Jumat, 09 Maret 2007

Guratan 01

Dear Diar...

Selamat malam, sayang.

Maafkan bila goresan pena Masmu ini mengganggu tenangnya istirahat mu saat ini. Betapa egonya aku, mengganggumu untuk selesaikan masalahku, apapun itu. Tapi semua hal itu selalu mengait dengan kamu. Hingga kini aku masih tetap gelisah dengan kekhawatiran yang terbungkus dalam segulung kerinduan yang tak berkesudahan. Aku mulai menduga ini sebagai fenomena. Apakah ini bukan tanda-tanda yang kamu sampaikan ? Seperti juga aku yang selalu mecari celah yang mungkin dapat ‘mengintip’ informasi tentangmu, tentu kamu akan jauh lebih intens mengais celah itu, celah yang menghubungkan jarak kita. Celah untuk menyampaikan keadaanmu atau mengucapkan salam terakhirmu, seperti biasa kita lakukan untuk membunuh risau.


Sayang, I know you ‘damned’ well. Betapa sabarmu yang tiada henti mewujudkan itikad tanpa kehilangan ‘penyerahan diri’ atas segala keterbatasan. Perjuangan menghadang selusur sakit dan kepasrahan kesabaran menerima itu semua telah menguncangkan aku, manakala nilai-nilai itu akhirnya mewujud dalam bingkai utopia. Adakah kamu tahu, pelajaran apa yang diakibatkannya ? Tentu, karena selalu kamu kuatkan aku dari keraguan nilai-nilai itu. Bahwa tak akan luput dari penilaian Sang Evaluator Tunggal. Sedangkan manusia hanyalah evaluator cibir yang menggincu bibir. “Bertahanlah mas, dan kita akan semakin kuat !”, ujarmu sekali waktu ketika mengingatkanku. Lalu senyummu itu bergulir begitu sejuk (Amboi..!), meredam dendam yang ledakan merah di dadaku.


Neng,

Ketika semua orang berlalu dan berangsur-angsur menghapus bayang mu dengan begitu cepat. Aku tidak. Semakin ku coba untuk me’wajar’kan kepergianmu, semakin mengganggu kepercayaanku. Menghadirkan ketidak mengertianku atas segala sesuatu. Bertanya adalah pekerjaan sia-sia yang menyiksa...! Suatu ketika kucoba sampaikan kegusaran ini kepada Ibunda, dan ia memandangku menjadi begitu aneh dan sedih. Apalagi ketika dengan Mama yang pragmatis autoritarian, atau Pakcik yang sering tampak menjadi hedonis tapi mistikus religius itu, pasti kamu sudah mengira hasilnya. Aku harus membekali diri dengan beberapa lapis ‘baju’ kesadaran hati untuk siap menjadi 'tertawaan' our society ... Tampaknya hanya ‘selusur meniti-cari’ adalah jalan yang layak tempuh bagiku.


Jadi, maafkan lah masmu ini yang tak cukup pandai membaca sandi-sandi bahasamu, tapi rasa sepi, asing dan ketakutan itu telah kurasakan. Lamanya proses aku memahami ‘pesan’ itu membuat aku begitu khawatir. Kekhawatiran berlebihan sehingga membuat aku menjadi begitu paranoid. Was-was dan masgul yang begitu menakutkan dan selalu membawaku memikirkan keadaanmu. Sungguh, kerinduanku kepadamu menuntut kepastian !! Kepastian tetang keadaanmu sehingga segera ku mencari apa dan bagaimana cara yang harus ku lakukan untuk melunainya mengirimkan ‘sesuatu’ yang bermanfaat bagimu saat ini dan kelak.


Aku tak diizinkan menyertai dan menemanimu melakukan pengembaraan misteri itu kini. Aku masih menanti dalam antrian sederetan giliran panggilan, seperti yang direncanakan olehNya. Bila kesempatan itu tiba, ku tanggalkan pakaian fana ini, berlari menyusulmu sesegera mungkin dan ikut mengurai ‘misteri kelam’ itu bersama menuju hakikat. Nantikanlah aku....



Aku yg mencarimu,
-.Swamimoe.-

Tidak ada komentar: