Tampilkan postingan dengan label Surat kepada Diar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat kepada Diar. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juli 2009

Guratan 22 : S E R I B U


Selamat Malam, belahan jiwa yang berbaring tenang di dimensi hawa, dimensi udara. Semoga kau selalu damai dalam penantian.


Temaram suasana malam ini cermin kembar kemurungan jiwaku. Digenapi doa-doa yang membawa sarat pesan melantun kelangit mencari muaranya di pangkuanmu. Aku kini semakin tersiksa. Seribu hari kehilanganmu telah menjadi seribu ekor kuda yang menarik tubuhku kesegala penjuru arah. Telah ku coba berbagai cara menapaki tanah bumi merah rekah yang pecah, tapi tak pernah bisa menjadi biasa. Tetap saja dadaku ditusuk-tusuk kesepian dan ditikam sangsi. Kegelisahan kerinduanku telah menjadi serigala malam di hutan dadaku yang liar mengerang. Laung lolongnya yang panjang melintasi pekan dan padang, menelusuri rencah kesunyian liuk sungai ke hulunya, menembusi lorong-lorong gua kapur, membentur dinding cadas tebing ngarai yang tinggi dan terjal. Ia menerjang apa saja yang menghalang. Dirobek-robeknya semua selaput-selaput dadaku untuk merampok hati. Tetesan tetesan darah memancar segar dari rongga yang telah porak poranda. Kini tinggallah kosong yang gelap, tapi sia-sia kerna ia tak mengisi apa-apa. Sepenggal peristiwa yang berjalan tak selalu memberi arti ia bermakna. Aku telah memubaziri waktu dengan celaka.


Adakah satu ramuan resepmu yang boleh menumbuhkan seleraku yang patah, dinda ? Sementara sang waktu rajin menumbuk-numbuk luka itu di setiap kesempatan. Harus berhenti dimana, dinda, untuk merasakan kembali gayutan lenganmu yang menghangatkan ? Meski halte-halte kosong itu bosan menunggu, lampu trafic light di setiap persimpangan tak pernah lagi hijau. Aku semakin sulit mengusir dingin yang menyusup kamar kita meski segundukan tenunanmu telah menyelimutiku. Tubuhku semakin bodoh menyesuaikan panasnya dengan suhu kamar.


Dengarlah gemericik air hujan yang tumpah di rerimbunan hutan, sayang. Gesekan dedaunan dan gemeretak ranting tua yang patah, karena menyangga daun kering yang berat dibasahi hujan. Dulu kau mengatakannya sebagai nyanyian alam, sambil berbisik ditelingaku agar tidak menggaduh simphoni hujan itu. Tapi kini bagiku menjadi lagu kerinduan. Hausku merindukanmu seperti haus sang pejalan, melintas padang gurun gersang, dengan nanar mentari yang terik memanggang bumi. Tanah pecah-pecah. Kerasnya hampir menyerupai cadas. Yang hancur langsung jadi debu tertiup angin. Aku bimbang, bahwa tak kan ada lagi harapan terdapatnya ceruk perigi kecil dari pecahan tanah itu yang menjadi sumber mata air. Sekalipun dalam impianku. Kerinduanku seperti banduan terhukum mati, tanpa harapan pembebasan.


Temaram suasana malam, decik musik gemericik hujan, dan suara sopran kodok bangkong di semak bakung mengantarkan lamunanku kepadamu tanpa mampu menghadirkan senyummu di benakku, meskipun hanya lewat mimpi (entah, apakah mimpipun telah terlarang), telah menjadi siksa bagi ruhaniku seutuhnya tanpa daya. Tenggelam dalam hitam gelap malam.


Sejumput doa kusampaikan, sekerat doa kupanjatkan.



hujan baru saja usai,
makhluk tanah semua merasai
bau tanah itu mengingatkan
basah air hujan itu melekatkan
angin dingin itu merindukan
malam pekat itu menakutkan
suara makhluk malam menghampakan
relung lamunan melenakan

aku memang lemah Tuhan
selemah kelopak mawar tua
yang patah tertiup angin

aku memang rapuh Tuhan,
serapuh onggokan debu di perapian
terbang disapu angin

jika tak Engkau dayakan aku
gerak apa yang mungkin masih tersisa ?



Sejenak kerinduanku menggeliat lara, memindahkan posisi rebahnya.


Semoga waktu yang tersisa tetap masih terjaga, hingga sang jiwa merasa tak ingin lagi memperpanjang masa. Kini hasrat mengukuhkan hati, melunasi janji yang sempat terpatri, lalu menanti redha sang Kekasih memanggil, ”Bertemulah para kekasih !”

Bertemulah.....!!!



Geliat lara rinduku,

-.Swamimoe.-




Rabu, 04 Maret 2009

Guratan 21: IZINKAN


Biarkanlah aku mampus merinduimu kali ini, sayang


Disetiap purnama yang sempurna itu datang ,

kurasakan keping demi keping sisa sentuhan pelukanmu yang begitu lama ku harapkan mampu hadir kedalam impian setiap detik tidurku yang tak pernah membawa tenang

hingga kini aku tak kuasa menolak geram liar isi dadaku menumpahkan nanar gelisahnya yang demikian panjang

meregangkan kerat-kerat otot tua tubuhku hingga berderak gemerutuk melepaskan geraknya menjadi penari kelam,

mengikut aroma asap dan aura isi hutan, maka biarkanlah jiwaku tetap menari, berlari, berguling dan bergelinding

mengutuk dungu jadi batu


Biarlah rinduku menangis kali ini, sayang

Ada wajahmu di setiap tetes bening air mata itu yang kulihat

Biarlah raungan isak gelisahku menggema di dinding-dinding ngarai kalbuku

Ada bisik lembut suaramu kudengar disetiap kali isakku itu melantun panjang dan parau



(aku hanya mencuri kagum dengan telingaku, berharap suaramu sempat memanggil...)


Rabu, 14 Januari 2009

Guratan 20 : TIADA JALAN ITU



derap kaki malamku mengerang kaku

merenggas puing-puing kosong kalbu

derap kaki malamku mengorek kerak laraku

hingga habis tandas disetiap tungkai layu

meski sampai menggerus dasar pijak di teratak pemacu,

tetap saja deritanya tak pernah sekejap jua berlalu



Ooh kekasih,

keabadian sesal dan rasa kehilangan ku metamorfosis mencari bentuknya

meski tak kan lelah ruh menggapai segala sumber ke tepian hulu,

aku kehabisan asa impikan penawar bisa rindu.

sudah ku kunyah renyah ramuan dari tujuh dedaunan pohon-pohon kehidupan,

kuminum cairan akar dari tujuh gugusan mata air nirwana yang mengalir dengan tujuh warna

tetap saja aku dahaga

dan bisa racun lara yang tersisa semakin menggelegak di dada

warna darahnya menjadi jingga



aku terpana sesaat ketika kusangka sanggup singgahi di lain cinta

mencoba menapak mulus di landasan pacu serba suka

berharap tersedia teratak rumah kediaman bagi sukma yang lelah mengembara

tapi kini

bentuknya sungguh berbeda

tak seluruh bagian nafasku mampu menempatinya

di sebagian ruang lainnya bahkan tiada

sedangkan lorong-lorong yang tersisa

tak kumengerti bermakna



dan ktika aku membulatkan kata pada seloka

separuh tubuhku sejuk dan separuh membara

memaksanya tidak menjadikan ku perkasa

malah serasa jelajahi satu dilema raksasa

dan ketika ku terlupa kepada hal sebenarnya

maka itu menjadi dosa

dan seketika aku dibuatnya buta,

tercekam aku di derita sesal dan hina

yang gegarnya tak kalah bimbang dengan geliat nafasku



aku terengah dikejar gelisah diiris dinginnya sepi

kembaraan tanah asing ini beribu-matanya curiga

sukmaku direnggut dan tercampakan dari kumpulan,

dihempas begitu jauh dan tak sanggup mengejar kembali.

terjatuh dihamparan sunyi tak bertepi

tempat ku mati



(matahari di ufuk senja pucat pasi

sejak pagi mengambang urat-urat yang pasi

kemana lagi ku pergi ?

di lorong-lorong jalan kulihat wajah-wajah ngeri

di langit, di laut, di air yang mengalir

kulihat iras wajah ku pucat pasi)


Minggu, 27 Juli 2008

Guratan 19 : T E R P A S U N G

Selamat Malam, kekasih


Kembali beribu maaf kulaungkan di relung-relung kalbuku, jika di hari Minggu ini seantero jagat jiwaku penuh sesak dengan jerit kerinduannya padamu. Gaung maafku ini terus bersahutan menjadi kegelisahan dan kekhawatiran yang dalam tak berdasar. Melulu jerit-jerit ampun dan maaf yang kupintakan kepadamu, bila saja gelisah dan amuk dadaku berubah menjadi pengusik ketenangan istirahat abadimu. Bagai irama lantunan zikir ia terus berulang tiada henti memperingati hari-hari bahagia kita. Hari ini, yang memang seharusnya bahagia, mengenang ketika aku mengikrarkan ijab nikah, memancangkan cincin di jari manismu. Biarlah aku memperingatinya sendiri, menyalakan lilin-lilin penghiburku malam ini di tepi hutan sepi, sebab rerinduan ini sungguh menyiksa dengan deraan sayat-sayat rasa kehilangan dirimu yang tak lagi malu-malu mendekam di jeruji tulang-tulang igaku.


Aku sungguh merindukanmu. Setiap nada yang kudengar, setiap obyek yang ku tatap, dan setiap aroma tipis yang lalu-lalang di rambut-rambut penciumanku semua mengingatkan aku kepadamu. Sentuhan yang menyapu kulitku seakan merajam derita. Waktu tak lagi menjadi solusi kuat menyelesaikan persoalan ini. Bahkan getarnya semakin berat mengguncang dunia sunyiku di dalam rongga dada.


Entah apa yang menyebabkan aku tak mampu melepaskan sejenak bagian ingatan yang menyentak bangunan kelaraanku. Aku tak tahu mendefinisikan suasana emosi mental ku yang kelelahan. Aku tak pernah mengenal lagi beda antara tidurku yang lelap atau kehilangan makna diri. Aku betul tak paham perjalanan pengalaman di relung-relung rasaku ini....seolah pengembaraanku memasuki sebuah alam di negeri lain dan akupun enggan beranjak darinya.


Malam ini hujan selebat tumpukan batang padi yang tengah penuh. Guruh & guntur meraung di udara selepas diterangi kilatan cahaya petir... Semua penghuni hutan sintok hening bersembunyi. Sebagian darinya menghangat di liang-liang sempit akar pohon-pohon besar, dan sebagian lainnya berteduh di rerimbunan dedaunan yang rajin mengangguk-angguk kala hujan menyalaminya. Beberapa teman mungkin juga sedang mengangguk mistis di rerimbunan zikirnya, sedang lainnya bersembunyi dibalik lelap kehangatan selimutnya.


Aku duduk di tepi jendela menatap kegelapan. Diremang-remang malam itu rinai hujan tampak mabuk menari-nari. Sesekali percik embun hujan itu tempias ke wajahku ditiup angin. Ada rasa dingin dan sepi yang begitu mengigit. Dan denyut sengitnya menggulung-gulung dirongga kapiler aortaku. Sejenak kemudian aku hanyut. Dan seperti tak ada kuasa menghentikannya, ia membawaku mengarung-jerami lorong-lorong sempit dan terjal di dunia kecil ku.


Hanyut itu kadang tak bisa kucegah dan entah kenapa akhir-akhir ini seringkali ia datang dihantar rinai gerimis malam. Meski aku sembunyi berselimut, dingin itu tetap saja hadir muncul keluar dari sumsum tulangku. Andaikata ini adalah cobaan, nyata-nyata nuraniku memang selalu habis tergoda. Dan aku terus terjajah angan-angan bersamamu. Terjerumus dan berkubang di dalamnya, bertungkuslumus turut serta membangun ruang-ruang waktu permainan hidup. Aku tak mampu melepaskan diri dari arena, untuk segera menyinggahi sisimu selamanya, menemanimu menjadi saksi kelanjutan tragedi-tragedi yang seakan tak pernah usai...


Didihan limbah rinduku meracuni ketenangan malam bathinku.



Dalam dendam kesepian,
-Swamimoe.-

Selasa, 10 Juni 2008

Guratan 18 : P E N Y E S A L A N K U




Selamat Malam, Sayang !


Kembali ribuan ampun ku mohonkan pada Mu ya Allah bila ribuan doa tak senonohku telah ku haturkan kepadaMu untuk keampunanMu dan kenyamanan penantian istriku di kemegahan singgasanaMu. Waktu tak pernah menawarkan sesaatpun penawar kerinduan dan pengetahuan padaku akan keberadaan belahan bunga jiwaku itu di sisiMu. Darah yang mengalir dari cabikan belahan itu tak juga pernah mengering. Hari ini, dimalam ke 600 hari ku tenggelam dalam perigi sunyi tak berpenghuni, nyanyian detak tetesan darah itu menggelapkan merahnya jantungku merejam gelisah.


Maafkan pula diriku, sayang, apabila ketukan-ketukan tuts keyboard ini membuat gaduh bilik tenangmu. Ketukan-ketukan keputus-asaan di pintu mimpi wajahmu yang kukuh terkunci penuh. Hanya selapis-selapis kenangan teramat manis menjadi teman sepermainan di sepanjang perjalanan anganku. Dan dari angan yang sama itu pun kini merebak pula tetes-tetes darah sedih kedukaan perpisahan kita. Aku tak mampu membendungnya, sayang.


Maafkan juga aku jika kini ku teguk tetes demi tetes butir darah itu ke kerongkongan ku yang kering ini, sekadar membangkitkan kembali semangat merajut mimpimu yang tak selesai. Meski tak terjawab dalam pencarianku, kuharap sisa mimpi itu membawa pencaran berkah pesan dan peluang pertemuan kita kemudian. Adakah kamu setuju, Teh ? Aku tak pernah dapat memutuskannya tanpa anggukanmu. Dan kini, kau tampak semakin anggun walau tanpa anggukan itu.


Di jenjang panjang penulisan thesisku ini, 14.400 jam kutermangu dihadang sesalku yang tak habis bergayut, dan terpaku di 864000 waktu. Seolah aku begitu dungu kehilangan arah pencapaianku, serta kehilangan orientasi tujuan kita. Ingatanku terlepas dan melekat di langit-langit kamarku, menjadi jaring-jaring beku yang menjerat langkah tirakat keyakinan kita, Semua itu membuatku semakin khawatir kini ! Disini, jantung tuaku telah digilas-gilas waktu yang tak lagi mampu memompa darahku untuk menciumi merahnya sungging senyumrmu. Dan jiwaku terhanyut dimainkan gelombang di lautan kerinduan kita. Seperti cerita di dongeng masa kanak-kanakku, aku telah gagal menyematkan satu kalipun kecupan pangeran yang menyadarkan tidur panjang sang putri. Aku tak bisa melepaskan rasa penantianmu terhadapku. Rasa yang selalu melekat dibenakku sejak dulu, sepanjang waktu. Rasa yang selalu kau buktikan kesungguhannya, kebenarannya. Tak pernah teragukan.


Teteh, malam semakin larut. Rinduku akut. Separuh dari sisa jiwaku larut dalam carut marut sengitnya persaingan kalut. .Malam ini...di keping ke 600 malam kepergianmu, izinkan aku mengharapkanmu sempat menyambangi penggal mimpiku, mengobati gejolak sesak dadaku, dan ku sampaikan tikaman di 51.840.000 saat sesalku yang tak berujung ini. Sayang, malam ini biarkanlah aku mendekapmu di lelap tidurku.-


Seperti mengerti suasanaku, di lantai bawah tape bung Tengku Mohd. Khairal berdendang sebuah lagu..


