Kamis, 13 Desember 2007

GURATAN 13


Dear Diar,

Selamat malam, Teh !
Malam ini adalah malam ke 420 aku merindumu. Rindu panjang dan melelahkan. Aku tak dapat menyederhanakan fikiran dan hatiku sekalipun dalam tawa dan kepura-puraan. Pemalsuan yang membosankan dan mulai terasa menjijikan. Aku sangat merinduimu. Maafkan aku. Maafkan kalau hal ini menganggu ketentraman istirahatmu.


Teh, malam ini, di malam yang panjang ini, datanglah sejenak kedalam mimpiku. Melunasi candu rindu yang kering pekat dan lekat. Sungguh aku sudah tak berdaya, dikejar bayang-bayang kerinduanku sendiri.


Selang kususun bagian-bagian hariku dalam bingkai waktu, tak kupahami lagi tanda-tanda zaman yang mengungkap keberadaan kita, atau sertamerta menguak tabir-tabir misteri di labirin kelam dinding -dinding kehidupanku. Walau senja yang turun kini telah mengirim gerimis ke permukaan tanah kering gersang, tapi di kejauhan, dibalik kelam, tampak hujan dan pancaran kilat halilintar menyambar-nyambar kota. Kini, ... aku semakin mencintai hitam, seraya berdoa :


Tuhan
Beri aku tenaga. Saat ini dayaku kehilangan cahaya. Bagai api lilin yang kehabisan sumbu, redup dan lenyaplah pelita ku. Aku berada dalam kegelapan nisbi belaka.


Tuhan
Beri aku tenaga. Saat ini fikiranku kehilangan nalar. Bagai hantu yang tentakelnya menjalar, jerat dan mengikat gerakku tanpa tindak. Aku berada di pusingan takdir diamnya batu.


Tuhan
Beri aku kompas. Saat ini mata-angin telah berubah. Bagai pengetahuan yang hilang arah, ia dekap aku dalam kedunguan. Aku terjebak dalam waktu yang tidak berjalan.


Tuhan
Berilah aku waktu. Tak gunalah aku jika Kau tak gunakan. Jadi Khaidir atau jadi Fir’aun, jadi Ghandi atau jadi Hitler. Kembali ke fitrahku yang Kau rencanakan.


Andai aku tak guna lagi, ya Tuhan...dalam sujudku.... kembalikan aku ketempatMu. Di tempat yang sama. Di sisi sang istri, sang permaisuri…......




Kelelahan berkubang dalam kelam,
-.Swamimoe.-



Jumat, 07 Desember 2007

GURATAN 12

Dear Diar,

Selamat Dini Hari Sayang,…

Happy B’Day Teteh… dengan sekuntum bunga malam ini, mas menyalakan lilin untukmu.. tapi maaf, tanpa cake tanpa makanan dan tanpa minuman. Juga tanpa musik dan ajakan dansa, yang kemudian berakhir di suasana yang paling mesra. Aku hanya rayakan ulang tahunmu sendiri. Semoga kamu juga hadir disini, teh. Paling tidak, itulah harapanku saat ini. Menikmati kesunyian malam dan lantunan doa-doa. Nanti siang, aku akan menyinggahi rumahmu, mengganti pelepah kuntum-kuntum bunga kemarin yang telah kering dengan kuntum-kuntum bunga baru. Semoga doa yang kutitipkan pada pelepah dan kuntum bunga segar itu sampai dengan segera dan bisa membuatmu nyaman dan bahagia disana, di hari ulang tahun mu. Oh ya, akan kumandikan tanahmu dengan Air Yasin…atau Air ayat kursi. Semoga getaran energiku bisa menyejukkan ‘tempat’mu membasuh tubuhmu dan menyemerbakkan harumnya ‘bilik’ penantian itu.


Kuharap hukum kekekalan energi Einstein itu menjadi salah satu bukti nyata bahwa energi doa, energi niat, energi sholat dan energi segala ibadah itu adalah bukan kerja sia-sia…


Malam ini aku membersihkan pintu dan kesetnya, merapikan tempat tidur dan bantal gulingnya… membersihkan segala piring dan gelas… untuk menyamankan mu jika kamu singgah kerumah… ke bilik kita. Hari ini memang sepi… Firman tengah sibuk menyusun hatinya sendiri, merangkai puzle waktu masa depan cintanya. Karena itulah ..aku menunggumu.. menunggu sang waktu sedari tadi.. menunggu hitungan mundur pukul 00.00 tiba, dan …. Hip hip huraaa ………


Mohon jangan ada air mata, jangan ada duka… kelam malam dan warna hitam asesorisku ini bukan tanda lara yang nestapa seperti anggapan sebagian orang… Ia hanya sekedar ketidak-tahuan dan keasingan.. maka biarkan ia menjadi misteri .. sehingga memudahkan kita melihat ‘penerangan’Nya, jika ia datang sewaktu-waktu tak terduga. Bukankah kini ‘hitam’pun juga menjadi warna alammu ?? Hmm, aku masih tetap lugu dan tergugu memahaminya. Maaf kan aku Teh… Maafkan karena terbiar kau terlalu lama menunggu..mungkin dalam galau, dalam gelisah dan takut. Maafkan terlalu lama ku temukan celah yang kuyakini sebagai lubang kecil di dinding pembatas antara ruang kita. Tempurung abadi kita dan hantu penantian kita. Hampir di setiap celah yang nampak ku sisipkan berbagai pesan dan bingkisan, kualiri dan kubasuh dengan doa, dan ku asapi dengan mantra, seraya kuharapkan aliran air doa dan asap mantra itu mengantarkan niat pesanku & bingkisanku padamu. Tolong kau sambut dan beri tanda, agar aku yakin celah mana yang bisa kita percaya … dan menjadi ‘permainan’ baru kita…


Ah.. Jangan kau tertawakan aku, hanya karena purnama yang acap kau tunjuk sebagai penerang yang indah itu tak hadir di kamar hati kita saat ini. Aku percaya Allah menciptakan semua ini dengan begitu sempurna.. dan selalu memenuhi hukum penciptaanNya. IA tak pernah menarik balik janjinya hanya karena kehabisan kesabaran, dan memberikan pengecualian berat sebelah.. HukumNya adalah runutan logis peristiwa yang tak terbantahkan.. Kekeliruan tetap ada dalam persepsi dan anggapan kita saja, sebagai manusia yang alpa dan diciptakan pelupa.


Sementara ini, dengan keterbatasanku, terimalah semua ini dengan santunmu yang selalu kupuji. Sambutlah aku, teh. Kamu sungguh tak pernah berubah dan selalu ada. Selamat Ulang Tahun……




Cium Kecamuk Rinduku dlm penantian,

-.Swamimoe.-