Rabu, 04 Maret 2009

Guratan 21: IZINKAN


Biarkanlah aku mampus merinduimu kali ini, sayang


Disetiap purnama yang sempurna itu datang ,

kurasakan keping demi keping sisa sentuhan pelukanmu yang begitu lama ku harapkan mampu hadir kedalam impian setiap detik tidurku yang tak pernah membawa tenang

hingga kini aku tak kuasa menolak geram liar isi dadaku menumpahkan nanar gelisahnya yang demikian panjang

meregangkan kerat-kerat otot tua tubuhku hingga berderak gemerutuk melepaskan geraknya menjadi penari kelam,

mengikut aroma asap dan aura isi hutan, maka biarkanlah jiwaku tetap menari, berlari, berguling dan bergelinding

mengutuk dungu jadi batu


Biarlah rinduku menangis kali ini, sayang

Ada wajahmu di setiap tetes bening air mata itu yang kulihat

Biarlah raungan isak gelisahku menggema di dinding-dinding ngarai kalbuku

Ada bisik lembut suaramu kudengar disetiap kali isakku itu melantun panjang dan parau



(aku hanya mencuri kagum dengan telingaku, berharap suaramu sempat memanggil...)