Aku memang tak berhati besar
untuk memahami hati mu disana
aku memang tak berlapang dada
untuk menyadari kau bukan milikku lagi
dengar-dengarkan aku, aku akan bertahan
sampai kapanpun – sampai kapanpun


OOoh
maafkanlah aku yang tak sempurna tuk dirimu
usailah sudah kisah yang tak sempurna untuk kita kenang
dengar-dengarkan aku, aku akan bertahan
sampai kapanpun – sampai kapanpun


andai aku dapat merelakan setiap kepingan ukiran kenangan indah
andai aku sanggup menjalani setiap detik dan waktu mendatang dan oh
dengar-dengarkan aku, aku akan bertahan
sampai kapanpun – sampai kapanpun


Aliran darah rinduku,
-Swamimoe.-

Rabu, 14 Mei 2008

Guratan 17: S A K I T


Dear Diar,


Selamat Siang, Sayang !.


Hari ini aku sakit. Sakit otot dan urat, dan sakit itu di leher. Istilah tukang pijit atawa ilmu perdukunan disebut teleng atau tengeng, sementara istilah kedokteran aku tak mengetahuinya... dan kini yang jelas indikasinya kepalaku nyaris bagai tulang tanpa engsel yang tersambung dari onggokan badan ke sebongkah kepala....tak bisa bergerak. Seperti yang kau tahu, aku sering betul sakit begitu dulu. Kata kamu aku salah tidur. Entah kenapa kamu selalu menyalahkan “tidur” kita. Karena caranya lah, tempatnya, bantalnya atau posisinya. Padahal nyata-nyata tidurku selalu lelap - nyaman semasa kamu disisiku. Selama itu, tak pernah sedetikpun terbayangkan ketakutan akan kebengisan seorang istri yang menyeringai dalam gelap. Gigi taringnya tampak panjang dan runcing. Dan dengan pisau dan garpu ditangan, ia siap ingin memotong dan menyantap steak daging dada, perut ataupun kemaluan suaminya, lantaran terbakar amarah, dendam ataupun cemburu. Kamu selalu lembut, dan.... Oh, betapa tenang dan menyenangkannya saat itu. Betapa !


Tapi sakit kali ini memang betul-betul mengembalikan ingatanku kepadamu, teh. Urat atau otot di belakang leherku itu seperti merajuk menanti lama sentuhanmu, terkilir sampai tepat atau bahkan memasuki wilayah otak kecil. Aku tak bisa menengok ke kiri dan kanan, mendongak keatas atau menunduk kebawah... tak boleh dalam posisi miring..atau pun condong. Sakitnya seperti kepala ini yang ingin terlepas dari tungkai lehernya. Sungguh menyiksa.. Terlebih-lebih lagi karena duka mengenang nostalgia kebersamaan denganmu melengkapi derita kesedihan sakitku kali ini.


Dikala terjadi hal seperti ini dahulu, tak pernah kamu meninggalkan ak. Kamu hanya duduk menjaga untuk mengurapi, atau mengusap, menggaruk dan memijiti bagian-bagian yang terasa terganggu. Kamu yang selalu terjaga bila aku terbangun dari tidurku, mengusir keping-keping mimpi yang mengusik tidurku. Sesuatu yang tak pernah sanggup ku lakukan untukmu. Kamu bagai malaikat penjagaku!


Saat ini aku tenggelam dalam romantisme masa lalumu, dikala seonggok daging bongah ini tergolek kaku di pembaringan. Sendiri menikmati nyerinya. Anganku terus lari. Mengejarmu hingga hilang perih itu...

Jemariku tak sanggup lagi menekan tuts keyboard komputerku untuk mencatat perjalanan pikiran dan langkah-langkah hati. Berjam jam aku duduk terpekur memikirkan keadaan diri. Yang tergambar dimataku hanya jasad tubuhmu yang terbujur lurus... tapi tak pernah menjadi kaku.


Tuhan, aku sedang sakit sekarang ini. Sakit kehilangan yang tak tergantikan, sakit sesal yang tak termaafkan, kenangan yang tak terlupakan. Bayangmu selalu berkelebat menari di kelopak mataku dan menghilang dalam kedipan. Aku sungguh tenggelam dalam kerinduan yang tak terpuaskan. Kepergiannya bukan karena ia ingin meninggalkanku, tapi dipaksa takdir yang tak tertawarkan.


“Aku juga tak mau meninggalkan kamu, mas....”, jerit mu lirih satu malam sebelum kamu betul-betul pergi. Tiada maksudmu untuk begitu. “Tapi kita harus siap atas keputusan itu”. Air mata mu lepas, sebagai peristiwa yang jarang terjadi selama kebersamaan kita.


Kini, aku mencoba menanamkan keyakinan itu. Paling tidak, untuk memudahkanku menerima sebuah kenyataan yang memaksaku memihak kepadanya. Dan butir-butir air yang berbaris rapi keluar dari pori-pori kulit tubuhku, menyatu disapu deras aliran bening dari sudut mata.....



Banjir rindu di bilikku,
-Swamimoe.-

Rabu, 30 April 2008

Guratan 16 : S E M P U R N A

Dear Diar,

Selamat malam, Sayang !.


