Kamis, 30 Oktober 2008

B I M B A N G




Penggal akhir Oktober 2008.

Malam dingin basah diguyur rinai hujan

Semilir angin buta mencuri usap di kening dan kuduk

mengusik galau gundah yang gelisah menggapai pukau

dan diriku kian lelah diterjang ragu...


Kepada kekasih yang menatap di kegelapan dan tenggelam di kemisterian. Waktu terus berjalan menuntun langkah yang memberangsang suasana-suasana yang tak ku tahu. Begitu banyak harapan terhampar tanpa kesempatan untuk memilah fikir. Membiarkan aku memilih tanpa kebenaran memperolehinya. Menentukan arah di setiap persimpangan yang dilewati, menentukan pintu atau lorong yang mungkin memberikan keberartian. Aku hanya dibuai terbang melantuni semua itu tanpa boleh tidur dan beristirahat. Saat ini, aku sunguh lelah tanpa mengerti, lemah tanpa merasai. Seperti pelita yang meredup kehabisan minyaknya, sebelum sempat menerangi seluruh barisan huruf-huruf di sudut-sudut lembar buku kecilku. Buku kehidupanku.


Kepada Tuhan yang menatap di Ketakterbatasan, …andai saja Kau iseng rencanakan aku harus berhenti di ragu, ...untuk apa ku Kau jalankan di keyakinan semu ? Kalau memang harus berakhir di dahaga tak berkesudahan, untuk apa ku Kau mulaikan dengan bergalon tegukan kemurnian cairan fatamorgana ? Kalau ujungnya adalah dilanda kesesakan amarah dan kebencian, untuk apa harus diawali dengan tebaran butiran cinta yang menggelinding memenuhi taman ? Dan kalau akhirnya Kau biarkan aku terlantar di kedunguan dunia, mengapa begitu tergesa-gesanya semangat alam memancing pengetahuan, mengusir kebodohan di awal perjumpaan...?


Buat apa ?


Sampai kini aku tak melihat adanya perbedaan atau pun kesamaan dalam perdebatan diantara pendapat-pendapat manusia. Mudarat dan manfaat hanyalah anggapan dari cara menatap, karena kita hanya asyik membandingkan kamu dengan dirimu... Membandingkan hasil dari “dua tambah satu” dengan “lima kurang dua”...itu saja.....!


Wahai keajaiban hakiki, yang memandang hidup hanya permainan belaka..., rinduku membakar kejemuanku hingga merakit sarat pesona derita. Mengembangkan inginku untuk segera mengakhiri dan berhenti di penghujung mati. Walaupun kutahu tiada hak dan kewenanganku untuk tentukan waktu, mengingat rencanaMulah yang senantiasa berlaku. Aku hanya berhenti di keinginan. Semata hanya berkeinginan.. Maka sempatkanlah memederkakan keinginan itu.

Sempatkanlah memederkakan keinginan itu.....!!




Minggu, 27 Juli 2008

Guratan 19 : T E R P A S U N G

Selamat Malam, kekasih


Kembali beribu maaf kulaungkan di relung-relung kalbuku, jika di hari Minggu ini seantero jagat jiwaku penuh sesak dengan jerit kerinduannya padamu. Gaung maafku ini terus bersahutan menjadi kegelisahan dan kekhawatiran yang dalam tak berdasar. Melulu jerit-jerit ampun dan maaf yang kupintakan kepadamu, bila saja gelisah dan amuk dadaku berubah menjadi pengusik ketenangan istirahat abadimu. Bagai irama lantunan zikir ia terus berulang tiada henti memperingati hari-hari bahagia kita. Hari ini, yang memang seharusnya bahagia, mengenang ketika aku mengikrarkan ijab nikah, memancangkan cincin di jari manismu. Biarlah aku memperingatinya sendiri, menyalakan lilin-lilin penghiburku malam ini di tepi hutan sepi, sebab rerinduan ini sungguh menyiksa dengan deraan sayat-sayat rasa kehilangan dirimu yang tak lagi malu-malu mendekam di jeruji tulang-tulang igaku.


Aku sungguh merindukanmu. Setiap nada yang kudengar, setiap obyek yang ku tatap, dan setiap aroma tipis yang lalu-lalang di rambut-rambut penciumanku semua mengingatkan aku kepadamu. Sentuhan yang menyapu kulitku seakan merajam derita. Waktu tak lagi menjadi solusi kuat menyelesaikan persoalan ini. Bahkan getarnya semakin berat mengguncang dunia sunyiku di dalam rongga dada.


