Jumat, 31 Agustus 2007

Guratan 8


Dear Diar,

Selamat Malam, Sayang !

Dua bulan ku coba tak menulis untukmu. Kata sebagian orang, Kutahan hasrat itu agar aku tak hanyut dalam lingkaran perasaan yang tak mampu ku kuasai. Bagi orang lain, akulah yang sengaja memelihara kesedihan ini.

Tujuh belas Agustusku bergaung di lantun gebu irama sunyi, tetapi tak urung tetap saja menghantar ingatanku pada peristiwa setahun yang lalu. Kehadiranmu di dewan Kolej Telekom, yang dengan sengaja kita hadiri karena didada tetap terselip semangat dan kecintaan kita pada tanah air, tanah kelahiran, tanah bunda mengandung, tanah dimana ayah mengajarkan bagaimana bersikap, tentang kebenaran dan kesesatan, tentang gelak dan gelut anak bangsa. Bahkan juga tanah harapan, tanah cita-cita kita yang tak mungkin lagi wujud dengan selayaknya, selamanya. Dan kini bahkan semakin jauh dari kemungkinan jasad tanahmu kembali ke tanah cita-cita itu. Apapun namanya, atas dasar keyakinan apapun, dan dengan alasan agama apapun, bagiku tetap menyakitkan. Dan sekumpulan kalimat pedas yang pernah terlontar panas ditelingaku tepat disaat peristiwa itu berlaku, sampai saat ini masih saja tak berkurang rasa ngiang panasnya, walau bergalon air kulintaskan menyapu bersih perasaan itu, namun bagiku, hanya Tuhanlah yang tahu dan hanya Tuhanlah yang mampu berbuat semua itu. Tiada sesiapapun yang mampu mencegah terjadinya semua rencanaNya itu.

. . . . . . . . . .

Tiga puluh satu Agustus aku di lamun ombak di laut keringku… tiada lagi bunyi debur dan gemericik selisir air di pantaiku, tiada lagi semilir desir angin yang menyapu polusi di udaraku, dan tiada lagi segenap kehangatanmu yang mengusir kegelisahan hari-hariku, yang menghalau galaunya gurauan waktu, mencabut sengatan rindu di setiap sisi-sisi malam yang mengganggu. Teteh, Aku sungguh-sungguh kehilanganmu ! Kehilangan yang membuat pikiran positifku terhalang dan terpasung dalam tenggang waktu yang cukup untuk mengubur personaliti.

Oow setapak lagi bulan Ramadhan itu kembali. Ia resmi akan menggenapi bulan pemasunganku sepanjang masa sepanjang zaman, dimana doa, kerinduan, kenangan, dan duka menjadi racikan sinergi hidangan yang mengisi setiap pori-pori tubuhku, membasahi setiap lajur jalur di selang aorta jantungku, selama rentang masa sahur dan berbuka, sejak dari persiapan hingga lebaran, jentik jemarimu tetap terjaga menyadarkanku kala terlelap sahur. Manis suaramu tetap merdu ditelingaku mengingatkanku berbuka kala magrib menyapa, dan selalu terjaga melantunkan doa dan ayatNya selepas Isya….

Oh ya, …
Yang tak kan pernah dapat aku lupa, kau lah yang merangkai segenap doa, sehingga menjadi harapan dan cita-cita.

Tetapi, maafkan aku dinda, jika gundukan tanahmu telah menimbun segala kepercayaan tentang harapan dan cita-cita itu, tonjolan pusaranya menjadi sandungan selaksa kati sukma ku yang selalu liar dan merdeka.

Maafkan aku, jika di tanah itu, di tanah yang kupijak ini,… kini terukir berjuta keping kenangan tentangmu, tentang kita, …dan sebidang sisa ruang kosong bagi keping-keping peristiwa yang belum lagi usai…. Keping yang tak kan pernah mengenal selesai. Keping-keping kenangan itu telah menjadi pasak yang menghujam dalam ke perut bumi, yang tersambung utuh ke rantai pengikat pergelangan-pergelanganku. Aku masih belum mampu kendalikan debur ombak dipantai kalbu yang tak beraturan itu.

Teh, telah ku coba “mewajarkan” kepercayaanku agar diterima secara sosial sehingga kehidupan boleh dilanjutkan seperti sediakala, seperti tak pernah terjadi apa-apa, seperti perputaran roda yang menyebabkan ‘aus’nya engsel pergelangan putarnya… lalu serta merta di ganti untuk menjaga kelestarian “perputaran” roda itu. Selesai. Begitu saja !! Cerita tetap berlanjut di “perputaran”, sedang selebihnya adalah asesoris yang punah. Tapi apa layak pemahaman itu, jika jiwa menjadi asesoris yang punah semata-mata demi perputaran dan perkitaran roda kehidupan ini ? Daya hidupku menolak untuk begitu.

