Selasa, 10 Juni 2008

Guratan 18 : P E N Y E S A L A N K U




Selamat Malam, Sayang !


Kembali ribuan ampun ku mohonkan pada Mu ya Allah bila ribuan doa tak senonohku telah ku haturkan kepadaMu untuk keampunanMu dan kenyamanan penantian istriku di kemegahan singgasanaMu. Waktu tak pernah menawarkan sesaatpun penawar kerinduan dan pengetahuan padaku akan keberadaan belahan bunga jiwaku itu di sisiMu. Darah yang mengalir dari cabikan belahan itu tak juga pernah mengering. Hari ini, dimalam ke 600 hari ku tenggelam dalam perigi sunyi tak berpenghuni, nyanyian detak tetesan darah itu menggelapkan merahnya jantungku merejam gelisah.


Maafkan pula diriku, sayang, apabila ketukan-ketukan tuts keyboard ini membuat gaduh bilik tenangmu. Ketukan-ketukan keputus-asaan di pintu mimpi wajahmu yang kukuh terkunci penuh. Hanya selapis-selapis kenangan teramat manis menjadi teman sepermainan di sepanjang perjalanan anganku. Dan dari angan yang sama itu pun kini merebak pula tetes-tetes darah sedih kedukaan perpisahan kita. Aku tak mampu membendungnya, sayang.


Maafkan juga aku jika kini ku teguk tetes demi tetes butir darah itu ke kerongkongan ku yang kering ini, sekadar membangkitkan kembali semangat merajut mimpimu yang tak selesai. Meski tak terjawab dalam pencarianku, kuharap sisa mimpi itu membawa pencaran berkah pesan dan peluang pertemuan kita kemudian. Adakah kamu setuju, Teh ? Aku tak pernah dapat memutuskannya tanpa anggukanmu. Dan kini, kau tampak semakin anggun walau tanpa anggukan itu.


Di jenjang panjang penulisan thesisku ini, 14.400 jam kutermangu dihadang sesalku yang tak habis bergayut, dan terpaku di 864000 waktu. Seolah aku begitu dungu kehilangan arah pencapaianku, serta kehilangan orientasi tujuan kita. Ingatanku terlepas dan melekat di langit-langit kamarku, menjadi jaring-jaring beku yang menjerat langkah tirakat keyakinan kita, Semua itu membuatku semakin khawatir kini ! Disini, jantung tuaku telah digilas-gilas waktu yang tak lagi mampu memompa darahku untuk menciumi merahnya sungging senyumrmu. Dan jiwaku terhanyut dimainkan gelombang di lautan kerinduan kita. Seperti cerita di dongeng masa kanak-kanakku, aku telah gagal menyematkan satu kalipun kecupan pangeran yang menyadarkan tidur panjang sang putri. Aku tak bisa melepaskan rasa penantianmu terhadapku. Rasa yang selalu melekat dibenakku sejak dulu, sepanjang waktu. Rasa yang selalu kau buktikan kesungguhannya, kebenarannya. Tak pernah teragukan.


Teteh, malam semakin larut. Rinduku akut. Separuh dari sisa jiwaku larut dalam carut marut sengitnya persaingan kalut. .Malam ini...di keping ke 600 malam kepergianmu, izinkan aku mengharapkanmu sempat menyambangi penggal mimpiku, mengobati gejolak sesak dadaku, dan ku sampaikan tikaman di 51.840.000 saat sesalku yang tak berujung ini. Sayang, malam ini biarkanlah aku mendekapmu di lelap tidurku.-


Seperti mengerti suasanaku, di lantai bawah tape bung Tengku Mohd. Khairal berdendang sebuah lagu..


Aku memang tak berhati besar
untuk memahami hati mu disana
aku memang tak berlapang dada
untuk menyadari kau bukan milikku lagi
dengar-dengarkan aku, aku akan bertahan
sampai kapanpun – sampai kapanpun


OOoh
maafkanlah aku yang tak sempurna tuk dirimu
usailah sudah kisah yang tak sempurna untuk kita kenang
dengar-dengarkan aku, aku akan bertahan
sampai kapanpun – sampai kapanpun


andai aku dapat merelakan setiap kepingan ukiran kenangan indah
andai aku sanggup menjalani setiap detik dan waktu mendatang dan oh
dengar-dengarkan aku, aku akan bertahan
sampai kapanpun – sampai kapanpun


Aliran darah rinduku,
-Swamimoe.-