Jumat, 22 Juni 2007

K E N A N G A N



K’tika semua kenangan terpapar jelasnya
kulihat kau melintas dibalik riak air mata hari
yang mengalir teratur di tiap ingatan terjaga
biarpun tersenyum …
wajahmu mencibir pada keberanian dan keyakinan
yang selalu ku ikrarkan sebagai benteng terakhir
milik kita yang ternyata keliru

Tanpamu,
pengalaman adalah himpunan kenangan menyakitkan
dan aku kehilangan diriku
setelah ternyata tiada satu kenyataanpun yang nyata
terlalu menyakitkan

Senin, 11 Juni 2007

Guratan 7



Dear Diar,

Selamat pagi, Neng.

Bagaimana khabarmu, sayang ? Semakin nyamankah tidur panjangmu saat ini ? Ku harap tiada sesuatupun yang datang mengganggu, mencuri gulingmu yang biasa kau dekap pengganti diriku, atau bantal yang tak pernah kamu pakai bila terlelap. Ihh, kamu selalu menarik lengan ku dan ‘membantalkan’nya hingga kebas kesemutan, ingatkah kamu ? Tapi, selalu saja aku suka kamu perlakukan begitu, sehingga mega fajar menjelang tiba. Peristiwa-peristiwa kecil dan sederhana yang mustahil aku lupa !.

Hingga pagi ini, ketika tadi terjaga dan kulengkapi keping demi keping kesadaranku sempurna, masih saja kudapati duka itu menetap memelukku, menggantikanmu, menyelimuti. Baru malam tadi aku boleh tidur pulas setelah dua hari dua malam aku tak bisa tidur. Mengerjakan bagian-bagian thesisku yang harus ku serahkan kemarin kepada penyeliaku. Ternyata banyak sekali detail-detail yang tertinggal selama ini. Progressku yang begitu lambat. Seakan hampir-hampir aku berlari di tempat. Pasti kamu tak mengharapkan hal itu, tapi begitulah aku. Gambaran kernyit di keningmu tampak jelas begitu dalam. Namun senyummu tak pernah hilang.

Kau begitu mengenalku lebih baik dari aku sendiri, terlebih kala aku diradang nafsu dendam terpendam. Seperti permainan puzzle yang memabukkan, melupakan segalanya, aku asyik memutar dan membolak balik keping puzzle itu dengan imajinasi rumit ‘mewujudkan detik-detik penghancuran itu’ agar tetap selalu berada didalam bingkai puzzle berkenaan. Hahaha, kadang ketika kesadaran religiku hadir, aku merasa begitu ngeri dengan ‘degub kesunyian’nya, sunyi tak bertepi. Percayakah kamu ?

Gangguan fikiran dan perasaanku terhadapmu tak selalu bisa ku jinakkan. Ia begitu liar bagai pecahan partikel uranium yang melebur dalam proses fusi nuklir suhu tinggi. Itupun gagal ku siasati menjadi daya dorong katup-katup listrik syarafku yang menggerakkan tenaga produktif tubuhku menyelesaikan thesis secepat mungkin. Sungguh, inilah kebodohan kesadaranku yang selalu jadi ‘benar’ !! Tapi sungguh, sayang !. Inipun bukan suatu alasan untuk menyalahkanmu. Bahkan tiada bintik khilafpun yang sempat kamu bubuhkan. Semua begitu sempurna. Kuharap jangan membuatmu bersedih atau merasa tersudut. Itu hanya sekedar letup rasa rindu ku yang tak tahu harus kutuangkan kemana. Dan seperti kataku sebelumnya, perasaan rindu adalah cinta yang berjarak. Dan aku, tak pernah mampu merapatkan jaraknya.

Minggu belakangan ini, aku acap ditemani seorang kawan lama di kejauhan. Sahabat masa kecilku, masa unik tempo kita belum mengenal derita. Entah kenapa Tuhan mengirimkan silaturahminya, sementara yang lain menyusun jarak dengan rapih dan membangun barisan. Aku berusaha menjadi penonton, paling tidak penonton yang menyaksikan dan mencoba memahami pekerjaan Tuhan yang sedang berlangsung.

