Rabu, 28 Maret 2007

Guratan 3



Dear Diar...

Selamat malam, sayang.

Ingin ku sampaikan rahasia angin, sayang ! Di sini sedang terjadi gejala alam. Sepintas kutaksir cuma sekedar kebetulan-kebetulan nyaris sempurna, tapi sebegitu hebatnya hingga tiada ingin kutolak ataupun kuingkari, melainkan kukelola dan kupagari.

Nah, apa kau mengerti maksudku sekarang ? Tadinya, kupikir semua itu akibat dari geseran-geseran ukuran tatanan nilai ku sendiri


Apabila musim itu datang, ...dan aku disibukkan oleh keletihan-keletihan membosankan, tetap kuharapkan bisa menggairahkan diriku, sekaligus belajar membebaskan diri dari cemas perubahan dan kehilangan, menurunkan kadar ketakutan-ketakutan berlebih tentang kerinduan terhadapmu, ... walau suatu saat nanti masih ku yakini hal itu pasti akan hancur binasa kembali.... Inilah yang kupelajari dari perjalanan hidup kita, sayang !...dan sejuta maaf ku sampaikan lagi padamu atas pikiran ku yang begitu “lancang” ini. Tapi tetap harus ku ‘manipulasi’ untuk terus bertahan melanjutkan keinginanmu... menyelesaikan semua yang tersisa...

Sesungguhnya saat ini aku tengah remuk redam. Cara mencuci dan memasak yang kau ajari di penghujung perjumpaan itu membuat aku kembali menggila !. Tapi seperti saranmu, tetap kukurung diriku agar tiada siapapun tahu... sudah tiga hari ini aku tak keluar, tak bertemu siapapun selain yang berkunjung ke bilik kita. Itu tak mungkin aku singkirkan, bukan ? Maafkan jika aku masih tetap ekspresif... kamu sangat tahu tentang itu (jadi kalau info itu bocor terbaca mereka, itu karena watakku).

Teh,...

Kini, aku hanya mau mengumpulkan asa untuk mencukupkan syarat perjumpaan, ...memacu energi untuk berefleksi bagai prisma, dan dari kejauhan ku teriakan lantang sinyal tanda-tandaku; ”Kekasihmu ini telah siaga penuh melepas kefanaan !“. Dan, aku tak akan sibuk lagi mencari penawar, sebab mungkin yang ku tahu... inilah kita... walau aku begitu nakal, kepolosan kita bukan cinta sekedar tapi cinta sebenar. Cinta sunyi tak terdengar !


teramat sangat rindu,
-.Swamimoe.-

Kamis, 22 Maret 2007

AKU YANG TAKUT



Wahai Tuhan Pemeliharaku,
ampuni bodohku dan tidak mengertiku,
yang juga kau anugerahi padaku...
Tak ingin ku sangkal
apalagi menolak pemberianmu,
karena seharusnya ku syukuri..

Sungguh
aku takut tiada tara
kepadaMu Tuhan,
dibanding hantu manapun yang paling menakutkan.

Memandang hebatMu hatiku jeri setiap waktu.
DidepanMu aku tak punya nyali dan jalu,
hingga aku ingin pergi dan hindarMu sedapat mungkin..
Tapi apa mungkin ?

Kaulah momok misterius menyeramkan itu.
Kata-kataMu sangat mandraguna sakti,
gemuruh yang menguncangkan seluruh sendi-sendi !
Apa saja yang kau mau,
kau kehendaki pasti jadi dan terjadi,
sempurna tanpa cela,
tanpa kekurangan tanpa selisih.

Tuhan Misteriusku,
bodohku selalu saja terjadi.
Sekali sekala Kau ampuni,
mungkin sambil tertawa geli
atas segala perilaku janggalku.

Tetapi sekali waktu mengusik murkaMu,
aku hancur luluh didalam azabMu berkali-kali...

Ooo Sang Penguasa Tunggalku,
tiada siapapun makhluk bisa memastikan kehendakmu,
sehingga bodohku memahami kepastian adalah juga kehendakmu.

Kehendak yang dingin tanpa ingin,
kehendak yang mapan tanpa harapan.
KehendakMu adalah kapan saja Kau mau tak bergantung ruang,
tak terikat waktu.
Yang ada adalah KEHENDAK.

