lalui titian yang begitu panjang
ketika angin menyapunya senjang
tiang tiang bergoyang
pasak pasak terbang
taiklah dengan tali kasih sayang
yang kau sambung lalu kau putuskan di tangan
bagai mantra asing sering kau tembangkan
maaf! itu bukan doa, tapi sampah
kepercayaanmu,... juga sampah
yang racuni pikiranku kala aku lengah
dan di dadaku kini penuh serapah...
sumpah !!

aku disini
kau disana
aku tidak nampak kau
kau tak perlu lihat aku
aku belum mengenalmu
akh... untuk apa kau kenali ku ?

pompa jantungku adalah kepedulian
sedang kau ? Taiklah dengan kepedulian !
beda era beda peradaban
kamu di dunia
aku di neraka
masih mau jumpa ?

sekarang aku berlari
tak usah kau cari
kalau ada yang tanya nanti
bilang saja aku pergi
diujung merahnya mega aku menanti...


Minggu, 15 April 2007

RINDUKU BERDARAH



Ooh bejana..
karena kau aku tak tahan
jiwaku kering dan keriputan
jantungku menyedot kehampaan
haus darah sebuah perjumpaan
yang lama kehilangan sentuhan
dan terbakar api kerinduan

Ooh bejana..
aku mau muntah
terima semua serapah
semua rasa bernanah
walau tak satupun terlimpah
mendengarmu dadaku begah
sekarang beri aku darah...

Sudahlah bejana, katup mulutmu...
dari semua unsur yang kau cairkan
enzimku tak mampu menggurah
hormonku bereaksi pasrah
dari semua unsur yang kau suntikkan
saat ini aku hanya perlu sekantung darah
untuk menghilangkan jeda celah

Tahukah kau
kerinduan yang menyengat ini adalah cinta yang berjarak?
dan aku tak mampu merapatkan renggangnya
maka beri aku darah
atau kureguk itu ditubuh kalian yang tersisa



Selasa, 10 April 2007

Guratan 4




Dear Diar,

Selamat malam,
Tak habis kupikir dan kucatat fenomena, ternyata miring poros bumi memang bukan satu-satunya alasan perubahan cuaca. Alasan akurat lain adalah pengaruh lengkung samar malu-malu yang hilang timbul tersungging saat bertemu (Amboi, teduhnya itu!).
Dan sungguh berhasil dibuatnya, satu tempat sunyi di ruang dadaku, menjadi sedikit lebih hangat untuk beberapa waktu, hingga ada sesuatu yang terus bergerak berproses, memperlebar wilayah harap, .... sambil juga berharap sedikit-banyak terciprat pesonanya meski sedikit. Dan apakah kamu tahu apa yang terjadi saat ini, saat kamu tak ada disini ?

Oo, kasih !

Tahukah kamu, betapa berartinya kamu bagi diriku, dan semakin 'menggila' arti itu saat ini, kala kamu betul-betul tak akan pernah ada lagi disisiku selamanya... Kesadaran itu menguras habis seluruh rasa di ruang pengalaman bathinku... Ternyata, kamu terlalu ...terlalu berharga ! Aku tak dapat menguraikan sempurna keadaanku saat ini... Aku pun tak dapat bercerita dengan siapapun selain kamu... Mata mereka, respon mereka, sikap mereka ...akh ! sungguh aku tak bisa menerimanya ... serasa aku ingin membakar dunia ! Aku sadari sekarang... aku betul-betul sendiri... tiada teman, tiada sahabat, tak ada saudara, tak ada Bunda...bahkan Tuhanpun seakan enggan berbincang, menerima segala keluh kesah !!

Sejujurnya saat menulis surat ini pun aku sedang gemetar. Kurasa getaran bathinku ini mencari muaranya di permukaan fisik. Apalagi tepat sore tadi kala mandi (hampir serupa dengan mandi-mandi di waktu lainnya), air pancuran itu telah mengusapku selembut kamu, sehingga walau mandi usai, percik airnya menggelegakkan dada dan terus mengalir ke mata dan hatiku,...sekumpulan meteorit menghujam ke wajah bumi pujaanmu ini !
Aku kritis, stadium ujung !! Siapa yang tahu ?
Tolonglah aku !!!

Siapa pula yang berani berbuat onar, memporakporanda dan meresahkan seluruh penghuni di rongga dadaku ?? Tiada sesuatupun yang masih utuh rapih di tempatnya !!

Akh.., sudah lah,. sudah dulu ya !!
Ampunkan aku kalau
surat ini harus berhenti di titik nadir kegelisahan. Aku hendak mencari pertanggungjawaban!


Salam paling indah, baik-baiklah kau di sana.
-.Swamimoe.-

Kamis, 05 April 2007

MERADANG RINDUKU

Hari ini kelabu
waktu berjalan tak tentu
atau justru berhenti membatu

Rindu ku padamu memuncak
tak mampu ku elak
walau sejenak

aku tersesak
ia meringsek mendesak
mengoyak selaput tatakramaku
satu demi satu

aku tak dapat lagi menunggu
pencarianku tak mengenal waktu
walau terlepas dan telanjang kulitku
ia terus meradang
hingga jadi tulang

kini aku sekarat
jiwaku di kerat
menahan ledak dadaku tak kuat
ia butuh saluran untuk muncrat

Rabu, 28 Maret 2007

Guratan 3



Dear Diar...