Mungkin aku terkesima saja pada dongeng-dongeng mitos, hikayat, atau angan-angan manusia berabad tentang nilai-nilai luhur atau agama,… pada kharisma, …pada tegaknya amanah teguh semangat, …sampai pada periode ini berjuntai, … periode yang kuanggap sebagai hasutan-hasutan iblis yang membisikan kebenaran-kebenaran palsunya yang begitu nyata, logis dan tak terbantahkan… yang merasuk dalam pikiran dan keyakinan-keyakinan manusia, yang berhasil memberikan keunggulan sesaat kepada pemeluk-pemeluknya… walaupun akhirnya mereka terhenti di simpul yang tak terjelaskan, yang saling menghancurkan dan menyerah di batas kenikmatan fisik sebagai langkah ”penyelamatan”.

Aku gamang, keyakinanku goyang, sebab bagiku “perputaran” roda itulah hawa nafsu yang sepatutnya ku jihadi,… sedangkan persepsi kenyataan menawarkan makna yang bertentangan. Bagai mempertahankan tegaknya pilar penyangga ‘surga’, mereka menjaga ‘perputaran’ roda itu. Padahal peran kita adalah menjaga yang berputar. Dan bagaikan tawaf, setiap kita, hanya tenggelam dalam siklus ‘perputaran’ abadi rodanya.

Walaupun membuatku goyah, tapi masih saja kuharap semua itu adalah gelagat yang dapat kucerna dan kunikmati, seperti gelitik di kerongkongan yang sesekali membuat batuk, atau gatal yang sesekali ingin digaruk. Tanpa keistimewaan, tanpa perlu dibesar-besarkan, tak ada utopi luar biasa ataupun cita-cita palsu. Sepertimu, aku tengah belajar bersyukur, memulangkan itikad pada hakikat, kemudian menjaganya dan mengelola. That's all !

Nah, kembali padamu ! Kekasihku yang nun di lintang & bujur berbeda, kadang aku rindu percakapan kecil kita tentang laut. Berkali-kali kuingat bagaimana bidukmu menjadi sebuah bintik sebelum benar-benar hilang ditelan cakrawala, dan aku jadi betul-betul sadar bahwa lembar-lembar almanak selalu menitipkan banyak makna. Walau detak duka dan kesedihan yang kekal ‘menyetani’ kita, tapi tetap kita dicipta sebagai layar yang tak pernah berhenti menyusur perjalanan cari, menjaga segala persesuaian dan membuat perimbangan. Itu juga menjadi asesoris abadi kehidupan kita, bukan ?

Sesaat setelah keberangkatanmu dulu, aku puputkan segenggam doa tanpa limit pada angin, dan juga sematkan taburan harap tak terkira untuk dirimu, untuk kita. Lalu nanti, ketika tepat disetiap tanggal kepergianmu ini, akan selalu ingin kusampaikan kembali kepadamu, … sebetulnya kepada diri kita juga, selayang ingatan anniversary atau ulang tahun perpisahan sementara ini dengan ucapan; “Selamat melepas ikatan bendung, mengangsur kayuh menghadang tarung, menuju kehidupan abadi yang selalu didengung, di palung misteri yang penuh relung. REBUTLAH SURGA ITU !”



Semat rinduku basah semangat,
.-Swamimoe.-


Minggu, 01 Juli 2007

PARA PECINTA



aku bukan pecinta dunia
tak perduli kita berada dimana
semua tempat semua kondisi rasanya sama
selama kamu tetap berada ditempatnya
disisiku

aku juga bukan pecinta hidup
yang memuja denyut nafasku yang tersisa
setelah segala peristiwa terjadi
satu-satu ku sadari semua pasti akan pergi
tanpa sesuatupun dapat kuketahui
ku kenal pasti
disisimu

masih karena Diakah kita kesisiNya ?

Jumat, 22 Juni 2007

K E N A N G A N



K’tika semua kenangan terpapar jelasnya
kulihat kau melintas dibalik riak air mata hari
yang mengalir teratur di tiap ingatan terjaga
biarpun tersenyum …
wajahmu mencibir pada keberanian dan keyakinan
yang selalu ku ikrarkan sebagai benteng terakhir
milik kita yang ternyata keliru

Tanpamu,
pengalaman adalah himpunan kenangan menyakitkan
dan aku kehilangan diriku
setelah ternyata tiada satu kenyataanpun yang nyata
terlalu menyakitkan

Senin, 11 Juni 2007

Guratan 7



Dear Diar,

Selamat pagi, Neng.