Sungguh Tuhan,
Engkau maha kuat,
sedang aku papa dan lemah
hidupku hanya apa yang Kau bagi-bagikan
aku tak mampu mengubah
atau sedikit menggeser bagian yang terkecilpun
dari Karya Besar rencanaMu.

Sungguh Tuhan,
aku tak pernah sanggup
walau sekadar mengambil peran sederhana
menjadi khalifahMu di jagat fana ini
sementara itu,
menyusun kelengkapan diri yang Kau hadiahipun
aku tak kuasa

Sungguh Tuhan,
aku tak mampu
menjunjung syukur atas segala anugerahMu
sedangkan…
merawat pemberianMu yang tersisapun
aku tak berdaya

Sungguh Rabb,
Aku tak guna jika Kau tak ingin gunakan.

…………..

Petang kemarin ku coba sesaat untuk sport. Aktivitas yang sudah berbulan-bulan tak kusentuh. Bersama beberapa teman, aku bermain squash. Gembira memang, aku dapat menikmatinya. Keberadaan teman-teman itu menggembirakan. Tapi tetap tak mampu mengusir kedukaan itu, hingga akhirnya ku pikir mungkin ia memang akan selalu melekat sepanjang sisa hidupku. Hantu sejati.

Akh !! Kembali gambaran itu muncul dan nampak begitu jelas. Vision. Apakah ini isyarat darimu atau halusinasi ? Wajahmu begitu jelas dan begitu detail. Bahkan tanda gerak-gerak halus tahi lalat di keningmu begtu jelas. Kamu merasa kehilangan dan mencari aku… itukah yang ingin kamu sampaikan, dinda ? Akupun demikian. Kini berada di ujung ambang ! Carilah cara dan bila kau temukan gengamlah tanganku sesegera mungkin. Disitu, ada sesuatu yang telah kutitipkan kepadamu. Maka rawatlah ia tanpa duka tanpa kesedihan. Tanda bahwa kita pernah ada dan tetap selalu ada, ia memenuhi ruang di segenap penjuru angin. Ingatkan itu aku selalu.


Dengan butiran rindu bertabur…,
-.Swamimoe.-


NB:

Oh ya ! Aku pernah sampaikan penantianku pada seseorang. Lalu apa kata mereka ? Bid’ah … ha ha ha Bahkan airmataku bid’ah pula ! Apa hak mereka memasung pandangan mereka sendiri, sementara Tuhan mereka menganjurkannya ! Apa yang mereka tahu tentang bid’ah ? Dasar pemuja berhala simbul yang narsis’, aku sudah ‘get out’ dari situ ! Lalu mas bilang, kalau itu yang mereka anggap kebenaran, selamat tinggal…walau belum ku temukan ‘kesejatian’ itu, tapi daya hidupku menolak ‘menetapi kejahiliyahan’. Aku musti ‘hijrah’ ! Setuju ?

Rabu, 06 Juni 2007

Guratan 6



Dear Diar,

Selamat malam,Teh.

Aku singgahi peraduanmu, tadi. Aku jengkel. Maafkan aku. Hampir seminggu yang lalu ku ganti rumput ditamanmu. Himpunan rumput-rumput Gajah itu telah bervariasi dengan rumput Jepang. Kata orang mempercantik berandamu, tapi kataku dapat menggantikan contoh pelepah kurma yang di tancapkan Nabi ke sebuah pusara. Hendaknya hal itu bisa menjadi abadi. Ingatkah kamu kisah itu ? Hmh.., ada sedikit suasana yang melegakan rongga dadaku. Seperti kegerahan terik matahari siang yang seketika teduh di pintu ruang ber AC.

Aku di temani Pak Dasman dan Ibu, berikut dengan cerita gulai rebungmu yang kau hadiahkan kepada mereka. Gulai rebung tak terlupakan. Mulanya mereka begitu berhati-hati memancing pembicaraan 'rebung' itu padaku. Takut membangun kesedihan. Kuharap doa yang kutitipkan pada rumput-rumput itu menghantarkan kenyamanan tidurmu di dalam sana.