Selamat malam, sayang.

Ingin ku sampaikan rahasia angin, sayang ! Di sini sedang terjadi gejala alam. Sepintas kutaksir cuma sekedar kebetulan-kebetulan nyaris sempurna, tapi sebegitu hebatnya hingga tiada ingin kutolak ataupun kuingkari, melainkan kukelola dan kupagari.

Nah, apa kau mengerti maksudku sekarang ? Tadinya, kupikir semua itu akibat dari geseran-geseran ukuran tatanan nilai ku sendiri


Apabila musim itu datang, ...dan aku disibukkan oleh keletihan-keletihan membosankan, tetap kuharapkan bisa menggairahkan diriku, sekaligus belajar membebaskan diri dari cemas perubahan dan kehilangan, menurunkan kadar ketakutan-ketakutan berlebih tentang kerinduan terhadapmu, ... walau suatu saat nanti masih ku yakini hal itu pasti akan hancur binasa kembali.... Inilah yang kupelajari dari perjalanan hidup kita, sayang !...dan sejuta maaf ku sampaikan lagi padamu atas pikiran ku yang begitu “lancang” ini. Tapi tetap harus ku ‘manipulasi’ untuk terus bertahan melanjutkan keinginanmu... menyelesaikan semua yang tersisa...

Sesungguhnya saat ini aku tengah remuk redam. Cara mencuci dan memasak yang kau ajari di penghujung perjumpaan itu membuat aku kembali menggila !. Tapi seperti saranmu, tetap kukurung diriku agar tiada siapapun tahu... sudah tiga hari ini aku tak keluar, tak bertemu siapapun selain yang berkunjung ke bilik kita. Itu tak mungkin aku singkirkan, bukan ? Maafkan jika aku masih tetap ekspresif... kamu sangat tahu tentang itu (jadi kalau info itu bocor terbaca mereka, itu karena watakku).

Teh,...

Kini, aku hanya mau mengumpulkan asa untuk mencukupkan syarat perjumpaan, ...memacu energi untuk berefleksi bagai prisma, dan dari kejauhan ku teriakan lantang sinyal tanda-tandaku; ”Kekasihmu ini telah siaga penuh melepas kefanaan !“. Dan, aku tak akan sibuk lagi mencari penawar, sebab mungkin yang ku tahu... inilah kita... walau aku begitu nakal, kepolosan kita bukan cinta sekedar tapi cinta sebenar. Cinta sunyi tak terdengar !


teramat sangat rindu,
-.Swamimoe.-

Kamis, 22 Maret 2007

AKU YANG TAKUT



Wahai Tuhan Pemeliharaku,
ampuni bodohku dan tidak mengertiku,
yang juga kau anugerahi padaku...
Tak ingin ku sangkal
apalagi menolak pemberianmu,
karena seharusnya ku syukuri..

Sungguh
aku takut tiada tara
kepadaMu Tuhan,
dibanding hantu manapun yang paling menakutkan.

Memandang hebatMu hatiku jeri setiap waktu.
DidepanMu aku tak punya nyali dan jalu,
hingga aku ingin pergi dan hindarMu sedapat mungkin..
Tapi apa mungkin ?

Kaulah momok misterius menyeramkan itu.
Kata-kataMu sangat mandraguna sakti,
gemuruh yang menguncangkan seluruh sendi-sendi !
Apa saja yang kau mau,
kau kehendaki pasti jadi dan terjadi,
sempurna tanpa cela,
tanpa kekurangan tanpa selisih.

Tuhan Misteriusku,
bodohku selalu saja terjadi.
Sekali sekala Kau ampuni,
mungkin sambil tertawa geli
atas segala perilaku janggalku.

Tetapi sekali waktu mengusik murkaMu,
aku hancur luluh didalam azabMu berkali-kali...

Ooo Sang Penguasa Tunggalku,
tiada siapapun makhluk bisa memastikan kehendakmu,
sehingga bodohku memahami kepastian adalah juga kehendakmu.

Kehendak yang dingin tanpa ingin,
kehendak yang mapan tanpa harapan.
KehendakMu adalah kapan saja Kau mau tak bergantung ruang,
tak terikat waktu.
Yang ada adalah KEHENDAK.

Tuhan penjagaku Sang Maha Merawat.
Saat ini, setelah sekian kali aku tersesat
dan hanya Engkau lah penyelamat, hanya...!
Dan aku sedang hancur berkali-kali dalam azabMu.
Teramat pedih dan aku tak pernah mampu,
bertahan jika hanya Kau yang ‘memberikan’
aku telah hancur dan menjadi kembali
untuk hancur dan menjadi lagi
ini lah janji Mu, kata-kata kehendakMu.