Bagaimana khabarmu, sayang ? Semakin nyamankah tidur panjangmu saat ini ? Ku harap tiada sesuatupun yang datang mengganggu, mencuri gulingmu yang biasa kau dekap pengganti diriku, atau bantal yang tak pernah kamu pakai bila terlelap. Ihh, kamu selalu menarik lengan ku dan ‘membantalkan’nya hingga kebas kesemutan, ingatkah kamu ? Tapi, selalu saja aku suka kamu perlakukan begitu, sehingga mega fajar menjelang tiba. Peristiwa-peristiwa kecil dan sederhana yang mustahil aku lupa !.

Hingga pagi ini, ketika tadi terjaga dan kulengkapi keping demi keping kesadaranku sempurna, masih saja kudapati duka itu menetap memelukku, menggantikanmu, menyelimuti. Baru malam tadi aku boleh tidur pulas setelah dua hari dua malam aku tak bisa tidur. Mengerjakan bagian-bagian thesisku yang harus ku serahkan kemarin kepada penyeliaku. Ternyata banyak sekali detail-detail yang tertinggal selama ini. Progressku yang begitu lambat. Seakan hampir-hampir aku berlari di tempat. Pasti kamu tak mengharapkan hal itu, tapi begitulah aku. Gambaran kernyit di keningmu tampak jelas begitu dalam. Namun senyummu tak pernah hilang.

Kau begitu mengenalku lebih baik dari aku sendiri, terlebih kala aku diradang nafsu dendam terpendam. Seperti permainan puzzle yang memabukkan, melupakan segalanya, aku asyik memutar dan membolak balik keping puzzle itu dengan imajinasi rumit ‘mewujudkan detik-detik penghancuran itu’ agar tetap selalu berada didalam bingkai puzzle berkenaan. Hahaha, kadang ketika kesadaran religiku hadir, aku merasa begitu ngeri dengan ‘degub kesunyian’nya, sunyi tak bertepi. Percayakah kamu ?

Gangguan fikiran dan perasaanku terhadapmu tak selalu bisa ku jinakkan. Ia begitu liar bagai pecahan partikel uranium yang melebur dalam proses fusi nuklir suhu tinggi. Itupun gagal ku siasati menjadi daya dorong katup-katup listrik syarafku yang menggerakkan tenaga produktif tubuhku menyelesaikan thesis secepat mungkin. Sungguh, inilah kebodohan kesadaranku yang selalu jadi ‘benar’ !! Tapi sungguh, sayang !. Inipun bukan suatu alasan untuk menyalahkanmu. Bahkan tiada bintik khilafpun yang sempat kamu bubuhkan. Semua begitu sempurna. Kuharap jangan membuatmu bersedih atau merasa tersudut. Itu hanya sekedar letup rasa rindu ku yang tak tahu harus kutuangkan kemana. Dan seperti kataku sebelumnya, perasaan rindu adalah cinta yang berjarak. Dan aku, tak pernah mampu merapatkan jaraknya.

Minggu belakangan ini, aku acap ditemani seorang kawan lama di kejauhan. Sahabat masa kecilku, masa unik tempo kita belum mengenal derita. Entah kenapa Tuhan mengirimkan silaturahminya, sementara yang lain menyusun jarak dengan rapih dan membangun barisan. Aku berusaha menjadi penonton, paling tidak penonton yang menyaksikan dan mencoba memahami pekerjaan Tuhan yang sedang berlangsung.

Sungguh Tuhan,
Engkau maha kuat,
sedang aku papa dan lemah
hidupku hanya apa yang Kau bagi-bagikan
aku tak mampu mengubah
atau sedikit menggeser bagian yang terkecilpun
dari Karya Besar rencanaMu.

Sungguh Tuhan,
aku tak pernah sanggup
walau sekadar mengambil peran sederhana
menjadi khalifahMu di jagat fana ini
sementara itu,
menyusun kelengkapan diri yang Kau hadiahipun
aku tak kuasa

Sungguh Tuhan,
aku tak mampu
menjunjung syukur atas segala anugerahMu
sedangkan…
merawat pemberianMu yang tersisapun
aku tak berdaya

Sungguh Rabb,
Aku tak guna jika Kau tak ingin gunakan.

…………..

Petang kemarin ku coba sesaat untuk sport. Aktivitas yang sudah berbulan-bulan tak kusentuh. Bersama beberapa teman, aku bermain squash. Gembira memang, aku dapat menikmatinya. Keberadaan teman-teman itu menggembirakan. Tapi tetap tak mampu mengusir kedukaan itu, hingga akhirnya ku pikir mungkin ia memang akan selalu melekat sepanjang sisa hidupku. Hantu sejati.