Entah apa yang menyebabkan aku tak mampu melepaskan sejenak bagian ingatan yang menyentak bangunan kelaraanku. Aku tak tahu mendefinisikan suasana emosi mental ku yang kelelahan. Aku tak pernah mengenal lagi beda antara tidurku yang lelap atau kehilangan makna diri. Aku betul tak paham perjalanan pengalaman di relung-relung rasaku ini....seolah pengembaraanku memasuki sebuah alam di negeri lain dan akupun enggan beranjak darinya.


Malam ini hujan selebat tumpukan batang padi yang tengah penuh. Guruh & guntur meraung di udara selepas diterangi kilatan cahaya petir... Semua penghuni hutan sintok hening bersembunyi. Sebagian darinya menghangat di liang-liang sempit akar pohon-pohon besar, dan sebagian lainnya berteduh di rerimbunan dedaunan yang rajin mengangguk-angguk kala hujan menyalaminya. Beberapa teman mungkin juga sedang mengangguk mistis di rerimbunan zikirnya, sedang lainnya bersembunyi dibalik lelap kehangatan selimutnya.


Aku duduk di tepi jendela menatap kegelapan. Diremang-remang malam itu rinai hujan tampak mabuk menari-nari. Sesekali percik embun hujan itu tempias ke wajahku ditiup angin. Ada rasa dingin dan sepi yang begitu mengigit. Dan denyut sengitnya menggulung-gulung dirongga kapiler aortaku. Sejenak kemudian aku hanyut. Dan seperti tak ada kuasa menghentikannya, ia membawaku mengarung-jerami lorong-lorong sempit dan terjal di dunia kecil ku.


Hanyut itu kadang tak bisa kucegah dan entah kenapa akhir-akhir ini seringkali ia datang dihantar rinai gerimis malam. Meski aku sembunyi berselimut, dingin itu tetap saja hadir muncul keluar dari sumsum tulangku. Andaikata ini adalah cobaan, nyata-nyata nuraniku memang selalu habis tergoda. Dan aku terus terjajah angan-angan bersamamu. Terjerumus dan berkubang di dalamnya, bertungkuslumus turut serta membangun ruang-ruang waktu permainan hidup. Aku tak mampu melepaskan diri dari arena, untuk segera menyinggahi sisimu selamanya, menemanimu menjadi saksi kelanjutan tragedi-tragedi yang seakan tak pernah usai...


Didihan limbah rinduku meracuni ketenangan malam bathinku.



Dalam dendam kesepian,
-Swamimoe.-

Selasa, 10 Juni 2008

Guratan 18 : P E N Y E S A L A N K U




Selamat Malam, Sayang !


Kembali ribuan ampun ku mohonkan pada Mu ya Allah bila ribuan doa tak senonohku telah ku haturkan kepadaMu untuk keampunanMu dan kenyamanan penantian istriku di kemegahan singgasanaMu. Waktu tak pernah menawarkan sesaatpun penawar kerinduan dan pengetahuan padaku akan keberadaan belahan bunga jiwaku itu di sisiMu. Darah yang mengalir dari cabikan belahan itu tak juga pernah mengering. Hari ini, dimalam ke 600 hari ku tenggelam dalam perigi sunyi tak berpenghuni, nyanyian detak tetesan darah itu menggelapkan merahnya jantungku merejam gelisah.


Maafkan pula diriku, sayang, apabila ketukan-ketukan tuts keyboard ini membuat gaduh bilik tenangmu. Ketukan-ketukan keputus-asaan di pintu mimpi wajahmu yang kukuh terkunci penuh. Hanya selapis-selapis kenangan teramat manis menjadi teman sepermainan di sepanjang perjalanan anganku. Dan dari angan yang sama itu pun kini merebak pula tetes-tetes darah sedih kedukaan perpisahan kita. Aku tak mampu membendungnya, sayang.


Maafkan juga aku jika kini ku teguk tetes demi tetes butir darah itu ke kerongkongan ku yang kering ini, sekadar membangkitkan kembali semangat merajut mimpimu yang tak selesai. Meski tak terjawab dalam pencarianku, kuharap sisa mimpi itu membawa pencaran berkah pesan dan peluang pertemuan kita kemudian. Adakah kamu setuju, Teh ? Aku tak pernah dapat memutuskannya tanpa anggukanmu. Dan kini, kau tampak semakin anggun walau tanpa anggukan itu.