Oooh Sang Guru Yang Maha Tahu
setelah ku tau
hati adalah ragu
yang ku punya hanya nafsu
yang betul ini palsu
yang kuat itu luruh
yang keras itu rapuh
yang bersih itu kumuh
yang rapih itu lusuh
ajari aku pengetahuan itu,
bukan berhenti di ayat atau mantera
bukan berhenti di doa atau jampi

Engkaulah yang sebenarnya guru
dan keyakinanku ada di ragu

Jika Keadilan adalah harga
budi adalah siasat
rendah hati itu kelemahan
sopan santun adalah ketakutan
kesetiaan itu penyembahan
maka semua itu fitrah mahluk kepadaMu
kepada Sang Penciptanya
dan bukan kepada sesama makhluk

Wahai Tuhan yang ku takuti
aku tersesatkan oleh pemimpin-pemimpin manusia,
guru-guru manusia,
kiyai-kiyai manusia,
pendekar-pendekar manusia,
para cerdik pandai manusia,
ketua-ketua perkumpulan manusia,
penakluk-penakluk manusia,
penjajah-penjajah manusia,
perampok-perampok manusia,
pemerkosa-pemerkosa manusia,
dan penjahat-penjahat manusia,
yang menghalang-halangi kemampuan manusia-manusia lain
menjadi seperti mereka.

Yang budayanya hasut dan fitnah
Kemenangan itu kebenaran
Kekalahan itu dosa
Dosa itu pelajaran
Yang kuat itu pemimpin
Licik itu cerdik
Pandai itu mampu membuat
Untung adalah mendapat lebih dari yang seharusnya
Rugi adalah kesiasiaan pekerjaan tanpa pamrih
Kejahatan adalah pengekangan keinginan mayoritas
Kebaikan adalah pengumpulan kenikmatan tanpa batas
hukumMu mengazab para pengikut selainMu.

Ampuni aku Tuhan,
andai selama ini akupun takut kepada selainMu,
setia,
santun,
bahkan merendahkan suara kepada selainMu.

Aku tak mengerti jika Kau begitu pecemburu.

Senin, 19 Maret 2007

Guratan 2. Tahukah Kamu ?




Dear Diar,

Selamat malam, sayang.
Tahukah kamu, bahwa hingga kini aku tetap tak mampu menepis kesedihan dan rasa gusar atas kepergianmu ? Bagai kanak-kanak yang selalu ingin mengikuti bundanya berjalan dan ...terus mengamuk bila ditinggalkan. Untuk itu maafkanlah aku, dan jangan sampai keisenganku ini menyusahkanmu...


Sebab...aku ingin mengaku....
hanya seorang di antara sekian yang mampu melelehkan gumpalan kalimat kenyal nyaris kaku. Itu adalah kamu, sayang ! Yang berkali-kali berhasil meyakinkan bahwa keluhuran keyakinan kita selalu ada didalam kenyataan sesaat sebelum semua nilai-nilainya kuanggap sebagai dogma mistik nonsens absolut, dan menggiring enejiku menjadi pragmatis-materialistik yang atheistik. Kamu juga selalu berhasil mematangkan jerawat batu dan membuatnya meletus tepat sebelum semua obat mujarab kuvonis palsu, yang tak pernah gagal membuat gatal, menyuburkan candu, dan menciptakan keengganan-keenggananku untuk segera menjadi normal.

Bagaimana keadaanmu sekarang? Adakah lebih baik?

Tentang rumah barumu itu. Kubaca isyarat-isyaratmu mengutuki pagar-pagar maya yang menempurungi kita. Tahukah kamu, betapa di sini aku pun sedang dibuat gila olehnya ?


Sungguh, ...kau percaya itu ? Bahkan malah oleh pagar-pagar maya itu, sesekali waktu aku berfikir untuk menembusnya, seperti filem-filem yang mengisahkan seorang aktor yang berhasil melarikan diri menembus rintangan dan penjagaan penjara alkatraz. Bagaimana mungkin aku menyerah ?? Rasanya, ... sepatutnya aku dapat mematahkan ketatnya pengawasan laskar Lima Inderawi dan menyandera yang ke Enam. Lalu menaklukan kerumitan rintangan dinding-dinding jeruji tulang, daging dan kulit ini, walaupun mereka diperkuat laskar otot dan urat, serta sensor di batas pagar kulit yang begitu sensitif.


Hanya aku betul-betul buta keberadaanmu, teh. Maut menyanderamu di lokasi yang begitu misteri. Beri aku kordinatnya... akan ku susul dan ku bebaskan kamu, sayang !! Hampir-hampir frustasi aku membaca sandi-sandi di lembaran kitab-kitab suci, bertanya pada para mpu-duniya dan para begawan ghita, yang semua nyaris ku caci sebagai penipu, hanya karena tak ku peroleh ‘jawab’nya.


Lucu !


Sejauh renggang jarak ini, kita masih dikutuk dengan banyak persamaan, kenangan terindah yang selalu menyayat jantungku, kesedihan abadi !... dan tentu saja “pengertianmu” yang teramat-sangat istimewa bagi ku. Hal yang mungkin akan selalu menjadi tanda yang terus lekat di kening kita. Hantu sejati ! ...



