Rabu, 25 April 2007

BUAT YANG TERUS MERINDU



bertanyalah pada Sang Waktu,
bagai mana Adam dan Hawa dipertemukan.
bagaimana Rama dan Shinta kembali dipersatukan


rinduku padamu
seperti rindu kemarau pada hujan
tanah ini telah kerontang dan retak
semak meranggas


burung-burung entah dimana
kupu-kupu entah kemana
mawar tak lagi mengenal bunga


sungai kecil itu sudah lama kering
gersang sepanjang mata memandang


aduhai...
bila awan berubah kelabu
dan warna hitam membayang sendu
aku mengira hujan lebat akan menderu


tapi kemarau ini
belum juga berhenti
kemarau ini terlalu panjang
kapan kau pulang
kapan hujan akan menyiram pematang




Sabtu, 21 April 2007

LEDAKAN RINDUKU



akh...
bagiku kini semua tampak kelabu
diusik rindu yang bermukim di kalbu
burung, hujan, mawar ataupun kupu-kupu
bukanlah yang diharap oleh seorang perindu
karena, hanya pertemuanlah penawar rindu.

kasihmu adalah lautan biru permai
yang deru ombaknya berdebur dipantai
sedang aku sekelompok nyiur melambai
yang gundah pucuknya gelisah menggapai

tahukah engkau
ledak rinduku yang memuncak
adalah sebab cinta yang berjarak ?

Wahai Yang Arif,
jangan biarkan asa cintaku bagai ombak
dari jauh berlari mengejar pantai
sudah sampai pecah berderai

Kamis, 19 April 2007

KAMIS MALAM



Tuhan
Dari Kamis malang
Jiwaku nyetan !!

Seribu iblis terbang
dan aku ikut melayang
tengelam dalam lautan awan
bergerak berlawanan
ketidakberaturan

Amboi, angin bertiup hujan deras
iringi seribu iblis yang lepas
sementara mereka bergerak lugas
aku sibuk mencari yang paling buas
menumpang ditanduknya yang ganas

Oooh panas hawa tubuhku panas
Nuraniku dipasung nafsuku beringas
Ada
amuk didadaku menggeragas
Menuntut dendam ini terbalas

Oooh panas hawa tubuhku panas
Didih cecairan menggelora panas
Ubun ubunku mengepul uap panas
Kulit tubuhku memerah panas

Oooh panas hawa tubuhku panas
Bagai buldozer ia menggilas
Setiap penghalang ku tebas tuntas

Tanpa perasaan
Ku hirup darah hingga kering tandas

Adakah air dari tujuh sumur tujuh muara
Yang sejuknya mampu mendamaikan amuk
Mencuci rongga dadaku dari anyir dan bau busuk
Mengusir segala dedemit yang datang merasuk
Meredam api dendam untuk merendah bertekuk?

Tuhan
Si Kamis malam
Menyetani jiwaku !!





Selasa, 17 April 2007

G A P

(untuk menghadang curigamu, teman!)

aku di sini
kau di sana

aku lihat kau
kau lihat aku
aku kenal kau
kau kenal aku
aku pedulikanmu
kau pedulikanku
tapi...
kapankah kita ketemu ??

waktu berjalan begitu kencang
lalui titian yang begitu panjang
ketika angin menyapunya senjang
tiang tiang bergoyang
pasak pasak terbang
taiklah dengan tali kasih sayang
yang kau sambung lalu kau putuskan di tangan
bagai mantra asing sering kau tembangkan
maaf! itu bukan doa, tapi sampah
kepercayaanmu,... juga sampah
yang racuni pikiranku kala aku lengah
dan di dadaku kini penuh serapah...
sumpah !!

aku disini
kau disana
aku tidak nampak kau
kau tak perlu lihat aku
aku belum mengenalmu
akh... untuk apa kau kenali ku ?

pompa jantungku adalah kepedulian
sedang kau ? Taiklah dengan kepedulian !
beda era beda peradaban
kamu di dunia
aku di neraka
masih mau jumpa ?

sekarang aku berlari
tak usah kau cari
kalau ada yang tanya nanti
bilang saja aku pergi
diujung merahnya mega aku menanti...