Di jenjang panjang penulisan thesisku ini, 14.400 jam kutermangu dihadang sesalku yang tak habis bergayut, dan terpaku di 864000 waktu. Seolah aku begitu dungu kehilangan arah pencapaianku, serta kehilangan orientasi tujuan kita. Ingatanku terlepas dan melekat di langit-langit kamarku, menjadi jaring-jaring beku yang menjerat langkah tirakat keyakinan kita, Semua itu membuatku semakin khawatir kini ! Disini, jantung tuaku telah digilas-gilas waktu yang tak lagi mampu memompa darahku untuk menciumi merahnya sungging senyumrmu. Dan jiwaku terhanyut dimainkan gelombang di lautan kerinduan kita. Seperti cerita di dongeng masa kanak-kanakku, aku telah gagal menyematkan satu kalipun kecupan pangeran yang menyadarkan tidur panjang sang putri. Aku tak bisa melepaskan rasa penantianmu terhadapku. Rasa yang selalu melekat dibenakku sejak dulu, sepanjang waktu. Rasa yang selalu kau buktikan kesungguhannya, kebenarannya. Tak pernah teragukan.


Teteh, malam semakin larut. Rinduku akut. Separuh dari sisa jiwaku larut dalam carut marut sengitnya persaingan kalut. .Malam ini...di keping ke 600 malam kepergianmu, izinkan aku mengharapkanmu sempat menyambangi penggal mimpiku, mengobati gejolak sesak dadaku, dan ku sampaikan tikaman di 51.840.000 saat sesalku yang tak berujung ini. Sayang, malam ini biarkanlah aku mendekapmu di lelap tidurku.-


Seperti mengerti suasanaku, di lantai bawah tape bung Tengku Mohd. Khairal berdendang sebuah lagu..


Aku memang tak berhati besar
untuk memahami hati mu disana
aku memang tak berlapang dada
untuk menyadari kau bukan milikku lagi
dengar-dengarkan aku, aku akan bertahan
sampai kapanpun – sampai kapanpun


OOoh
maafkanlah aku yang tak sempurna tuk dirimu
usailah sudah kisah yang tak sempurna untuk kita kenang
dengar-dengarkan aku, aku akan bertahan
sampai kapanpun – sampai kapanpun


andai aku dapat merelakan setiap kepingan ukiran kenangan indah
andai aku sanggup menjalani setiap detik dan waktu mendatang dan oh
dengar-dengarkan aku, aku akan bertahan
sampai kapanpun – sampai kapanpun


Aliran darah rinduku,
-Swamimoe.-

Rabu, 14 Mei 2008

Guratan 17: S A K I T


Dear Diar,


Selamat Siang, Sayang !.


Hari ini aku sakit. Sakit otot dan urat, dan sakit itu di leher. Istilah tukang pijit atawa ilmu perdukunan disebut teleng atau tengeng, sementara istilah kedokteran aku tak mengetahuinya... dan kini yang jelas indikasinya kepalaku nyaris bagai tulang tanpa engsel yang tersambung dari onggokan badan ke sebongkah kepala....tak bisa bergerak. Seperti yang kau tahu, aku sering betul sakit begitu dulu. Kata kamu aku salah tidur. Entah kenapa kamu selalu menyalahkan “tidur” kita. Karena caranya lah, tempatnya, bantalnya atau posisinya. Padahal nyata-nyata tidurku selalu lelap - nyaman semasa kamu disisiku. Selama itu, tak pernah sedetikpun terbayangkan ketakutan akan kebengisan seorang istri yang menyeringai dalam gelap. Gigi taringnya tampak panjang dan runcing. Dan dengan pisau dan garpu ditangan, ia siap ingin memotong dan menyantap steak daging dada, perut ataupun kemaluan suaminya, lantaran terbakar amarah, dendam ataupun cemburu. Kamu selalu lembut, dan.... Oh, betapa tenang dan menyenangkannya saat itu. Betapa !


Tapi sakit kali ini memang betul-betul mengembalikan ingatanku kepadamu, teh. Urat atau otot di belakang leherku itu seperti merajuk menanti lama sentuhanmu, terkilir sampai tepat atau bahkan memasuki wilayah otak kecil. Aku tak bisa menengok ke kiri dan kanan, mendongak keatas atau menunduk kebawah... tak boleh dalam posisi miring..atau pun condong. Sakitnya seperti kepala ini yang ingin terlepas dari tungkai lehernya. Sungguh menyiksa.. Terlebih-lebih lagi karena duka mengenang nostalgia kebersamaan denganmu melengkapi derita kesedihan sakitku kali ini.