-.Swamimoe.-

NB: Tentang pagar-pagar itu,
kadang kupikir apa pula hak mereka membuat kita menjadi semakin gila?

Rabu, 14 Maret 2007

SERUAN HATI



Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah
Subhanallah, Subhanallah,
Allahu Akbar,

Ya Allah, lihatlah diriku sekarang ini
tataplah
aku ingin di dekatmu saat ini
saat sendiri saat tiada yang temani

Tuhan,
pikirku mbludak
rasaku muncrat

aku ingin tumpahkan seluruh pikiran dan perasaanku padaMu

Andai Kau di ketinggian, turunlah
andai Kau di kejauhan, mendekatlah..
andai Kau di kedalaman, keluarlah..
datanglah ke samping, ke depan, atau ke dalam lubuk hatiku
biar aku rasakan hadirMu..
sungguh aku ingin di sisiMU, dan bicara
hamba si lemah bodoh yang berdosa ini ingin mengadu
ingin bertanya, ingin memohon sesuatu dariMu..

Lihatlah keadaanku
bathinku, perasaanku, pikiranku
ku kira sakitku sudah di ambangnya,
dan aku tak akan merasanya lagi
tapi saat ini,
aku tidak punya alasan
kenapa aku merasa lebih dahsyat ?
kelirulah aku mengira ini ujian
ini bukan cobaan..ya Rabb
tapi hukuman
banyaklah kesalahanku yang belum terbayar!

Ya Allah,
pandanglah aku
andainya memang aku harus merasakannya lagi,
maka biar aku rasakan semua saat ini
lipat-gandakanlah kenyeriannya berjuta kali
berikan semua ganjarannya saat ini
dan biarkan aku rasakan, sampai ke puncak

Tumpahkanlah airmataku
sampai kering dan tak bisa keluar lagi,
ledakkanlah jeritanku
sampai sunyi tak terdengar lagi
walau aku tak
kan mampu memikul menanggung
biarlah aku merasa rasa sakit yang paling tinggi
yang bisa Kau berikan kali ini
sampai dosa-dosaku terbalas
sampai semua kesalahanku termaafkan,
hukum aku dengan perasaan ini !

Dan setelah airmata terkuras habis,
setelah kenyerian yang menguliti sudah kurasai
puncakkanlah, sudahi rasa sakit ini, akhirilah..
setelah itu jangan biarkan aku rasakan lagi,
biarkan tenangMu menyelimuti

Tatap diriku Tuhan
berbulan ku rasakan kelemahan ini
nyeri, perih dan tersakiti
tetapi
aku percaya kepadaMu..

Kau Tuhan seluruh makhluk dan semesta alam
yang ciptakan manusia dengan seluruh perasaannya..
maka tunjukkan kebenaranMu, ya Tuhan
yang benar itu adalah benar dan bukan sebuah kebetulan
hidayahilah aku kepahaman ilmuMu Ya Allah.
agar aku membenarkan kebenaranMu
dan memihak kepadanya dalam jalanku

Setelah semua yang aku lakukan,
sekarang ku serahkan padaMu,
meyakiniMu adalah keinginanku
Engkau lah yang ku maksud
Ridho Mu lah yang ku cari
Cinta Mu lah yang ku tuju
Engkaulah yang penuh
Engkaulah yang seluruh

Sudah, aku tak perlu
tak lagi ku cari pahalaku
tak kuimpikan lagi SurgaMu

Jadilah kehendakMu
Engkaulah kehendakku

Ya Allah Gusti...
Aku ikut Engkau
Jemput aku
Ajak aku
Sertakan aku !!!

Senin, 12 Maret 2007

JEJAK HIDUPKU




jauh jarakku merangkai hati
menghantar bunga kesana sini
bukan senyuman yang ku cari
atau kata manis peredam emosi

diluar,
tak ku tahu ujungya lagi
pertarungan masih sengit beraksi
sahdan musim bunga silih berganti
tak henti hingga warna bulan pucat pasi
walau seiring berjuta langkah pasti
tapi kakiku cuma menjejak tanah mati

Sukmaku pergi, berjalan atau berlari
mengembara mencari arasy istana nurani
walau hatiku digaduh geliat sunyi
sendiri atau entah dengan sesiapa lagi
aku tak perduli !!

(kuharap ada jawabnya dibalik labirinmu)

Jumat, 09 Maret 2007

Guratan 01

Dear Diar...

Selamat malam, sayang.

Maafkan bila goresan pena Masmu ini mengganggu tenangnya istirahat mu saat ini. Betapa egonya aku, mengganggumu untuk selesaikan masalahku, apapun itu. Tapi semua hal itu selalu mengait dengan kamu. Hingga kini aku masih tetap gelisah dengan kekhawatiran yang terbungkus dalam segulung kerinduan yang tak berkesudahan. Aku mulai menduga ini sebagai fenomena. Apakah ini bukan tanda-tanda yang kamu sampaikan ? Seperti juga aku yang selalu mecari celah yang mungkin dapat ‘mengintip’ informasi tentangmu, tentu kamu akan jauh lebih intens mengais celah itu, celah yang menghubungkan jarak kita. Celah untuk menyampaikan keadaanmu atau mengucapkan salam terakhirmu, seperti biasa kita lakukan untuk membunuh risau.