Akh !! Kembali gambaran itu muncul dan nampak begitu jelas. Vision. Apakah ini isyarat darimu atau halusinasi ? Wajahmu begitu jelas dan begitu detail. Bahkan tanda gerak-gerak halus tahi lalat di keningmu begtu jelas. Kamu merasa kehilangan dan mencari aku… itukah yang ingin kamu sampaikan, dinda ? Akupun demikian. Kini berada di ujung ambang ! Carilah cara dan bila kau temukan gengamlah tanganku sesegera mungkin. Disitu, ada sesuatu yang telah kutitipkan kepadamu. Maka rawatlah ia tanpa duka tanpa kesedihan. Tanda bahwa kita pernah ada dan tetap selalu ada, ia memenuhi ruang di segenap penjuru angin. Ingatkan itu aku selalu.


Dengan butiran rindu bertabur…,
-.Swamimoe.-


NB:

Oh ya ! Aku pernah sampaikan penantianku pada seseorang. Lalu apa kata mereka ? Bid’ah … ha ha ha Bahkan airmataku bid’ah pula ! Apa hak mereka memasung pandangan mereka sendiri, sementara Tuhan mereka menganjurkannya ! Apa yang mereka tahu tentang bid’ah ? Dasar pemuja berhala simbul yang narsis’, aku sudah ‘get out’ dari situ ! Lalu mas bilang, kalau itu yang mereka anggap kebenaran, selamat tinggal…walau belum ku temukan ‘kesejatian’ itu, tapi daya hidupku menolak ‘menetapi kejahiliyahan’. Aku musti ‘hijrah’ ! Setuju ?

Rabu, 06 Juni 2007

Guratan 6



Dear Diar,

Selamat malam,Teh.

Aku singgahi peraduanmu, tadi. Aku jengkel. Maafkan aku. Hampir seminggu yang lalu ku ganti rumput ditamanmu. Himpunan rumput-rumput Gajah itu telah bervariasi dengan rumput Jepang. Kata orang mempercantik berandamu, tapi kataku dapat menggantikan contoh pelepah kurma yang di tancapkan Nabi ke sebuah pusara. Hendaknya hal itu bisa menjadi abadi. Ingatkah kamu kisah itu ? Hmh.., ada sedikit suasana yang melegakan rongga dadaku. Seperti kegerahan terik matahari siang yang seketika teduh di pintu ruang ber AC.

Aku di temani Pak Dasman dan Ibu, berikut dengan cerita gulai rebungmu yang kau hadiahkan kepada mereka. Gulai rebung tak terlupakan. Mulanya mereka begitu berhati-hati memancing pembicaraan 'rebung' itu padaku. Takut membangun kesedihan. Kuharap doa yang kutitipkan pada rumput-rumput itu menghantarkan kenyamanan tidurmu di dalam sana.

Tapi, ketika datang tadi rumput itu sudah tak ada, hilang beserta akar-tanahnya. Siapa jalang yang berani mempermainkan aku. Aku ingin tahu, sekaligus membuat perhitungan maksimal dengannya !! Ada alasan aku mempersingkat perjalanan fanaku dan segera menghampirimu. Sebuah kesempatan. Tapi akhirnya, dalam renunganku kupikir hilangnya rumput itu hanyalah tanda. Bahasa Tuhan yang sedang disampaikanNya. Aku memang bodoh dan masih bodoh. Tak dapat menangkap syair keramat yang dilantunkanNya lewat alam, lewat bahasaNya. Aku merasa seperti semakin kecil dan terasing, di lingkungan yang mempermainkanku.

Aku baru melintasi suasana itu. Dimana aku ingin tak perduli dengan tatapan orang lain, yang tak memperdulikanku. Aku baru melintasi jalan itu, dimana kesunyian begitu memagut. Seakan semua hati tertutup, mendung menutupi mentari, burung-burung berhenti bernyanyi, angin tak lagi berhembus. Tiada pintu yang terbuka bagi kehadiran ke’aneh’an rasaku dan pikirku. Tidak teman, sahabat ataupun bahkan keluarga. Aku tersisih di negeri asing.

Ketika matahari pagi bersinar, tak ku kenal lagi matahari itu. Seperti mawar yang tak mengenal bunga. Hangatnya tak sampai menyapa embun yang membasuh wajahku. Aku berfikir sejenak. Adakah perubahan yang terjadi pada diriku ? Berapa besar perubahan itu ? Sesaat aku tenggelam dalam pergulatan renungan.

Masih tersisakah sedikit waktuku untuk wujudkan keinginanmu ? masih tersediakan daya dan kesempatanku perbaiki rencana yang kusuguhkan kepada mu ? Tanya ku tenggelam dalam senyapnya hutan Sintoq.