Dikala terjadi hal seperti ini dahulu, tak pernah kamu meninggalkan ak. Kamu hanya duduk menjaga untuk mengurapi, atau mengusap, menggaruk dan memijiti bagian-bagian yang terasa terganggu. Kamu yang selalu terjaga bila aku terbangun dari tidurku, mengusir keping-keping mimpi yang mengusik tidurku. Sesuatu yang tak pernah sanggup ku lakukan untukmu. Kamu bagai malaikat penjagaku!


Saat ini aku tenggelam dalam romantisme masa lalumu, dikala seonggok daging bongah ini tergolek kaku di pembaringan. Sendiri menikmati nyerinya. Anganku terus lari. Mengejarmu hingga hilang perih itu...

Jemariku tak sanggup lagi menekan tuts keyboard komputerku untuk mencatat perjalanan pikiran dan langkah-langkah hati. Berjam jam aku duduk terpekur memikirkan keadaan diri. Yang tergambar dimataku hanya jasad tubuhmu yang terbujur lurus... tapi tak pernah menjadi kaku.


Tuhan, aku sedang sakit sekarang ini. Sakit kehilangan yang tak tergantikan, sakit sesal yang tak termaafkan, kenangan yang tak terlupakan. Bayangmu selalu berkelebat menari di kelopak mataku dan menghilang dalam kedipan. Aku sungguh tenggelam dalam kerinduan yang tak terpuaskan. Kepergiannya bukan karena ia ingin meninggalkanku, tapi dipaksa takdir yang tak tertawarkan.


“Aku juga tak mau meninggalkan kamu, mas....”, jerit mu lirih satu malam sebelum kamu betul-betul pergi. Tiada maksudmu untuk begitu. “Tapi kita harus siap atas keputusan itu”. Air mata mu lepas, sebagai peristiwa yang jarang terjadi selama kebersamaan kita.


Kini, aku mencoba menanamkan keyakinan itu. Paling tidak, untuk memudahkanku menerima sebuah kenyataan yang memaksaku memihak kepadanya. Dan butir-butir air yang berbaris rapi keluar dari pori-pori kulit tubuhku, menyatu disapu deras aliran bening dari sudut mata.....



Banjir rindu di bilikku,
-Swamimoe.-

Rabu, 30 April 2008

Guratan 16 : S E M P U R N A

Dear Diar,

Selamat malam, Sayang !.


Hampir dua bulan berselang aku memaksa diriku tak menulis surat kepadamu, mengadu, bercerita tetang letupan-letupan kerinduanku yang tetap saja menggila. Meredam kasmaran yang kembali bergejolak seperti dulu-dulu ketika kita masih awal menanam dan menyemai cinta... Kamu masih ingat, bukan ? Begitu aneh, dia hadir kembali dikala aku tahu bahwa kamu telah tiada. Aku kembali jatuh cinta, dan menggelora., sehingga aku tak mampu untuk menerima sepenuhnya bahwa kamu betul-betul telah tiada. Alur kisah bersamamu kurasa begitu sempurna. Maafkan mas, jika sikapku ini masih mengganggu istirahat abadimu. Maafkan aku.


Aku tak tahu.


Baru saja mas kembali dari Jakarta, Padang, Bukittinggi dan Palembang. Intinya mengurus beasiswa. Entah mengapa dan setan dari mana yang berhasil membujukku untuk percaya tentang ketulusan beasiswa Diknas. Sejak dulu lagi aku tidak mengimani ketulusan bantuan dengan motif-motif politik sang penguasa. Tanpa "bargaining interest" dan "comparative advantage", semua itu palsu belaka. Maaf, mas memang sinis dengan hal seperti itu. Betapa tidak, aku terpaksa menukar sisa nafas RM 2000 (sebagian tabunganmu dulu yang masih rapih ku simpan, sekali lagi maaf ! ) untuk sebudel dokumen sia-sia, demi sebuah janji seorang akademisi, Prof. Ir. Tarkus Suganda, M.Sc, Ph.D, yang menabur surga ditelinga sejumlah Indonesian Student Society di kampus UUM, dan pada akhirnya mentah-mentah tak diakuinya. Untuk itu aku memang murung hampakan azimat simpananmu.