Sayang, I know you ‘damned’ well. Betapa sabarmu yang tiada henti mewujudkan itikad tanpa kehilangan ‘penyerahan diri’ atas segala keterbatasan. Perjuangan menghadang selusur sakit dan kepasrahan kesabaran menerima itu semua telah menguncangkan aku, manakala nilai-nilai itu akhirnya mewujud dalam bingkai utopia. Adakah kamu tahu, pelajaran apa yang diakibatkannya ? Tentu, karena selalu kamu kuatkan aku dari keraguan nilai-nilai itu. Bahwa tak akan luput dari penilaian Sang Evaluator Tunggal. Sedangkan manusia hanyalah evaluator cibir yang menggincu bibir. “Bertahanlah mas, dan kita akan semakin kuat !”, ujarmu sekali waktu ketika mengingatkanku. Lalu senyummu itu bergulir begitu sejuk (Amboi..!), meredam dendam yang ledakan merah di dadaku.


Neng,

Ketika semua orang berlalu dan berangsur-angsur menghapus bayang mu dengan begitu cepat. Aku tidak. Semakin ku coba untuk me’wajar’kan kepergianmu, semakin mengganggu kepercayaanku. Menghadirkan ketidak mengertianku atas segala sesuatu. Bertanya adalah pekerjaan sia-sia yang menyiksa...! Suatu ketika kucoba sampaikan kegusaran ini kepada Ibunda, dan ia memandangku menjadi begitu aneh dan sedih. Apalagi ketika dengan Mama yang pragmatis autoritarian, atau Pakcik yang sering tampak menjadi hedonis tapi mistikus religius itu, pasti kamu sudah mengira hasilnya. Aku harus membekali diri dengan beberapa lapis ‘baju’ kesadaran hati untuk siap menjadi 'tertawaan' our society ... Tampaknya hanya ‘selusur meniti-cari’ adalah jalan yang layak tempuh bagiku.


Jadi, maafkan lah masmu ini yang tak cukup pandai membaca sandi-sandi bahasamu, tapi rasa sepi, asing dan ketakutan itu telah kurasakan. Lamanya proses aku memahami ‘pesan’ itu membuat aku begitu khawatir. Kekhawatiran berlebihan sehingga membuat aku menjadi begitu paranoid. Was-was dan masgul yang begitu menakutkan dan selalu membawaku memikirkan keadaanmu. Sungguh, kerinduanku kepadamu menuntut kepastian !! Kepastian tetang keadaanmu sehingga segera ku mencari apa dan bagaimana cara yang harus ku lakukan untuk melunainya mengirimkan ‘sesuatu’ yang bermanfaat bagimu saat ini dan kelak.


Aku tak diizinkan menyertai dan menemanimu melakukan pengembaraan misteri itu kini. Aku masih menanti dalam antrian sederetan giliran panggilan, seperti yang direncanakan olehNya. Bila kesempatan itu tiba, ku tanggalkan pakaian fana ini, berlari menyusulmu sesegera mungkin dan ikut mengurai ‘misteri kelam’ itu bersama menuju hakikat. Nantikanlah aku....



Aku yg mencarimu,
-.Swamimoe.-

Selasa, 06 Maret 2007

DIRENDAM RINDU


Kekasih, rinduku tak terperi
Ku habiskan waktu mencarimu sendiri
menggapai keadaanmu yang tak kunjung pasti
kemana ku harus pergi ?

Selama matahari masih berseri
dan cahayanya tercurah ke bumi
hm, selama itu pula
kerinduanku tak pernah henti

Walau matahari tenggelam dipeluk malam,
dan dunia bersembunyi dibalik kelam,
kerinduan ini tak jua dapat diredam,
bagai warna bulan baranya dalam sekam
apinya tak kunjung padam

Selama semangatku terjaga,
dukaku terpelihara di tempatnya,
dan rinduku tak akan pernah sirna
bagai bunga yang sedang mekar
ia membuka kelopaknya.

Rinduku tak jua terobati ketika kucoba
pasrah untuk mampu ‘menjadi’,
walau sekadar sebatang lilin kecil,
yang nyala kecilnya siap
tembusi gelapnya lorong-lorong jiwa.

Walau cemeti Sang Waktu menderaku,
jiwaku tak lengah mengenangmu,
sampai ku tersungkur di tanah mati.

Bagiku kerinduan ini
bukan sekadar jadi mimpi !