Tuhan penjagaku Sang Maha Merawat.
Saat ini, setelah sekian kali aku tersesat
dan hanya Engkau lah penyelamat, hanya...!
Dan aku sedang hancur berkali-kali dalam azabMu.
Teramat pedih dan aku tak pernah mampu,
bertahan jika hanya Kau yang ‘memberikan’
aku telah hancur dan menjadi kembali
untuk hancur dan menjadi lagi
ini lah janji Mu, kata-kata kehendakMu.

Oooh Sang Guru Yang Maha Tahu
setelah ku tau
hati adalah ragu
yang ku punya hanya nafsu
yang betul ini palsu
yang kuat itu luruh
yang keras itu rapuh
yang bersih itu kumuh
yang rapih itu lusuh
ajari aku pengetahuan itu,
bukan berhenti di ayat atau mantera
bukan berhenti di doa atau jampi

Engkaulah yang sebenarnya guru
dan keyakinanku ada di ragu

Jika Keadilan adalah harga
budi adalah siasat
rendah hati itu kelemahan
sopan santun adalah ketakutan
kesetiaan itu penyembahan
maka semua itu fitrah mahluk kepadaMu
kepada Sang Penciptanya
dan bukan kepada sesama makhluk

Wahai Tuhan yang ku takuti
aku tersesatkan oleh pemimpin-pemimpin manusia,
guru-guru manusia,
kiyai-kiyai manusia,
pendekar-pendekar manusia,
para cerdik pandai manusia,
ketua-ketua perkumpulan manusia,
penakluk-penakluk manusia,
penjajah-penjajah manusia,
perampok-perampok manusia,
pemerkosa-pemerkosa manusia,
dan penjahat-penjahat manusia,
yang menghalang-halangi kemampuan manusia-manusia lain
menjadi seperti mereka.

Yang budayanya hasut dan fitnah
Kemenangan itu kebenaran
Kekalahan itu dosa
Dosa itu pelajaran
Yang kuat itu pemimpin
Licik itu cerdik
Pandai itu mampu membuat
Untung adalah mendapat lebih dari yang seharusnya
Rugi adalah kesiasiaan pekerjaan tanpa pamrih
Kejahatan adalah pengekangan keinginan mayoritas
Kebaikan adalah pengumpulan kenikmatan tanpa batas
hukumMu mengazab para pengikut selainMu.

Ampuni aku Tuhan,
andai selama ini akupun takut kepada selainMu,
setia,
santun,
bahkan merendahkan suara kepada selainMu.

Aku tak mengerti jika Kau begitu pecemburu.

Senin, 19 Maret 2007

Guratan 2. Tahukah Kamu ?




Dear Diar,

Selamat malam, sayang.
Tahukah kamu, bahwa hingga kini aku tetap tak mampu menepis kesedihan dan rasa gusar atas kepergianmu ? Bagai kanak-kanak yang selalu ingin mengikuti bundanya berjalan dan ...terus mengamuk bila ditinggalkan. Untuk itu maafkanlah aku, dan jangan sampai keisenganku ini menyusahkanmu...


Sebab...aku ingin mengaku....
hanya seorang di antara sekian yang mampu melelehkan gumpalan kalimat kenyal nyaris kaku. Itu adalah kamu, sayang ! Yang berkali-kali berhasil meyakinkan bahwa keluhuran keyakinan kita selalu ada didalam kenyataan sesaat sebelum semua nilai-nilainya kuanggap sebagai dogma mistik nonsens absolut, dan menggiring enejiku menjadi pragmatis-materialistik yang atheistik. Kamu juga selalu berhasil mematangkan jerawat batu dan membuatnya meletus tepat sebelum semua obat mujarab kuvonis palsu, yang tak pernah gagal membuat gatal, menyuburkan candu, dan menciptakan keengganan-keenggananku untuk segera menjadi normal.

Bagaimana keadaanmu sekarang? Adakah lebih baik?

Tentang rumah barumu itu. Kubaca isyarat-isyaratmu mengutuki pagar-pagar maya yang menempurungi kita. Tahukah kamu, betapa di sini aku pun sedang dibuat gila olehnya ?