Aku tak tahu. Dibalik kekecawaan cerita "pulang" saat ini pun aku dikejutkan dengan oleh-oleh saguhati benih baru yang nanti harus kucoba menanamkannya dalam taman hati asuhanmu. Dua benih hijau yang ku khawatiri begitu rentan terhadap peralihan berbagai musim yang sering berlaku disini. Seperti katamu dahulu, bahwa kita memiliki tak hanya dua atau empat musim, tapi beribu. Ups....! Yang kurasa menggelikan tak terduga ialah benih liar bunga-bungamu seakan kau campakkan begitu saja, tapi ternyata tumbuh subur di beribu musim itu, lalu selalu kau banggakan sebagai benih subur yang sekaligus tumbuh menyuburkan tanahnya sendiri. Amboi...


Tentang dua benh baru ini memang masih perlu penyemai dan perawat agar ia tumbuh kuat di media tepat dengan kondisi suhu akurat. Lalu disiang-siangi dan dijaga sambil membuang gulma yang mungkin tumbuh parasit disekitarnya.


Hmmm...! Aku tak pasti, apakah ini usaha yang mungkin menbawa hasil, menambah warna dan aroma bunga-bunga baru melengkapi bunga-bungamu? Mungkinkah warna-warna baru itu menjadi kompilasi harmoni indah orchestra gubahanmu? Atau justru menjadi gelimang nada-nada sumbang yang bising gaduh di seantero jagat taman hati? Aku tak mampu lagi menghitung dengan kalkulasi ilmu pasti. Apalagi melakukan komparasi, cara yang sejak dulu ku tentang setengah mati. Lebih baik aku sendiri memancang nyali, menyambut tajamnya belati sunyi.


Di kejauhan terdengar lantunan rangkaian buluh bernyanyi, yang untaian syairnya berbunyi....


Kau begitu sempurna
Dimataku kau begitu indah
Kau membuat diriku
Akan s’lalu memujamu

Disetiap langkahku
Kukan s’lalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan
Hidupku tanpa cintamu

Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa

Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku lengkapi diriku
Oh sayangku kau begitu....
Sempurna.... sempurna....

Kau genggam tanganku....
Saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata
Dan hapus semua sesalku

Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa

Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku lengkapi diriku
Oh sayangku kau begitu....
Sempurna.... sempurna....

(by Andre & Blackbone)



Percik api kerinduanku,

-Swamimoe.-


NB:

Di Palembang mas di jamu dan menginap di rumah Aufa Syahrizal dan keluarga...ingat bukan? Echa sudah gadis dan Adek pun sudah besar. Semakin lucu dan manis. Andaikan kamu bisa ikut kemarin, mereka menjamu selera dengan makanan seafood di restoran terapung Sungai Musi. Kamu akan sangat menyukainya. Mereka selalu mengenangmu, teh. Semoga paket doa mereka juga cepat sampai kehadapanmu. Sejumlah photo kita mas mintakan dari mereka. Nanti mas kirimkan juga via saluran maya ini. Pesan mereka titip rindu teramat sangat untuk Uwak di kejauhan. Aku juga, sangat ...!.






Kamis, 28 Februari 2008

Guratan 15 : Berjuta rasa Pekat Malam, tapi Satu Maknanya

Teh,
malam ini pekat
hujan turun lebat
di dada ada gejolak hebat
yang harapkan dirimu dekat
malam ini ingin kau ku peluk erat


Aku kehabisan kata untuk mengungkap nuansa. Berbagai apresiasi bathin tak lagi dapat memenuhi angkasa gelap rindu. Aku lemah lunglai. Pencarianku terpasung atmosfir medan galau, yang gravitasinya adalah gaya tolak yang menghempaskan ku kembali ke keangkuhan angkasa rindu.


Aku lunglai kehilangan asa. Tiada satu sahutan Tuhanpun yang jatuh di tanah pecah kering merah ini yang dapat ku mengerti, dan tiada sebuah respon balikpun dari negeri di duniamu yang bisa menyambung asaku berharap.


Adakah kamu yang dengan sejngaja menolak kehadiranku, atau ada konspirasi asing yang menghalau ? Aura enejinya begitu kuat dan aku terhanyut di pusarannya, tak berdaya. Tetesan darahku berebut keluar dari pori-pori kulit yang pecah dalam tekanan udara hampa. Sehampa nestapa. Siapa yang kira ?


Dan kini ..hatiku luka, jiwaku tersiksa. Tak satu lengkung pelangipun tampak mampu merubah merahnya. Tak satu....!


Greng kangen membalut kulit.
-.Swamimoe.-


NB: 15 Maret 2008 ini Ferry menikah.. aku hendak kesana mengunjunginya ya.. mungkin berangkat tgl 12 Maret malam. Aku gak tau cara menghadirinya dengan tidak gelisah tanpa mu..