Minggu, 15 April 2007

RINDUKU BERDARAH



Ooh bejana..
karena kau aku tak tahan
jiwaku kering dan keriputan
jantungku menyedot kehampaan
haus darah sebuah perjumpaan
yang lama kehilangan sentuhan
dan terbakar api kerinduan

Ooh bejana..
aku mau muntah
terima semua serapah
semua rasa bernanah
walau tak satupun terlimpah
mendengarmu dadaku begah
sekarang beri aku darah...

Sudahlah bejana, katup mulutmu...
dari semua unsur yang kau cairkan
enzimku tak mampu menggurah
hormonku bereaksi pasrah
dari semua unsur yang kau suntikkan
saat ini aku hanya perlu sekantung darah
untuk menghilangkan jeda celah

Tahukah kau
kerinduan yang menyengat ini adalah cinta yang berjarak?
dan aku tak mampu merapatkan renggangnya
maka beri aku darah
atau kureguk itu ditubuh kalian yang tersisa



Selasa, 10 April 2007

Guratan 4




Dear Diar,

Selamat malam,
Tak habis kupikir dan kucatat fenomena, ternyata miring poros bumi memang bukan satu-satunya alasan perubahan cuaca. Alasan akurat lain adalah pengaruh lengkung samar malu-malu yang hilang timbul tersungging saat bertemu (Amboi, teduhnya itu!).
Dan sungguh berhasil dibuatnya, satu tempat sunyi di ruang dadaku, menjadi sedikit lebih hangat untuk beberapa waktu, hingga ada sesuatu yang terus bergerak berproses, memperlebar wilayah harap, .... sambil juga berharap sedikit-banyak terciprat pesonanya meski sedikit. Dan apakah kamu tahu apa yang terjadi saat ini, saat kamu tak ada disini ?

Oo, kasih !

Tahukah kamu, betapa berartinya kamu bagi diriku, dan semakin 'menggila' arti itu saat ini, kala kamu betul-betul tak akan pernah ada lagi disisiku selamanya... Kesadaran itu menguras habis seluruh rasa di ruang pengalaman bathinku... Ternyata, kamu terlalu ...terlalu berharga ! Aku tak dapat menguraikan sempurna keadaanku saat ini... Aku pun tak dapat bercerita dengan siapapun selain kamu... Mata mereka, respon mereka, sikap mereka ...akh ! sungguh aku tak bisa menerimanya ... serasa aku ingin membakar dunia ! Aku sadari sekarang... aku betul-betul sendiri... tiada teman, tiada sahabat, tak ada saudara, tak ada Bunda...bahkan Tuhanpun seakan enggan berbincang, menerima segala keluh kesah !!

Sejujurnya saat menulis surat ini pun aku sedang gemetar. Kurasa getaran bathinku ini mencari muaranya di permukaan fisik. Apalagi tepat sore tadi kala mandi (hampir serupa dengan mandi-mandi di waktu lainnya), air pancuran itu telah mengusapku selembut kamu, sehingga walau mandi usai, percik airnya menggelegakkan dada dan terus mengalir ke mata dan hatiku,...sekumpulan meteorit menghujam ke wajah bumi pujaanmu ini !
Aku kritis, stadium ujung !! Siapa yang tahu ?
Tolonglah aku !!!

Siapa pula yang berani berbuat onar, memporakporanda dan meresahkan seluruh penghuni di rongga dadaku ?? Tiada sesuatupun yang masih utuh rapih di tempatnya !!

Akh.., sudah lah,. sudah dulu ya !!
Ampunkan aku kalau
surat ini harus berhenti di titik nadir kegelisahan. Aku hendak mencari pertanggungjawaban!


Salam paling indah, baik-baiklah kau di sana.
-.Swamimoe.-

Kamis, 05 April 2007

MERADANG RINDUKU

Hari ini kelabu
waktu berjalan tak tentu
atau justru berhenti membatu

Rindu ku padamu memuncak
tak mampu ku elak
walau sejenak

aku tersesak
ia meringsek mendesak
mengoyak selaput tatakramaku
satu demi satu

aku tak dapat lagi menunggu
pencarianku tak mengenal waktu
walau terlepas dan telanjang kulitku
ia terus meradang
hingga jadi tulang

kini aku sekarat
jiwaku di kerat
menahan ledak dadaku tak kuat
ia butuh saluran untuk muncrat