Sungguh, ...kau percaya itu ? Bahkan malah oleh pagar-pagar maya itu, sesekali waktu aku berfikir untuk menembusnya, seperti filem-filem yang mengisahkan seorang aktor yang berhasil melarikan diri menembus rintangan dan penjagaan penjara alkatraz. Bagaimana mungkin aku menyerah ?? Rasanya, ... sepatutnya aku dapat mematahkan ketatnya pengawasan laskar Lima Inderawi dan menyandera yang ke Enam. Lalu menaklukan kerumitan rintangan dinding-dinding jeruji tulang, daging dan kulit ini, walaupun mereka diperkuat laskar otot dan urat, serta sensor di batas pagar kulit yang begitu sensitif.


Hanya aku betul-betul buta keberadaanmu, teh. Maut menyanderamu di lokasi yang begitu misteri. Beri aku kordinatnya... akan ku susul dan ku bebaskan kamu, sayang !! Hampir-hampir frustasi aku membaca sandi-sandi di lembaran kitab-kitab suci, bertanya pada para mpu-duniya dan para begawan ghita, yang semua nyaris ku caci sebagai penipu, hanya karena tak ku peroleh ‘jawab’nya.


Lucu !


Sejauh renggang jarak ini, kita masih dikutuk dengan banyak persamaan, kenangan terindah yang selalu menyayat jantungku, kesedihan abadi !... dan tentu saja “pengertianmu” yang teramat-sangat istimewa bagi ku. Hal yang mungkin akan selalu menjadi tanda yang terus lekat di kening kita. Hantu sejati ! ...



-.Swamimoe.-

NB: Tentang pagar-pagar itu,
kadang kupikir apa pula hak mereka membuat kita menjadi semakin gila?

Rabu, 14 Maret 2007

SERUAN HATI



Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah
Subhanallah, Subhanallah,
Allahu Akbar,

Ya Allah, lihatlah diriku sekarang ini
tataplah
aku ingin di dekatmu saat ini
saat sendiri saat tiada yang temani

Tuhan,
pikirku mbludak
rasaku muncrat

aku ingin tumpahkan seluruh pikiran dan perasaanku padaMu

Andai Kau di ketinggian, turunlah
andai Kau di kejauhan, mendekatlah..
andai Kau di kedalaman, keluarlah..
datanglah ke samping, ke depan, atau ke dalam lubuk hatiku
biar aku rasakan hadirMu..
sungguh aku ingin di sisiMU, dan bicara
hamba si lemah bodoh yang berdosa ini ingin mengadu
ingin bertanya, ingin memohon sesuatu dariMu..

Lihatlah keadaanku
bathinku, perasaanku, pikiranku
ku kira sakitku sudah di ambangnya,
dan aku tak akan merasanya lagi
tapi saat ini,
aku tidak punya alasan
kenapa aku merasa lebih dahsyat ?
kelirulah aku mengira ini ujian
ini bukan cobaan..ya Rabb
tapi hukuman
banyaklah kesalahanku yang belum terbayar!

Ya Allah,
pandanglah aku
andainya memang aku harus merasakannya lagi,
maka biar aku rasakan semua saat ini
lipat-gandakanlah kenyeriannya berjuta kali
berikan semua ganjarannya saat ini
dan biarkan aku rasakan, sampai ke puncak

Tumpahkanlah airmataku
sampai kering dan tak bisa keluar lagi,
ledakkanlah jeritanku
sampai sunyi tak terdengar lagi
walau aku tak
kan mampu memikul menanggung
biarlah aku merasa rasa sakit yang paling tinggi
yang bisa Kau berikan kali ini
sampai dosa-dosaku terbalas
sampai semua kesalahanku termaafkan,
hukum aku dengan perasaan ini !

Dan setelah airmata terkuras habis,
setelah kenyerian yang menguliti sudah kurasai
puncakkanlah, sudahi rasa sakit ini, akhirilah..
setelah itu jangan biarkan aku rasakan lagi,
biarkan tenangMu menyelimuti

Tatap diriku Tuhan
berbulan ku rasakan kelemahan ini
nyeri, perih dan tersakiti
tetapi
aku percaya kepadaMu..