Jumat, 01 Februari 2008

Guratan 14

Dear Diar,


Selamat malam, Sayang !
Beribu maaf bila malam ini ku ganggu lagi istirahat panjangmu. Hanya 50 hari kutahan hasrat menulis untukmu, sungguh hampir gila aku dibuatnya. Tidak kusangka ledak-ledak kecil rindu ini telah merubah tata cara pandanganku dan tatanan pergaulanku. Sampai pada malam ini, dimalam ke 470 kepergianmu, aku masih meracau dalam lelap dan bersesunggukan hingga terbangun…. Inilah kali pertama yang kusadari terjadi. Meracau dan bersesunggukan, dan aku tak dapat menahannya.


Sayang, maafkan masmu ini, andai kusimpulkan malam menjelang dini hari ini hidupku memang sungguh kacau dan menggelisahkan. Fenomena lingkunganku telah menghasilkan tafsir bahwa kau juga tengah merinduiku. Kurasakan kegelisahanku adalah kegelisahanmu jua. Kegelisahan yang mengundang gundah pergaduhan. Bisakah kau bayangkan ?


Baru saja kemarin aku tak lagi dapat mengendalikan gerak emosiku di dalam penat. Tingkah polah Sami yang dengan sengaja mempermainkan aku, entah karena keinginannya untuk lari dan melepaskan diri dari tanggungjawabnya terhadap mobil kita yang dipinjamnya, atau entah karena perilaku budayanya semata. Hanya saja bagiku, ia telah mempecundangiku, menipu dan mencoba mencuri keuntungan dari kelemahanku ini.


Mungkin hidupku sedang diujiNya jauh sejak sebelum kamu jatuh sakit. Namun saat itu jiwa masih cukup kukuh menyaksikan ketegaranmu menerima ujian-ujian hidupmu. Aku sepatutnya tegar untuk mendorong semangat positifmu menerima berbagai ujian itu. Walau sesungguhnya aku luluh menjadi saksi yang menatap bagaimana kamu menerima dan mempersiapkan dirimu untuk menerima kembali kemungkinan-kemungkinan ujian baru. Yang juga jauh lebih meluluhkan dari sebelumnya.


“Kita musti kuat, teh. Lihatlah, walau berbagai kesulitan dan penderitaan datang silih berganti di kehidupan ini, tapi tetap saja selama ini kita masih terjaga. Apa yang kita buat ? Hampir tiada. Semua adalah kerja Allah”, kataku di suatu saat.


“Iya mas, kita musti yakin begitu. Tapi janganlah kamu katakan ini bagian dari penderitaan hidup kita, karena sesungguhnya aku telah bahagia atas karuniaNya, yaitu kerelaanmu menerimaku dan tidak berubah atas semua kekurangan dari segala keadaan-keadaanku sekarang”, tanggapmu menimpaliku.


“Aku tidak pernah risau bersamamu selama ini !”. Senyummu begitu manis untuk meyakinkanku bahwa kamu baik-baik saja.


Seperti biasanya pula waktu berlalu dan musimpun berganti. Berbagai peristiwa juga berlalu bersama waktu. Dan selama itu kau laksanakan cintamu dengan sabar dan santun, dan sungguh aku mengerti. Dan tanpa sekalipun kau biarkan di jeda setiap peristiwa itu terjadi sebuah pertengkaranpun. Dan kamu berhasil.


Entah kenapa
.......mimpi tak pernah bisa bertahan
Angin pagi
........selalu datang mencurinya pergi
Dan tiba-tiba saja
............cinta menjadi suatu yang sulit
Semua tempat yang dikabarkan
Nyata-nyata dihalang dan tertutup
Tapi, keinginan ini tak dapat ditahan
Rasa yang dipendam tak dapat diluahkan


Aku mesti berjuang keras
Untuk menyimpannya dalam-dalam
Aku ingin melindunginya sepenuhnya
Tapi juga tidak kehilangan arah
Sampai jantungku berhenti sempurna

Hidup yang kita jumpai telah merentasi masa
Dan kalau air mata tumpah….
Aku ingin didekap buat selamanya

................................................



Andai sang waktu tak mampu lagi menetasi harapan, ya Tuhan...
aku ingin pulang dari perjalanan panjang ini...
ke keteduhan singgasanaMu...
di tempat yang sama,
di sisi permaisuriku…......

Kerinduan dalam kelam,
-.Swamimoe.-