Aku menerima guratan takdirku sepenuhnya. Sepenuh penyerahan diriku padaNYa. Tetapi, sangsi menggoda kala menapak pada keberadaamu.

Adakah kamu disibukkan sepi dan kerinduan ini juga ? Atau diganggu ketakutan dalam kesendirianmu ? Adakah lantunan doa-doaku ini mampu menjadi selimut yang menghangatkan kedinginan atas bekunya bumimu ?

Tidakkah aku menjadi orang yang sangat egois jika saja aku hanya memikirkan daya tahanku dan sekedar bagaimana aku dapat bangkit di kemudian hari ? A
dakah esok itu bagimu ?

Aku menerima guratan takdirku sepenuhnya. Sepenuh penyerahan diriku padaNYa. Tetapi, sangsi menggoda kala menapak pada keberadaamu.

Adakah kamu disibukkan oleh beribu tanya dengan kehampaan ini juga? atau diganggu aneka siksa yang tak mampu kau menahannya ? Adakah lantunan doa-doaku ini mampu membungkamkan celoteh beribu tanya itu, dan halangi derita yang menderamu ?

Tidakkah aku hanya menjadi bagian dari pencinta diri sendiri, narsis yang individualis, ditengah peradaban hedonisme yang marak dewasa ini, jika saja aku hanya memikirkan daya tahanku, dan sekedar bagaimana aku bangkit di kemudian hari ? Adakah kesempatan itu bagimu ?

Aku tak dapat menukar pandanganku atas apa yang telah kamu lukiskan kepadaku selama ini, atau … aku harus habis kehilangan 'kemanusiaan' ku saat ini !

Di ikat duri duri kawat
Melukai kulitku di setiap tingkat
Jiwaku sekarat stadium gawat
Biar nafasku tersekat kubulatkan tekat
Merakit niat yang tinggal sekerat
Berharap kuat hasratku di ujung penat


Hari ini tubuhku itu membutuhkanmu, sayang. Hadirlah di mimpinya, meneduhkan keliarannya.

Kilau raguku menyilaukan mataku, bagai onak didalam kalbu. Kuasah tajam golokku dan kulintangkan didada. Sejurus ku hunuskan ia ke langit... tapi... hendak ku tikamkan kemana ? Sementara itu, gelitik dendam tak jua padam !!

Semoga Tuhan memberi penerangan.

Dengan segumpal rindu jiwaku meratap menggapaimu.
Bahagialah kamu disana, Teh.
Bahagialah.


Segudang harap,

-.Swamimoe.-



Jumat, 18 Mei 2007

Guratan 5



Dear Diar,


Selamat senja sayang,
Aku hampir gila karena lupa kalau hari ini adalah hari Jumat... sementara pagi tadi ku singgahi ‘kediamanmu’mu, menyambangi oleh-oleh dan pelepah berkuntum bunga, lalu di tengahhari aku terus begerak pulang ke Kampus. Setiba di kampus, azan berkumandang dan di sisi jalan ku lihat sekumpulan mahasiswa bersarung dan berteluk belanga. Astaghfirullah, baru ku sadari bahwa hari ini hari Jumat. Sepatutnya aku tak menghentikan asyik masyuk percumbuan kita tadi di peraduanmu sampai Azan memanggil..., tapi kenapa begitu sepi dan tiada tanda-tanda? Atau aku memang terlalu asyik dengan lintasan pikiran ?


Aku baru pulang dari Penang mengantar Lina’s Family kembali ke Medan setelah mereka melakukan ‘marathon-tour’ seputar Thailand. Aktivitas dan perjalanan ini tak meredakan gaduh penghuni rongga dadaku. Kau tahu lintasan perjalanan terakhir kita, ketika menonton beberapa filem yang kulupa judulnya hanya dalam satu hari itu, di mall Bukit Jambul ? Aku lupa filem itu, karena bagiku cerita filem itu sudah tak penting lagi. Ia hanya assesoris backgraund cerita kita sendiri, setelah kamu sampaikan keinginanmu nonton filem di Gedung Bioskop selepas izin keluar dari Hospital Alor Setar di berikan dokter.


"Mas, dokter sudah kasih teteh pulang seminggu ini. Kamis depan kita balik seterlah hasil lab bone marrow keluar", katamu senyum-senyum. Memang jelas di air mukamu ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan. Aku menunggu lanjutan kata-katamu.


"Nonton yuk ! Teteh pengen nonton nih, kan udah lama gak nonton...", lanjutmu.


"Ayo..! Mari kita beli VCD filem yang kamu mau tonton itu", kataku sambil menjinjing tas ransel dan kantong plastik berisi obat-obatan dan kaleng susumu yang tersisa di rumah sakititu.