Minggu, 04 Maret 2007

E N T A H


Entah
kenapa aku ingin luahkan
kesesakan yang seharusnya kusimpan
kuletakan didasar hati yang paling dalam
agar terjaga segala kerahasiaan
untuknya, hadiah diujung kehidupan

Entah,
dari mana aku mulai cerita
agar kau mengerti apa yang ada
sementara ia tersimpan di rasa
dan kau tak pernah menikmatinya

Entah,
bagaimana aku harus bicara
ada sesuatu yang hilang di rongga dada
seperti dicerabut pecah ia dicurinya
dan karena hampa,
semua segala dihisap menempatinya
penuh, tumpah ruah
dan aku tak sanggup menutup pintu lukanya

Entah,
ada dimana letaknya
telaga yang dijanjikan menghilangkan dahaga
serasa ia hanya dongeng semata
sementara alam sembunyikan tandanya
dan sesiapa pun hanya kelu terdiam

Entah,
pada siapa aku mengadu
suara hati dan akal ku tak lagi padu
ketika ku urai limpahan kata di dalam doa
Tuhan tak jua bersabda
Ia hanya diam dan menyimpan rahasia
permainan ini belum lagi usai
masih berjuta ruh menjuntai
tempat jiwaku menggapai

Entah Tuhan,
kemana kini aku harus mengacu selainMu
hidup masih memaksaku berpacu
dalam adu kehendak denganMu
kepercayaan ini tak lagi kuyakini
ku pilih pihakMu bukan karena janji,

tapi kenapa

Kau lekatkan masa depan ku ke masa lalu?


Rabu, 28 Februari 2007

AMPUNI AKU TUHAN

28 Februari 2007

Ampuni aku Tuhan
di dada ini ada segumpal kalimat
yang segera ingin ku buat tamat
karena baranya ia siap melumat
setiap tanda tanda kiamat


Ampuni aku Tuhan
atas perbincangan yang tiada hormat
setiap cetusan niat begitu saja loncat
walau kesadaran selalu datang terlambat
mengekang nurani itu tetap laknat
dan jiwaku menapak di jejak sesat


Kala aku lelah di perjalanan malam
dan hawa peluh ku meracuni ladang
sekejap saja terang cahayaMu hilang
temaram lampu jalan
merangsang nafsuku jalang


Berpuluh wajah datang bergiliran
dan berpuluh jasa ditawarkan
iba, kasihan dan hiburan
semua tampak bagai pajangan dan hiasan
dan hilang ketika cahayaMu datang


Ampuni aku Tuhan
kekeliruanku di pelbagai ujian
mengantar aku di tiang hukuman
yang mengingatkan juga melupakan
bahwa diri fana ini
bukan apa apa
di sosok mu yang Ada
ternyata aku tiada
hanya bayang-bayang Ada


Ampuni aku Tuhan
di dada ini terselip satu kalimat
yang selalu melekat
walau tak selalu dapat ku ingat
baranya begitu keramat
membangun tanda-tanda kiamat




Minggu, 25 Februari 2007

S E K E R A T R I N D U


derat detik berdetak kaku
cengkeram hasratku temanimu
meski rasa susah
sungguh mengerat tubuhku
namun hempasan
lepasnya kebersamaan itu
memenjarai langkah jiwaku


walau jasad tak sanggup meregang
dan bergerak kehadapanmu
tapi hati dan pikiranku
tak geming meninggalkanmu
ia senantiasa dampingi kamu




Senin, 19 Februari 2007

S E S A L


Aku sungguh laknat
tak ada yang ku buat
hingga kau sekarat

Kuwalat !
dasar otak karat
isinya pun pikiran bejat
maka jiwanya penakut bangsat !

Mentah-mentah aku ditipu
tapi aku malah tersipu
seakan masih malu
kalau aku mesti mengaku

Akh.. masih juga minta bukti
buat cerita cari alibi
pantasnya aku mati
punya tubuh tanpa pribadi
punya diri tanpa hati
punya jiwa tanpa nurani
hah sudahlah …!
ingin kusuruh ruh ku pergi

melupa walau sesaat
hantar aku ke jalan sesat
ajang budi yang berkeringat
tenggelam dilaut penat

Minggu, 04 Februari 2007

RASA TAK GUNA











Aku si lemah, ringkih dan dungu ini
benar-benar tidak berguna, ya Tuhan
dan kini aku merasa tak berharga

Maafkan aku, Teh
aku sungguh tak guna
mengawiniku jadi bencana bagimu
hancur beribu peluang kebahagiaan,
menjaga mu arungi kehidupan pun
ternyata aku tak punya daya tahan

Maafkan aku Bunda
anakmu ini mengecewakan
kelahiranku mengundang kesedihan
hanguskan bagian-bagian kejayaan,
membangun harapan dan impian
pun aku tak punya kemampuan

Maafkan aku Dinda
aku sungguh tak guna
kehadiranku adalah kesedihan bagimu
halangan asamu matang berkembang,
“perusak kerja yang belum usai”
sebab mengayomi dan memandu kedewasaan
akhirnya aku tak jua menjadi teladan

Maafkan aku Mamanda
aku sungguh tak berharga
akulah tanaman liar benalu hidupmu
tak patut menumpu budi yang kau tanam
nanti dengan geram kau berkata
“dasar ular tedung tua,
disayang kau mematuk tuan”
aku tak
kan sanggup membalaskan