Hampir dua bulan berselang aku memaksa diriku tak menulis surat kepadamu, mengadu, bercerita tetang letupan-letupan kerinduanku yang tetap saja menggila. Meredam kasmaran yang kembali bergejolak seperti dulu-dulu ketika kita masih awal menanam dan menyemai cinta... Kamu masih ingat, bukan ? Begitu aneh, dia hadir kembali dikala aku tahu bahwa kamu telah tiada. Aku kembali jatuh cinta, dan menggelora., sehingga aku tak mampu untuk menerima sepenuhnya bahwa kamu betul-betul telah tiada. Alur kisah bersamamu kurasa begitu sempurna. Maafkan mas, jika sikapku ini masih mengganggu istirahat abadimu. Maafkan aku.


Aku tak tahu.


Baru saja mas kembali dari Jakarta, Padang, Bukittinggi dan Palembang. Intinya mengurus beasiswa. Entah mengapa dan setan dari mana yang berhasil membujukku untuk percaya tentang ketulusan beasiswa Diknas. Sejak dulu lagi aku tidak mengimani ketulusan bantuan dengan motif-motif politik sang penguasa. Tanpa "bargaining interest" dan "comparative advantage", semua itu palsu belaka. Maaf, mas memang sinis dengan hal seperti itu. Betapa tidak, aku terpaksa menukar sisa nafas RM 2000 (sebagian tabunganmu dulu yang masih rapih ku simpan, sekali lagi maaf ! ) untuk sebudel dokumen sia-sia, demi sebuah janji seorang akademisi, Prof. Ir. Tarkus Suganda, M.Sc, Ph.D, yang menabur surga ditelinga sejumlah Indonesian Student Society di kampus UUM, dan pada akhirnya mentah-mentah tak diakuinya. Untuk itu aku memang murung hampakan azimat simpananmu.


Aku tak tahu. Dibalik kekecawaan cerita "pulang" saat ini pun aku dikejutkan dengan oleh-oleh saguhati benih baru yang nanti harus kucoba menanamkannya dalam taman hati asuhanmu. Dua benih hijau yang ku khawatiri begitu rentan terhadap peralihan berbagai musim yang sering berlaku disini. Seperti katamu dahulu, bahwa kita memiliki tak hanya dua atau empat musim, tapi beribu. Ups....! Yang kurasa menggelikan tak terduga ialah benih liar bunga-bungamu seakan kau campakkan begitu saja, tapi ternyata tumbuh subur di beribu musim itu, lalu selalu kau banggakan sebagai benih subur yang sekaligus tumbuh menyuburkan tanahnya sendiri. Amboi...


Tentang dua benh baru ini memang masih perlu penyemai dan perawat agar ia tumbuh kuat di media tepat dengan kondisi suhu akurat. Lalu disiang-siangi dan dijaga sambil membuang gulma yang mungkin tumbuh parasit disekitarnya.


Hmmm...! Aku tak pasti, apakah ini usaha yang mungkin menbawa hasil, menambah warna dan aroma bunga-bunga baru melengkapi bunga-bungamu? Mungkinkah warna-warna baru itu menjadi kompilasi harmoni indah orchestra gubahanmu? Atau justru menjadi gelimang nada-nada sumbang yang bising gaduh di seantero jagat taman hati? Aku tak mampu lagi menghitung dengan kalkulasi ilmu pasti. Apalagi melakukan komparasi, cara yang sejak dulu ku tentang setengah mati. Lebih baik aku sendiri memancang nyali, menyambut tajamnya belati sunyi.


Di kejauhan terdengar lantunan rangkaian buluh bernyanyi, yang untaian syairnya berbunyi....


Kau begitu sempurna
Dimataku kau begitu indah
Kau membuat diriku
Akan s’lalu memujamu

Disetiap langkahku
Kukan s’lalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan
Hidupku tanpa cintamu

Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa

Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku lengkapi diriku
Oh sayangku kau begitu....
Sempurna.... sempurna....

Kau genggam tanganku....
Saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata
Dan hapus semua sesalku

Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa

Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku lengkapi diriku
Oh sayangku kau begitu....
Sempurna.... sempurna....

(by Andre & Blackbone)



Percik api kerinduanku,

-Swamimoe.-


NB:

Di Palembang mas di jamu dan menginap di rumah Aufa Syahrizal dan keluarga...ingat bukan? Echa sudah gadis dan Adek pun sudah besar. Semakin lucu dan manis. Andaikan kamu bisa ikut kemarin, mereka menjamu selera dengan makanan seafood di restoran terapung Sungai Musi. Kamu akan sangat menyukainya. Mereka selalu mengenangmu, teh. Semoga paket doa mereka juga cepat sampai kehadapanmu. Sejumlah photo kita mas mintakan dari mereka. Nanti mas kirimkan juga via saluran maya ini. Pesan mereka titip rindu teramat sangat untuk Uwak di kejauhan. Aku juga, sangat ...!.






Kamis, 28 Februari 2008

Guratan 15 : Berjuta rasa Pekat Malam, tapi Satu Maknanya

Teh,
malam ini pekat
hujan turun lebat
di dada ada gejolak hebat
yang harapkan dirimu dekat
malam ini ingin kau ku peluk erat


Aku kehabisan kata untuk mengungkap nuansa. Berbagai apresiasi bathin tak lagi dapat memenuhi angkasa gelap rindu. Aku lemah lunglai. Pencarianku terpasung atmosfir medan galau, yang gravitasinya adalah gaya tolak yang menghempaskan ku kembali ke keangkuhan angkasa rindu.