Kau Tuhan seluruh makhluk dan semesta alam
yang ciptakan manusia dengan seluruh perasaannya..
maka tunjukkan kebenaranMu, ya Tuhan
yang benar itu adalah benar dan bukan sebuah kebetulan
hidayahilah aku kepahaman ilmuMu Ya Allah.
agar aku membenarkan kebenaranMu
dan memihak kepadanya dalam jalanku

Setelah semua yang aku lakukan,
sekarang ku serahkan padaMu,
meyakiniMu adalah keinginanku
Engkau lah yang ku maksud
Ridho Mu lah yang ku cari
Cinta Mu lah yang ku tuju
Engkaulah yang penuh
Engkaulah yang seluruh

Sudah, aku tak perlu
tak lagi ku cari pahalaku
tak kuimpikan lagi SurgaMu

Jadilah kehendakMu
Engkaulah kehendakku

Ya Allah Gusti...
Aku ikut Engkau
Jemput aku
Ajak aku
Sertakan aku !!!

Senin, 12 Maret 2007

JEJAK HIDUPKU




jauh jarakku merangkai hati
menghantar bunga kesana sini
bukan senyuman yang ku cari
atau kata manis peredam emosi

diluar,
tak ku tahu ujungya lagi
pertarungan masih sengit beraksi
sahdan musim bunga silih berganti
tak henti hingga warna bulan pucat pasi
walau seiring berjuta langkah pasti
tapi kakiku cuma menjejak tanah mati

Sukmaku pergi, berjalan atau berlari
mengembara mencari arasy istana nurani
walau hatiku digaduh geliat sunyi
sendiri atau entah dengan sesiapa lagi
aku tak perduli !!

(kuharap ada jawabnya dibalik labirinmu)

Jumat, 09 Maret 2007

Guratan 01

Dear Diar...

Selamat malam, sayang.

Maafkan bila goresan pena Masmu ini mengganggu tenangnya istirahat mu saat ini. Betapa egonya aku, mengganggumu untuk selesaikan masalahku, apapun itu. Tapi semua hal itu selalu mengait dengan kamu. Hingga kini aku masih tetap gelisah dengan kekhawatiran yang terbungkus dalam segulung kerinduan yang tak berkesudahan. Aku mulai menduga ini sebagai fenomena. Apakah ini bukan tanda-tanda yang kamu sampaikan ? Seperti juga aku yang selalu mecari celah yang mungkin dapat ‘mengintip’ informasi tentangmu, tentu kamu akan jauh lebih intens mengais celah itu, celah yang menghubungkan jarak kita. Celah untuk menyampaikan keadaanmu atau mengucapkan salam terakhirmu, seperti biasa kita lakukan untuk membunuh risau.


Sayang, I know you ‘damned’ well. Betapa sabarmu yang tiada henti mewujudkan itikad tanpa kehilangan ‘penyerahan diri’ atas segala keterbatasan. Perjuangan menghadang selusur sakit dan kepasrahan kesabaran menerima itu semua telah menguncangkan aku, manakala nilai-nilai itu akhirnya mewujud dalam bingkai utopia. Adakah kamu tahu, pelajaran apa yang diakibatkannya ? Tentu, karena selalu kamu kuatkan aku dari keraguan nilai-nilai itu. Bahwa tak akan luput dari penilaian Sang Evaluator Tunggal. Sedangkan manusia hanyalah evaluator cibir yang menggincu bibir. “Bertahanlah mas, dan kita akan semakin kuat !”, ujarmu sekali waktu ketika mengingatkanku. Lalu senyummu itu bergulir begitu sejuk (Amboi..!), meredam dendam yang ledakan merah di dadaku.


Neng,

Ketika semua orang berlalu dan berangsur-angsur menghapus bayang mu dengan begitu cepat. Aku tidak. Semakin ku coba untuk me’wajar’kan kepergianmu, semakin mengganggu kepercayaanku. Menghadirkan ketidak mengertianku atas segala sesuatu. Bertanya adalah pekerjaan sia-sia yang menyiksa...! Suatu ketika kucoba sampaikan kegusaran ini kepada Ibunda, dan ia memandangku menjadi begitu aneh dan sedih. Apalagi ketika dengan Mama yang pragmatis autoritarian, atau Pakcik yang sering tampak menjadi hedonis tapi mistikus religius itu, pasti kamu sudah mengira hasilnya. Aku harus membekali diri dengan beberapa lapis ‘baju’ kesadaran hati untuk siap menjadi 'tertawaan' our society ... Tampaknya hanya ‘selusur meniti-cari’ adalah jalan yang layak tempuh bagiku.