"Bukan mau nonton VCD mas, kita nonton di theater... sudah lama nih gak nonton di bioskop"


"Wah, di Alor Setar gak bagus bioskopnya.." kataku.


"Di Penang aja yuk... pengen nih, maaaaas ! "


"Ya deh.. yuk besok"


"Hi hi hi..." . Tampak cerah wajahmu sejenak. Manis sekali.


Tiba-tiba saja semua itu terkuak dalam kenanganku. Dan tak dapat lagi ku nikmati hari-hari ini... selain melulu dalam gundukan rasa ‘hampa’ dan kesedihan yang bertabur ke Langit. Dadaku larut. Tiadapun yang tahu. Dan akupun hanyut ke khayalanku tentang alammu.


Seperti anjuranmu selalu, jika kita mengalami hal serupa itu maka segeralah istighfar.... dan kulakukan itu sepanjang hari...dan sepanjang hari itu pula aku merasa kau mendekap lenganku kuat tanpa pernah melepaskannya.


Sepertimu juga, aku belajar bersyukur, memulangkan itikad pada hakikat. Menerima takwa tanpa bertanya. Sungguh ..! Aku tak akan sanggup membunuh hati, mengurai doa bagai mantera, dan berlari hidup seperti hewan pengejar isi perut, sementara akhirnya berhenti di mati begitu saja tanpa sempat mengerti.


Teh, kesedihanku tak dapat berhenti walau kelelahan mendera tubuh hingga lunglai dan wajahku pucat pasi. Aku rindu sekali. Dan semakin rindu karena tak mampu lagi aku merangkai keping-keping kenangan ini menjadi utuh ... menjadi penuh... sementara serisik angin menerbangkan sekeping demi sekeping bersama nafasku yang menghirup rindu menyesakkan dada...



Penuh rindu penuh cinta,
-.Swamimoe.-

Selasa, 01 Mei 2007

LABIRIN-MALAMKU

maoe satoe april kosong toejoeh

ketika malam ku tiba

yang larut dalam 44 jenis malam lainnya

pintu malam ku terbuka

kembali menguak labirin kelamnya

dan jiwaku mengguncang tanya


“ketika kutapaki panjang perjalanan

telusuri 44 tepian ladang malam kehidupan,

ternyata tanyaku mengundang jawab",

tapi di setiap kalimatnya tak lagi bersuara

di setiap kata-katanya tak lagi bermakna


di perjalanan malam

di satu noktah malam

aku terperangah

tiada aku disana

Rabu, 25 April 2007

BUAT YANG TERUS MERINDU



bertanyalah pada Sang Waktu,
bagai mana Adam dan Hawa dipertemukan.
bagaimana Rama dan Shinta kembali dipersatukan


rinduku padamu
seperti rindu kemarau pada hujan
tanah ini telah kerontang dan retak
semak meranggas


burung-burung entah dimana
kupu-kupu entah kemana
mawar tak lagi mengenal bunga


sungai kecil itu sudah lama kering
gersang sepanjang mata memandang


aduhai...
bila awan berubah kelabu
dan warna hitam membayang sendu
aku mengira hujan lebat akan menderu


tapi kemarau ini
belum juga berhenti
kemarau ini terlalu panjang
kapan kau pulang
kapan hujan akan menyiram pematang




Sabtu, 21 April 2007

LEDAKAN RINDUKU



akh...
bagiku kini semua tampak kelabu
diusik rindu yang bermukim di kalbu
burung, hujan, mawar ataupun kupu-kupu
bukanlah yang diharap oleh seorang perindu
karena, hanya pertemuanlah penawar rindu.

kasihmu adalah lautan biru permai
yang deru ombaknya berdebur dipantai
sedang aku sekelompok nyiur melambai
yang gundah pucuknya gelisah menggapai

tahukah engkau
ledak rinduku yang memuncak
adalah sebab cinta yang berjarak ?

Wahai Yang Arif,
jangan biarkan asa cintaku bagai ombak
dari jauh berlari mengejar pantai
sudah sampai pecah berderai

Kamis, 19 April 2007

KAMIS MALAM



Tuhan
Dari Kamis malang
Jiwaku nyetan !!