Tapi, ketika datang tadi rumput itu sudah tak ada, hilang beserta akar-tanahnya. Siapa jalang yang berani mempermainkan aku. Aku ingin tahu, sekaligus membuat perhitungan maksimal dengannya !! Ada alasan aku mempersingkat perjalanan fanaku dan segera menghampirimu. Sebuah kesempatan. Tapi akhirnya, dalam renunganku kupikir hilangnya rumput itu hanyalah tanda. Bahasa Tuhan yang sedang disampaikanNya. Aku memang bodoh dan masih bodoh. Tak dapat menangkap syair keramat yang dilantunkanNya lewat alam, lewat bahasaNya. Aku merasa seperti semakin kecil dan terasing, di lingkungan yang mempermainkanku.

Aku baru melintasi suasana itu. Dimana aku ingin tak perduli dengan tatapan orang lain, yang tak memperdulikanku. Aku baru melintasi jalan itu, dimana kesunyian begitu memagut. Seakan semua hati tertutup, mendung menutupi mentari, burung-burung berhenti bernyanyi, angin tak lagi berhembus. Tiada pintu yang terbuka bagi kehadiran ke’aneh’an rasaku dan pikirku. Tidak teman, sahabat ataupun bahkan keluarga. Aku tersisih di negeri asing.

Ketika matahari pagi bersinar, tak ku kenal lagi matahari itu. Seperti mawar yang tak mengenal bunga. Hangatnya tak sampai menyapa embun yang membasuh wajahku. Aku berfikir sejenak. Adakah perubahan yang terjadi pada diriku ? Berapa besar perubahan itu ? Sesaat aku tenggelam dalam pergulatan renungan.

Masih tersisakah sedikit waktuku untuk wujudkan keinginanmu ? masih tersediakan daya dan kesempatanku perbaiki rencana yang kusuguhkan kepada mu ? Tanya ku tenggelam dalam senyapnya hutan Sintoq.

Aku menerima guratan takdirku sepenuhnya. Sepenuh penyerahan diriku padaNYa. Tetapi, sangsi menggoda kala menapak pada keberadaamu.

Adakah kamu disibukkan sepi dan kerinduan ini juga ? Atau diganggu ketakutan dalam kesendirianmu ? Adakah lantunan doa-doaku ini mampu menjadi selimut yang menghangatkan kedinginan atas bekunya bumimu ?

Tidakkah aku menjadi orang yang sangat egois jika saja aku hanya memikirkan daya tahanku dan sekedar bagaimana aku dapat bangkit di kemudian hari ? A
dakah esok itu bagimu ?

Aku menerima guratan takdirku sepenuhnya. Sepenuh penyerahan diriku padaNYa. Tetapi, sangsi menggoda kala menapak pada keberadaamu.

Adakah kamu disibukkan oleh beribu tanya dengan kehampaan ini juga? atau diganggu aneka siksa yang tak mampu kau menahannya ? Adakah lantunan doa-doaku ini mampu membungkamkan celoteh beribu tanya itu, dan halangi derita yang menderamu ?

Tidakkah aku hanya menjadi bagian dari pencinta diri sendiri, narsis yang individualis, ditengah peradaban hedonisme yang marak dewasa ini, jika saja aku hanya memikirkan daya tahanku, dan sekedar bagaimana aku bangkit di kemudian hari ? Adakah kesempatan itu bagimu ?

Aku tak dapat menukar pandanganku atas apa yang telah kamu lukiskan kepadaku selama ini, atau … aku harus habis kehilangan 'kemanusiaan' ku saat ini !

Di ikat duri duri kawat
Melukai kulitku di setiap tingkat
Jiwaku sekarat stadium gawat
Biar nafasku tersekat kubulatkan tekat
Merakit niat yang tinggal sekerat
Berharap kuat hasratku di ujung penat


Hari ini tubuhku itu membutuhkanmu, sayang. Hadirlah di mimpinya, meneduhkan keliarannya.

Kilau raguku menyilaukan mataku, bagai onak didalam kalbu. Kuasah tajam golokku dan kulintangkan didada. Sejurus ku hunuskan ia ke langit... tapi... hendak ku tikamkan kemana ? Sementara itu, gelitik dendam tak jua padam !!

Semoga Tuhan memberi penerangan.

Dengan segumpal rindu jiwaku meratap menggapaimu.
Bahagialah kamu disana, Teh.
Bahagialah.


Segudang harap,

-.Swamimoe.-