Maafkan aku sahabat
tak layak aku kau jadikan teman
olok-olok mu diwaktu senggangpun jauh lebih pantas
“ah pecundang ! Ia pencuri kecil peluang-peluang kita”
sebab sikap hidup dan kejujuran yang kutawarkan
akhirnya tak
kan pernah ada dalam kenyataan

Sumpah ! Maafkan aku
Bangsat sombong bodoh ini
sudah sungguh tak guna
lalat tong sampah depan rumahmu
jauh lebih ada harga

Sungguh mampus maafkan aku
aku tak punya taji tuk membelamu
bahkan aku tak punya nyali
untuk hidup atau mati

Ampun ya Allah, Ampun…
makhluk congkak pongah ini
terlalu dungu untuk mengerti
terlalu malas untuk mencari
terlalu lambat untuk berbakti
jangan lagi Engkau banding
sebab debu kotoran sapi
yang terbang kesana kemari
jauh lebih berarti !!!

Ampun ya Rabb
kini aku tidak perduli
aku hanya ingin cintaMu yang kau bagi
karena bagiku
surga atau neraka tak guna lagi
jasad tubuh ini tak guna lagi
membaca dan bacaanya pun tak guna lagi
tak guna lagi….

Senin, 22 Januari 2007

R I N D U










melupakanmu serasa aku dihujam sangsi
tapi mengenangmu aku dipagut kerinduan


mencoba mengabaikanmu aku disengat sepi
sedang mengingatmu aku dipeluk kesedihan


cintaku padamu melekat di nafasku
mengalir deras di darah-darahku
basuh dan basahi pori-pori


dalam rindu teramat sangat
dalam sepi yang menyengat
detak detik waktuku berkeringat
lekat pada sosok mu yang ku ingat
ruh ku pun habis semangat
setelah hilang itu hangat


Kini ku di cekam kerinduan
dahaga ku padamu tak kunjung padam

Aku hanya ingin sebuah pertemuan






Senin, 15 Januari 2007

TERPURUK


kini aku tak berdaya
karena semua rencana adalah hampa
semua jadi angan kosong belaka
dan segala upaya adalah kerja sia-sia

kini aku sendirian
jiwa yang rindu ini kesepian
berlari terengah temukan pasangan
yang kudapati kisah-kisah bayangan

kini ku merasa sangat bersalah
merajut kekhilafan tak kenal lelah
terjebak dalam pikiran yang berkilah
dan kenyataan itu sebenarnya terbelah

kini aku merasa tak berarti
kehendakMu pun yang pasti
masih jua ku tak mengerti
tapi jangan terlantarkan ruang hati
dalam keraguan yang tergerogoti

jika waktu ku sampai nanti
berikan kesempatan ku tuk berarti
lalu siapkan aku menyambut mati
karena kekasih tengah menanti
aku akan bergegas pergi tanpa henti

wahai musuh sejati
kini aku sungguh tak perduli
walau badai mendera memukuli
jiwaku tak
kan mampu kau beli
sampai jadi bangkai, barangkali
tetap ku dekap kubungkus hati

Senin, 01 Januari 2007

KEHILANGAN SENYUMMU



Senyum itu memang jarang hilang,
pun tak bawa makna berbilang-bilang...

kala ia datang ramai orang bertandang
kala pergi tiada orang yang berdendang
walau seribu rangkaian kata tercurah...
tak akan habis bingkisan kisah
hingga jiwaku luluh tumpah
tapi
mengapa tak satupun salam sampai tanda pisah?

bila satu waktu aku datang dengan tanya...
kurasa dilangit kau gantungkan jawabnya

senyum itu memang jarang hilang
tapi sumpah,
kini jiwaku sangat kehilangan



Rabu, 20 Desember 2006

DUA PURNAMA




Dua purnama berlalu kamu terpaksa pergi
ku lepas di pintu singgasana Ilahi Rabbi
tulus ku coba melepas semua jemari
dari tanganku yang dulu kau genggam erat
tak pernah kau lepas walau sesaat


Masih ku ingat senyum yang tak pernah berpaling
dan perhatian kasihmu metatap diujung kerling
biarpun hidup mendera dan aku menyiksa
utuh cintamu tak pernah melepaskan asa


Dua purnama sudah kau ku kenang
dari perjuangan panjang
tak satupun sisa yang hilang


Kegigihan melawan segala sakit
sabar menanti di peluang sempit
dan kuasa doa yang begitu rumit
menjadi jerih kemenangan,
kau menangi pertarungan !
tapi…
bergulat dengan maut hanya menunda kalah
bagai pencuri ia mengendap kala kita lelah


Aku Ikhlas…Ya Allah
mengingat aku berencana, Engkau berkehendak
Aku Ikhlas…
mengingat segala upaya dan kesedihan
mustahil kembalikan yang hilang
Aku Ikhlas dengan sempurnanya rencanaMu


Biarlah parau zikirku melantun penuh harap
jalanmu lapang dan lapanglah dadaku…
istirahatmu tenang dan tenanglah jiwaku…
dan pergilah dengan damai maka damaikan hatiku…
Aku Ikhlas…