Seribu iblis terbang
dan aku ikut melayang
tengelam dalam lautan awan
bergerak berlawanan
ketidakberaturan

Amboi, angin bertiup hujan deras
iringi seribu iblis yang lepas
sementara mereka bergerak lugas
aku sibuk mencari yang paling buas
menumpang ditanduknya yang ganas

Oooh panas hawa tubuhku panas
Nuraniku dipasung nafsuku beringas
Ada
amuk didadaku menggeragas
Menuntut dendam ini terbalas

Oooh panas hawa tubuhku panas
Didih cecairan menggelora panas
Ubun ubunku mengepul uap panas
Kulit tubuhku memerah panas

Oooh panas hawa tubuhku panas
Bagai buldozer ia menggilas
Setiap penghalang ku tebas tuntas

Tanpa perasaan
Ku hirup darah hingga kering tandas

Adakah air dari tujuh sumur tujuh muara
Yang sejuknya mampu mendamaikan amuk
Mencuci rongga dadaku dari anyir dan bau busuk
Mengusir segala dedemit yang datang merasuk
Meredam api dendam untuk merendah bertekuk?

Tuhan
Si Kamis malam
Menyetani jiwaku !!





Selasa, 17 April 2007

G A P

(untuk menghadang curigamu, teman!)

aku di sini
kau di sana

aku lihat kau
kau lihat aku
aku kenal kau
kau kenal aku
aku pedulikanmu
kau pedulikanku
tapi...
kapankah kita ketemu ??

waktu berjalan begitu kencang
lalui titian yang begitu panjang
ketika angin menyapunya senjang
tiang tiang bergoyang
pasak pasak terbang
taiklah dengan tali kasih sayang
yang kau sambung lalu kau putuskan di tangan
bagai mantra asing sering kau tembangkan
maaf! itu bukan doa, tapi sampah
kepercayaanmu,... juga sampah
yang racuni pikiranku kala aku lengah
dan di dadaku kini penuh serapah...
sumpah !!

aku disini
kau disana
aku tidak nampak kau
kau tak perlu lihat aku
aku belum mengenalmu
akh... untuk apa kau kenali ku ?

pompa jantungku adalah kepedulian
sedang kau ? Taiklah dengan kepedulian !
beda era beda peradaban
kamu di dunia
aku di neraka
masih mau jumpa ?

sekarang aku berlari
tak usah kau cari
kalau ada yang tanya nanti
bilang saja aku pergi
diujung merahnya mega aku menanti...


Minggu, 15 April 2007

RINDUKU BERDARAH



Ooh bejana..
karena kau aku tak tahan
jiwaku kering dan keriputan
jantungku menyedot kehampaan
haus darah sebuah perjumpaan
yang lama kehilangan sentuhan
dan terbakar api kerinduan

Ooh bejana..
aku mau muntah
terima semua serapah
semua rasa bernanah
walau tak satupun terlimpah
mendengarmu dadaku begah
sekarang beri aku darah...

Sudahlah bejana, katup mulutmu...
dari semua unsur yang kau cairkan
enzimku tak mampu menggurah
hormonku bereaksi pasrah
dari semua unsur yang kau suntikkan
saat ini aku hanya perlu sekantung darah
untuk menghilangkan jeda celah

Tahukah kau
kerinduan yang menyengat ini adalah cinta yang berjarak?
dan aku tak mampu merapatkan renggangnya
maka beri aku darah
atau kureguk itu ditubuh kalian yang tersisa



Selasa, 10 April 2007

Guratan 4




Dear Diar,

Selamat malam,
Tak habis kupikir dan kucatat fenomena, ternyata miring poros bumi memang bukan satu-satunya alasan perubahan cuaca. Alasan akurat lain adalah pengaruh lengkung samar malu-malu yang hilang timbul tersungging saat bertemu (Amboi, teduhnya itu!).
Dan sungguh berhasil dibuatnya, satu tempat sunyi di ruang dadaku, menjadi sedikit lebih hangat untuk beberapa waktu, hingga ada sesuatu yang terus bergerak berproses, memperlebar wilayah harap, .... sambil juga berharap sedikit-banyak terciprat pesonanya meski sedikit. Dan apakah kamu tahu apa yang terjadi saat ini, saat kamu tak ada disini ?

Oo, kasih !

Tahukah kamu, betapa berartinya kamu bagi diriku, dan semakin 'menggila' arti itu saat ini, kala kamu betul-betul tak akan pernah ada lagi disisiku selamanya... Kesadaran itu menguras habis seluruh rasa di ruang pengalaman bathinku... Ternyata, kamu terlalu ...terlalu berharga ! Aku tak dapat menguraikan sempurna keadaanku saat ini... Aku pun tak dapat bercerita dengan siapapun selain kamu... Mata mereka, respon mereka, sikap mereka ...akh ! sungguh aku tak bisa menerimanya ... serasa aku ingin membakar dunia ! Aku sadari sekarang... aku betul-betul sendiri... tiada teman, tiada sahabat, tak ada saudara, tak ada Bunda...bahkan Tuhanpun seakan enggan berbincang, menerima segala keluh kesah !!