Aku lunglai kehilangan asa. Tiada satu sahutan Tuhanpun yang jatuh di tanah pecah kering merah ini yang dapat ku mengerti, dan tiada sebuah respon balikpun dari negeri di duniamu yang bisa menyambung asaku berharap.


Adakah kamu yang dengan sejngaja menolak kehadiranku, atau ada konspirasi asing yang menghalau ? Aura enejinya begitu kuat dan aku terhanyut di pusarannya, tak berdaya. Tetesan darahku berebut keluar dari pori-pori kulit yang pecah dalam tekanan udara hampa. Sehampa nestapa. Siapa yang kira ?


Dan kini ..hatiku luka, jiwaku tersiksa. Tak satu lengkung pelangipun tampak mampu merubah merahnya. Tak satu....!


Greng kangen membalut kulit.
-.Swamimoe.-


NB: 15 Maret 2008 ini Ferry menikah.. aku hendak kesana mengunjunginya ya.. mungkin berangkat tgl 12 Maret malam. Aku gak tau cara menghadirinya dengan tidak gelisah tanpa mu..


Jumat, 01 Februari 2008

Guratan 14

Dear Diar,


Selamat malam, Sayang !
Beribu maaf bila malam ini ku ganggu lagi istirahat panjangmu. Hanya 50 hari kutahan hasrat menulis untukmu, sungguh hampir gila aku dibuatnya. Tidak kusangka ledak-ledak kecil rindu ini telah merubah tata cara pandanganku dan tatanan pergaulanku. Sampai pada malam ini, dimalam ke 470 kepergianmu, aku masih meracau dalam lelap dan bersesunggukan hingga terbangun…. Inilah kali pertama yang kusadari terjadi. Meracau dan bersesunggukan, dan aku tak dapat menahannya.


Sayang, maafkan masmu ini, andai kusimpulkan malam menjelang dini hari ini hidupku memang sungguh kacau dan menggelisahkan. Fenomena lingkunganku telah menghasilkan tafsir bahwa kau juga tengah merinduiku. Kurasakan kegelisahanku adalah kegelisahanmu jua. Kegelisahan yang mengundang gundah pergaduhan. Bisakah kau bayangkan ?


Baru saja kemarin aku tak lagi dapat mengendalikan gerak emosiku di dalam penat. Tingkah polah Sami yang dengan sengaja mempermainkan aku, entah karena keinginannya untuk lari dan melepaskan diri dari tanggungjawabnya terhadap mobil kita yang dipinjamnya, atau entah karena perilaku budayanya semata. Hanya saja bagiku, ia telah mempecundangiku, menipu dan mencoba mencuri keuntungan dari kelemahanku ini.


Mungkin hidupku sedang diujiNya jauh sejak sebelum kamu jatuh sakit. Namun saat itu jiwa masih cukup kukuh menyaksikan ketegaranmu menerima ujian-ujian hidupmu. Aku sepatutnya tegar untuk mendorong semangat positifmu menerima berbagai ujian itu. Walau sesungguhnya aku luluh menjadi saksi yang menatap bagaimana kamu menerima dan mempersiapkan dirimu untuk menerima kembali kemungkinan-kemungkinan ujian baru. Yang juga jauh lebih meluluhkan dari sebelumnya.


“Kita musti kuat, teh. Lihatlah, walau berbagai kesulitan dan penderitaan datang silih berganti di kehidupan ini, tapi tetap saja selama ini kita masih terjaga. Apa yang kita buat ? Hampir tiada. Semua adalah kerja Allah”, kataku di suatu saat.


“Iya mas, kita musti yakin begitu. Tapi janganlah kamu katakan ini bagian dari penderitaan hidup kita, karena sesungguhnya aku telah bahagia atas karuniaNya, yaitu kerelaanmu menerimaku dan tidak berubah atas semua kekurangan dari segala keadaan-keadaanku sekarang”, tanggapmu menimpaliku.


“Aku tidak pernah risau bersamamu selama ini !”. Senyummu begitu manis untuk meyakinkanku bahwa kamu baik-baik saja.


Seperti biasanya pula waktu berlalu dan musimpun berganti. Berbagai peristiwa juga berlalu bersama waktu. Dan selama itu kau laksanakan cintamu dengan sabar dan santun, dan sungguh aku mengerti. Dan tanpa sekalipun kau biarkan di jeda setiap peristiwa itu terjadi sebuah pertengkaranpun. Dan kamu berhasil.


Entah kenapa
.......mimpi tak pernah bisa bertahan
Angin pagi
........selalu datang mencurinya pergi
Dan tiba-tiba saja
............cinta menjadi suatu yang sulit
Semua tempat yang dikabarkan
Nyata-nyata dihalang dan tertutup
Tapi, keinginan ini tak dapat ditahan
Rasa yang dipendam tak dapat diluahkan


Aku mesti berjuang keras
Untuk menyimpannya dalam-dalam
Aku ingin melindunginya sepenuhnya
Tapi juga tidak kehilangan arah
Sampai jantungku berhenti sempurna

Hidup yang kita jumpai telah merentasi masa
Dan kalau air mata tumpah….
Aku ingin didekap buat selamanya

................................................