Jadi, maafkan lah masmu ini yang tak cukup pandai membaca sandi-sandi bahasamu, tapi rasa sepi, asing dan ketakutan itu telah kurasakan. Lamanya proses aku memahami ‘pesan’ itu membuat aku begitu khawatir. Kekhawatiran berlebihan sehingga membuat aku menjadi begitu paranoid. Was-was dan masgul yang begitu menakutkan dan selalu membawaku memikirkan keadaanmu. Sungguh, kerinduanku kepadamu menuntut kepastian !! Kepastian tetang keadaanmu sehingga segera ku mencari apa dan bagaimana cara yang harus ku lakukan untuk melunainya mengirimkan ‘sesuatu’ yang bermanfaat bagimu saat ini dan kelak.


Aku tak diizinkan menyertai dan menemanimu melakukan pengembaraan misteri itu kini. Aku masih menanti dalam antrian sederetan giliran panggilan, seperti yang direncanakan olehNya. Bila kesempatan itu tiba, ku tanggalkan pakaian fana ini, berlari menyusulmu sesegera mungkin dan ikut mengurai ‘misteri kelam’ itu bersama menuju hakikat. Nantikanlah aku....



Aku yg mencarimu,
-.Swamimoe.-

Selasa, 06 Maret 2007

DIRENDAM RINDU


Kekasih, rinduku tak terperi
Ku habiskan waktu mencarimu sendiri
menggapai keadaanmu yang tak kunjung pasti
kemana ku harus pergi ?

Selama matahari masih berseri
dan cahayanya tercurah ke bumi
hm, selama itu pula
kerinduanku tak pernah henti

Walau matahari tenggelam dipeluk malam,
dan dunia bersembunyi dibalik kelam,
kerinduan ini tak jua dapat diredam,
bagai warna bulan baranya dalam sekam
apinya tak kunjung padam

Selama semangatku terjaga,
dukaku terpelihara di tempatnya,
dan rinduku tak akan pernah sirna
bagai bunga yang sedang mekar
ia membuka kelopaknya.

Rinduku tak jua terobati ketika kucoba
pasrah untuk mampu ‘menjadi’,
walau sekadar sebatang lilin kecil,
yang nyala kecilnya siap
tembusi gelapnya lorong-lorong jiwa.

Walau cemeti Sang Waktu menderaku,
jiwaku tak lengah mengenangmu,
sampai ku tersungkur di tanah mati.

Bagiku kerinduan ini
bukan sekadar jadi mimpi !





Minggu, 04 Maret 2007

E N T A H


Entah
kenapa aku ingin luahkan
kesesakan yang seharusnya kusimpan
kuletakan didasar hati yang paling dalam
agar terjaga segala kerahasiaan
untuknya, hadiah diujung kehidupan

Entah,
dari mana aku mulai cerita
agar kau mengerti apa yang ada
sementara ia tersimpan di rasa
dan kau tak pernah menikmatinya

Entah,
bagaimana aku harus bicara
ada sesuatu yang hilang di rongga dada
seperti dicerabut pecah ia dicurinya
dan karena hampa,
semua segala dihisap menempatinya
penuh, tumpah ruah
dan aku tak sanggup menutup pintu lukanya

Entah,
ada dimana letaknya
telaga yang dijanjikan menghilangkan dahaga
serasa ia hanya dongeng semata
sementara alam sembunyikan tandanya
dan sesiapa pun hanya kelu terdiam

Entah,
pada siapa aku mengadu
suara hati dan akal ku tak lagi padu
ketika ku urai limpahan kata di dalam doa
Tuhan tak jua bersabda
Ia hanya diam dan menyimpan rahasia
permainan ini belum lagi usai
masih berjuta ruh menjuntai
tempat jiwaku menggapai

Entah Tuhan,
kemana kini aku harus mengacu selainMu
hidup masih memaksaku berpacu
dalam adu kehendak denganMu
kepercayaan ini tak lagi kuyakini
ku pilih pihakMu bukan karena janji,

tapi kenapa

Kau lekatkan masa depan ku ke masa lalu?