Biarkanlah aku mampus merinduimu kali ini, sayang
Disetiap purnama yang sempurna itu datang ,
kurasakan keping demi keping sisa sentuhan pelukanmu yang begitu lama ku harapkan mampu hadir kedalam impian setiap detik tidurku yang tak pernah membawa tenang
hingga kini aku tak kuasa menolak geram liar isi dadaku menumpahkan nanar gelisahnya yang demikian panjang
meregangkan kerat-kerat otot tua tubuhku hingga berderak gemerutuk melepaskan geraknya menjadi penari kelam,
mengikut aroma asap dan aura isi hutan, maka biarkanlah jiwaku tetap menari, berlari, berguling dan bergelinding
Biarlah rinduku menangis kali ini, sayang
Ada wajahmu di setiap tetes bening air mata itu yang kulihat
Biarlah raungan isak gelisahku menggema di dinding-dinding ngarai kalbuku
Ada bisik lembut suaramu kudengar disetiap kali isakku itu melantun panjang dan parau