Andai sang waktu tak mampu lagi menetasi harapan, ya Tuhan...
aku ingin pulang dari perjalanan panjang ini...
ke keteduhan singgasanaMu...
di tempat yang sama,
di sisi permaisuriku…......

Kerinduan dalam kelam,
-.Swamimoe.-

Kamis, 13 Desember 2007

GURATAN 13


Dear Diar,

Selamat malam, Teh !
Malam ini adalah malam ke 420 aku merindumu. Rindu panjang dan melelahkan. Aku tak dapat menyederhanakan fikiran dan hatiku sekalipun dalam tawa dan kepura-puraan. Pemalsuan yang membosankan dan mulai terasa menjijikan. Aku sangat merinduimu. Maafkan aku. Maafkan kalau hal ini menganggu ketentraman istirahatmu.


Teh, malam ini, di malam yang panjang ini, datanglah sejenak kedalam mimpiku. Melunasi candu rindu yang kering pekat dan lekat. Sungguh aku sudah tak berdaya, dikejar bayang-bayang kerinduanku sendiri.


Selang kususun bagian-bagian hariku dalam bingkai waktu, tak kupahami lagi tanda-tanda zaman yang mengungkap keberadaan kita, atau sertamerta menguak tabir-tabir misteri di labirin kelam dinding -dinding kehidupanku. Walau senja yang turun kini telah mengirim gerimis ke permukaan tanah kering gersang, tapi di kejauhan, dibalik kelam, tampak hujan dan pancaran kilat halilintar menyambar-nyambar kota. Kini, ... aku semakin mencintai hitam, seraya berdoa :


Tuhan
Beri aku tenaga. Saat ini dayaku kehilangan cahaya. Bagai api lilin yang kehabisan sumbu, redup dan lenyaplah pelita ku. Aku berada dalam kegelapan nisbi belaka.


Tuhan
Beri aku tenaga. Saat ini fikiranku kehilangan nalar. Bagai hantu yang tentakelnya menjalar, jerat dan mengikat gerakku tanpa tindak. Aku berada di pusingan takdir diamnya batu.


Tuhan
Beri aku kompas. Saat ini mata-angin telah berubah. Bagai pengetahuan yang hilang arah, ia dekap aku dalam kedunguan. Aku terjebak dalam waktu yang tidak berjalan.


Tuhan
Berilah aku waktu. Tak gunalah aku jika Kau tak gunakan. Jadi Khaidir atau jadi Fir’aun, jadi Ghandi atau jadi Hitler. Kembali ke fitrahku yang Kau rencanakan.


Andai aku tak guna lagi, ya Tuhan...dalam sujudku.... kembalikan aku ketempatMu. Di tempat yang sama. Di sisi sang istri, sang permaisuri…......




Kelelahan berkubang dalam kelam,
-.Swamimoe.-



Jumat, 07 Desember 2007

GURATAN 12

Dear Diar,

Selamat Dini Hari Sayang,…

Happy B’Day Teteh… dengan sekuntum bunga malam ini, mas menyalakan lilin untukmu.. tapi maaf, tanpa cake tanpa makanan dan tanpa minuman. Juga tanpa musik dan ajakan dansa, yang kemudian berakhir di suasana yang paling mesra. Aku hanya rayakan ulang tahunmu sendiri. Semoga kamu juga hadir disini, teh. Paling tidak, itulah harapanku saat ini. Menikmati kesunyian malam dan lantunan doa-doa. Nanti siang, aku akan menyinggahi rumahmu, mengganti pelepah kuntum-kuntum bunga kemarin yang telah kering dengan kuntum-kuntum bunga baru. Semoga doa yang kutitipkan pada pelepah dan kuntum bunga segar itu sampai dengan segera dan bisa membuatmu nyaman dan bahagia disana, di hari ulang tahun mu. Oh ya, akan kumandikan tanahmu dengan Air Yasin…atau Air ayat kursi. Semoga getaran energiku bisa menyejukkan ‘tempat’mu membasuh tubuhmu dan menyemerbakkan harumnya ‘bilik’ penantian itu.


Kuharap hukum kekekalan energi Einstein itu menjadi salah satu bukti nyata bahwa energi doa, energi niat, energi sholat dan energi segala ibadah itu adalah bukan kerja sia-sia…


Malam ini aku membersihkan pintu dan kesetnya, merapikan tempat tidur dan bantal gulingnya… membersihkan segala piring dan gelas… untuk menyamankan mu jika kamu singgah kerumah… ke bilik kita. Hari ini memang sepi… Firman tengah sibuk menyusun hatinya sendiri, merangkai puzle waktu masa depan cintanya. Karena itulah ..aku menunggumu.. menunggu sang waktu sedari tadi.. menunggu hitungan mundur pukul 00.00 tiba, dan …. Hip hip huraaa ………


