Rabu, 14 Mei 2008

Guratan 17: S A K I T


Dear Diar,


Selamat Siang, Sayang !.


Hari ini aku sakit. Sakit otot dan urat, dan sakit itu di leher. Istilah tukang pijit atawa ilmu perdukunan disebut teleng atau tengeng, sementara istilah kedokteran aku tak mengetahuinya... dan kini yang jelas indikasinya kepalaku nyaris bagai tulang tanpa engsel yang tersambung dari onggokan badan ke sebongkah kepala....tak bisa bergerak. Seperti yang kau tahu, aku sering betul sakit begitu dulu. Kata kamu aku salah tidur. Entah kenapa kamu selalu menyalahkan “tidur” kita. Karena caranya lah, tempatnya, bantalnya atau posisinya. Padahal nyata-nyata tidurku selalu lelap - nyaman semasa kamu disisiku. Selama itu, tak pernah sedetikpun terbayangkan ketakutan akan kebengisan seorang istri yang menyeringai dalam gelap. Gigi taringnya tampak panjang dan runcing. Dan dengan pisau dan garpu ditangan, ia siap ingin memotong dan menyantap steak daging dada, perut ataupun kemaluan suaminya, lantaran terbakar amarah, dendam ataupun cemburu. Kamu selalu lembut, dan.... Oh, betapa tenang dan menyenangkannya saat itu. Betapa !


Tapi sakit kali ini memang betul-betul mengembalikan ingatanku kepadamu, teh. Urat atau otot di belakang leherku itu seperti merajuk menanti lama sentuhanmu, terkilir sampai tepat atau bahkan memasuki wilayah otak kecil. Aku tak bisa menengok ke kiri dan kanan, mendongak keatas atau menunduk kebawah... tak boleh dalam posisi miring..atau pun condong. Sakitnya seperti kepala ini yang ingin terlepas dari tungkai lehernya. Sungguh menyiksa.. Terlebih-lebih lagi karena duka mengenang nostalgia kebersamaan denganmu melengkapi derita kesedihan sakitku kali ini.


Dikala terjadi hal seperti ini dahulu, tak pernah kamu meninggalkan ak. Kamu hanya duduk menjaga untuk mengurapi, atau mengusap, menggaruk dan memijiti bagian-bagian yang terasa terganggu. Kamu yang selalu terjaga bila aku terbangun dari tidurku, mengusir keping-keping mimpi yang mengusik tidurku. Sesuatu yang tak pernah sanggup ku lakukan untukmu. Kamu bagai malaikat penjagaku!


Saat ini aku tenggelam dalam romantisme masa lalumu, dikala seonggok daging bongah ini tergolek kaku di pembaringan. Sendiri menikmati nyerinya. Anganku terus lari. Mengejarmu hingga hilang perih itu...

Jemariku tak sanggup lagi menekan tuts keyboard komputerku untuk mencatat perjalanan pikiran dan langkah-langkah hati. Berjam jam aku duduk terpekur memikirkan keadaan diri. Yang tergambar dimataku hanya jasad tubuhmu yang terbujur lurus... tapi tak pernah menjadi kaku.


Tuhan, aku sedang sakit sekarang ini. Sakit kehilangan yang tak tergantikan, sakit sesal yang tak termaafkan, kenangan yang tak terlupakan. Bayangmu selalu berkelebat menari di kelopak mataku dan menghilang dalam kedipan. Aku sungguh tenggelam dalam kerinduan yang tak terpuaskan. Kepergiannya bukan karena ia ingin meninggalkanku, tapi dipaksa takdir yang tak tertawarkan.


“Aku juga tak mau meninggalkan kamu, mas....”, jerit mu lirih satu malam sebelum kamu betul-betul pergi. Tiada maksudmu untuk begitu. “Tapi kita harus siap atas keputusan itu”. Air mata mu lepas, sebagai peristiwa yang jarang terjadi selama kebersamaan kita.


Kini, aku mencoba menanamkan keyakinan itu. Paling tidak, untuk memudahkanku menerima sebuah kenyataan yang memaksaku memihak kepadanya. Dan butir-butir air yang berbaris rapi keluar dari pori-pori kulit tubuhku, menyatu disapu deras aliran bening dari sudut mata.....



Banjir rindu di bilikku,
-Swamimoe.-