Dua purnama ku tahan isak, membendung airmata
demi menjual citra di mata dunia dimata sesama
ku jaga harga sebuah tata krama
Tapi buat apa ?
Saat ini, jasad tubuh ini tidak milik siapa-siapa !
aku jasad seonggok daging tanpa tulang


Dua purnama sudah berlaku
Sungguh, maafkan aku …
jika tak mampu mengekang rindu
yang menusuk jauh di kedalaman kalbu
yang memastikan jurang antara kau dan aku
ternyata terus melebar bersama waktu

Semakin lebar ia semakin dalam di kegelapan
rinduku pada mu begitu menghujam
Aku ingin segera pulang
gelisah yang tak mengenal lelah rebah di badan
dua purnama berkelana diantara ruang-ruang jiran,
lorong-lorong jiran, kota-kota jiran, negeri-negeri jiran….
Aah ! … ternyata aku hanya singgah bertandang
ketika terlepas jiwaku ku tak ingat jalan pulang
ku cari ke kiri ataupun ke kanan
kutemukan titian berjenjang dan
kudapati jalan lereng dan menjulang
singgah di tiap titian
berteduh di pepohonan rindang
meneguk air di pancuran
tetap tak dapat kurasakan pulang


kamu adalah lirih suara rindu dikejauhan
dentingan bunyi yang bernyanyi di telingaku
desah nafas yang bermain di tarikan paru-paruku
kilasan cahaya yang membayang di retina mataku
kelembutan semilir bayu yang menyentuh kulitku
kesejukan beningnya air yang membasuh jasadku
udara yang menjadi oksigen dalam darah ku
gumpalan asa yang menjadi masa depan ku
dan peristirahatan kepenatan ke-tua-an ku
kamu tetap suara rindu dikejauhan


Ku cari peristirahatan hari-hariku
dari gubuk ke gubuk hingga ke gedung-gedung
di tepian hutan tempat kau bersenda dan taman mutiara,
di keheningan taman setia dan hentian duta ria
di lintasan cisadane, kampung rambutan,
di rerimbunan ciganjur dan kenangan bantarjati
di kenyamanan gugus pondokan jatimulya dan gunung kawi
Aku lintasi batas
kota ku jejaki semua tanah
Alor Setar,
Kuala Lumpur, Jakarta, Bogor,
Bandung
, Tasik Malaya, Semarang, hingga Yogyakarta,
Surabaya
, Malang, hingga tanah pekuburan mu…

Sayang, di kamu ku sadari rumah ku
Kamu adalah rumah ku

Rabu, 25 Oktober 2006

MAUT MENCURINYA DARIKU



ketika maut mencurinya dari ku,

tiada sesuatu yang bisa membantu...

hingga menggelegar halilintar menaburkan makna

yang dihujankan dari dilangit,



kau adalah maut yang menghianati aku

menikamkan buluh dari belakang jantungku...

tak kusangka kau larikan kekasihku



kau maut yang mengurang-ajari aku,

membunuh harapan yang dibina dari debu

tak kusadari kau curi belahan-jiwaku

dan meninggalkan sosokku

tanpa sedikit dayapun yang tersisa...



sungguh ... ketika maut mencurinya dariku

tahukah kau,

kehilangannya berarti mengusir 1000 ekor kuda

yang menghela asa dan cinta

membina keindahan pertemuan yang tengah kita nantikan ?



tapi, kau merampasnya dari ku,
dan betul-betul merampasnya
terlalu....
sungguh-sungguh terlalu....


setelah maut mencurinya dariku
pasrah kuberharap sisakan sedikit pribadiku
sedikit harapanku sedikit cintaku
dan tinggalkan segudang kenangan sangat indah
bersama kepedihan

.....

...

.

Sabtu, 21 Oktober 2006

BERBARINGLAH



Sayang, disinilah tempat tidur barumu
berbaringlah

Isteriku, sayangku, kekasihku
teman karibku, sahabat terbaikku
bidadariku, dewiku, malaikatku
Sungguh,
engkaulah malaikat
yang dititipkan Tuhan padaku

Tak kuasa kusampaikan hanya dengan kata
manis budi dan luasnya cintamu
gemerlap bagai dongeng dan hikayat
tak pernah terkerat oleh waktu
Terima kasih Isteriku
Tak terhingga terimakasih ku

Setelah bertahun kau selalu tidur disisiku
lelah dirimu mengarungi bahtera kehidupanku
Berbaringlah dengan penuh ketenangan
karena sesungguhnya kau tak tergantikan,
tak tergantikan
Semoga peraduan barumu
memberikan kedamaian padamu


Ya Allah …
Berikan kekasihku keamanan kenyamananMu
Berikan isteriku kenikmatan kebahagiaanMu
dan segala yang tak dapat ia peroleh dariku
Disisi Allah akan kau peroleh semua itu


Kekasih…
Kalau nanti petang menjelang
dan usiaku di batas pematang
Nantikan aku di pintu kematian