Mohon jangan ada air mata, jangan ada duka… kelam malam dan warna hitam asesorisku ini bukan tanda lara yang nestapa seperti anggapan sebagian orang… Ia hanya sekedar ketidak-tahuan dan keasingan.. maka biarkan ia menjadi misteri .. sehingga memudahkan kita melihat ‘penerangan’Nya, jika ia datang sewaktu-waktu tak terduga. Bukankah kini ‘hitam’pun juga menjadi warna alammu ?? Hmm, aku masih tetap lugu dan tergugu memahaminya. Maaf kan aku Teh… Maafkan karena terbiar kau terlalu lama menunggu..mungkin dalam galau, dalam gelisah dan takut. Maafkan terlalu lama ku temukan celah yang kuyakini sebagai lubang kecil di dinding pembatas antara ruang kita. Tempurung abadi kita dan hantu penantian kita. Hampir di setiap celah yang nampak ku sisipkan berbagai pesan dan bingkisan, kualiri dan kubasuh dengan doa, dan ku asapi dengan mantra, seraya kuharapkan aliran air doa dan asap mantra itu mengantarkan niat pesanku & bingkisanku padamu. Tolong kau sambut dan beri tanda, agar aku yakin celah mana yang bisa kita percaya … dan menjadi ‘permainan’ baru kita…


Ah.. Jangan kau tertawakan aku, hanya karena purnama yang acap kau tunjuk sebagai penerang yang indah itu tak hadir di kamar hati kita saat ini. Aku percaya Allah menciptakan semua ini dengan begitu sempurna.. dan selalu memenuhi hukum penciptaanNya. IA tak pernah menarik balik janjinya hanya karena kehabisan kesabaran, dan memberikan pengecualian berat sebelah.. HukumNya adalah runutan logis peristiwa yang tak terbantahkan.. Kekeliruan tetap ada dalam persepsi dan anggapan kita saja, sebagai manusia yang alpa dan diciptakan pelupa.


Sementara ini, dengan keterbatasanku, terimalah semua ini dengan santunmu yang selalu kupuji. Sambutlah aku, teh. Kamu sungguh tak pernah berubah dan selalu ada. Selamat Ulang Tahun……




Cium Kecamuk Rinduku dlm penantian,

-.Swamimoe.-

Sabtu, 10 November 2007

Guratan 11. Terus Belajar

Dear Diar,


Salam kerinduan lagi, sayang…

Sebenarnya aku tengah gelisah karena terlalu lama tak temukan sela atau celah pada dinding-dinding pemisah kita. Aku tau kau menunggunya di lintang bidang sebelah dinding ini. Menatap bidang kosong dan kesunyian.. Aku harap kau beristirahat dengan perasaan tenang.. atau jika kau lakukan hal yang sama denganku, lakukanlah dengan riang dan suka cita.. Bagai sebuah hobby yang tak mementingkan hasil, tetapi menyintai prosesnya, aktivitasnya. Jika Tuhan kehendaki, maka kita akan bertemu juga. Berdoalah dan minta selalu hal itu.


Oh ya, adakah kau terima bingkisan-bingkisan doa dan niat energi kerinduanku yang ku poskan melalui pelepah-pelepah basah kuntum bunga-bunga segar yang ku kirim setiap 2 atau 3 hari sekali ? Aku belum mampu mengirimkan paket-paket besar dengan kontainer anak yatim dan orang jompo. Atau kontainer taman kanak-kanak Islam yang selalu kau rindukan kalau rangkai rajutan impian ini sudah mendekati final. Walau kamu berada dalam daerah penantian di seberang dinding ini, tetap akan ku patri dan kulekatkan kontainer-kontainer itu hingga ia menembus dinding dimensi kita ini. Karena itu tenanglah kamu menanti, dan jangan beranjak jauh dari pintu perpisahan kita itu.


Aku masih gamang dan sibuk mengendalikan kayuh dan layar-layar biduk kehidupan kita tanpamu, teh. Malah kini, menggunakan alat-alat unik asing yang lengkap dengan nilai-nilai baru yang patut ku pelajari untuk tetap mampu melayarkan biduk ini sampai ke tepian dermaga harapan. Tanpamu memang biduk ini terasa sunyi dan lengang. Kelucuan-kelucuan tingkah laku bahtera ini mengarungi gelombang sepi memaksa aku untuk geli dan tertawa sendiri. Entah mentertawakan kehidupan atau mentertawai diri sendiri. Dendang-dendang mu ketika bersenandung mengerjakan sesuatu, tak pernah ku dengar lagi. Tapi nada dan getar suaramu masih kurawakan.. Aku begitu takut, jika getar gelombang itu semakin lama semakin lirih melemah, seperti riak air di danau yang semakin jauh maka semakin menipis.


Sejak beberapa waktu yang lalu, setelah kepergianmu, Eka sering menghubungiku, berbincang dan juga menceritakan tentangmu. Ada juga berapa teman yang tetap setiap ‘menziarahi’ memori-memori tentangmu, tetapi sebagian besar lainnya memang dijebak dengan perangkap dunia dan terali penjara lingkungan. Ya, kenangan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan hari ini…selebihnya kealpaan.


Aku juga menyibak lembaran-lembaran syair langit di mayapada atau catatan-catatan kitab suci. Seperti kata pepatah, alam terkembang jadi guru, maka kita mencoba berguru pada yang Satu. Namun semakin kita mencoba memahami hidup maka semakin jauh kita dari mengerti, serta semakin kecil dan sederhana apa yang kita ketahui. Mungkin, mati adalah proses memahami hidup secara keseluruhan dan sempurna. Agaknya kamu telah lebih dahulu tahu dan memahami hidup secara hakiki. Kalau saja iya, kabari aku segera, dan berikan tanda-tandanya. Ok ? Bravo !!



Butiran embun rindu renyah,
-.Swamimoe.-