Sejujurnya saat menulis surat ini pun aku sedang gemetar. Kurasa getaran bathinku ini mencari muaranya di permukaan fisik. Apalagi tepat sore tadi kala mandi (hampir serupa dengan mandi-mandi di waktu lainnya), air pancuran itu telah mengusapku selembut kamu, sehingga walau mandi usai, percik airnya menggelegakkan dada dan terus mengalir ke mata dan hatiku,...sekumpulan meteorit menghujam ke wajah bumi pujaanmu ini !
Aku kritis, stadium ujung !! Siapa yang tahu ?
Tolonglah aku !!!

Siapa pula yang berani berbuat onar, memporakporanda dan meresahkan seluruh penghuni di rongga dadaku ?? Tiada sesuatupun yang masih utuh rapih di tempatnya !!

Akh.., sudah lah,. sudah dulu ya !!
Ampunkan aku kalau
surat ini harus berhenti di titik nadir kegelisahan. Aku hendak mencari pertanggungjawaban!


Salam paling indah, baik-baiklah kau di sana.
-.Swamimoe.-

Kamis, 05 April 2007

MERADANG RINDUKU

Hari ini kelabu
waktu berjalan tak tentu
atau justru berhenti membatu

Rindu ku padamu memuncak
tak mampu ku elak
walau sejenak

aku tersesak
ia meringsek mendesak
mengoyak selaput tatakramaku
satu demi satu

aku tak dapat lagi menunggu
pencarianku tak mengenal waktu
walau terlepas dan telanjang kulitku
ia terus meradang
hingga jadi tulang

kini aku sekarat
jiwaku di kerat
menahan ledak dadaku tak kuat
ia butuh saluran untuk muncrat

Rabu, 28 Maret 2007

Guratan 3



Dear Diar...

Selamat malam, sayang.

Ingin ku sampaikan rahasia angin, sayang ! Di sini sedang terjadi gejala alam. Sepintas kutaksir cuma sekedar kebetulan-kebetulan nyaris sempurna, tapi sebegitu hebatnya hingga tiada ingin kutolak ataupun kuingkari, melainkan kukelola dan kupagari.

Nah, apa kau mengerti maksudku sekarang ? Tadinya, kupikir semua itu akibat dari geseran-geseran ukuran tatanan nilai ku sendiri


Apabila musim itu datang, ...dan aku disibukkan oleh keletihan-keletihan membosankan, tetap kuharapkan bisa menggairahkan diriku, sekaligus belajar membebaskan diri dari cemas perubahan dan kehilangan, menurunkan kadar ketakutan-ketakutan berlebih tentang kerinduan terhadapmu, ... walau suatu saat nanti masih ku yakini hal itu pasti akan hancur binasa kembali.... Inilah yang kupelajari dari perjalanan hidup kita, sayang !...dan sejuta maaf ku sampaikan lagi padamu atas pikiran ku yang begitu “lancang” ini. Tapi tetap harus ku ‘manipulasi’ untuk terus bertahan melanjutkan keinginanmu... menyelesaikan semua yang tersisa...

Sesungguhnya saat ini aku tengah remuk redam. Cara mencuci dan memasak yang kau ajari di penghujung perjumpaan itu membuat aku kembali menggila !. Tapi seperti saranmu, tetap kukurung diriku agar tiada siapapun tahu... sudah tiga hari ini aku tak keluar, tak bertemu siapapun selain yang berkunjung ke bilik kita. Itu tak mungkin aku singkirkan, bukan ? Maafkan jika aku masih tetap ekspresif... kamu sangat tahu tentang itu (jadi kalau info itu bocor terbaca mereka, itu karena watakku).

Teh,...

Kini, aku hanya mau mengumpulkan asa untuk mencukupkan syarat perjumpaan, ...memacu energi untuk berefleksi bagai prisma, dan dari kejauhan ku teriakan lantang sinyal tanda-tandaku; ”Kekasihmu ini telah siaga penuh melepas kefanaan !“. Dan, aku tak akan sibuk lagi mencari penawar, sebab mungkin yang ku tahu... inilah kita... walau aku begitu nakal, kepolosan kita bukan cinta sekedar tapi cinta sebenar. Cinta sunyi tak terdengar !


teramat sangat rindu,
-.Swamimoe.-

Kamis, 22 Maret 2007

AKU YANG TAKUT



Wahai Tuhan Pemeliharaku,
ampuni bodohku dan tidak mengertiku,
yang juga kau anugerahi padaku...
Tak ingin ku sangkal
apalagi menolak pemberianmu,
karena seharusnya ku syukuri..

Sungguh
aku takut tiada tara
kepadaMu Tuhan,
dibanding hantu manapun yang paling menakutkan.

Memandang hebatMu hatiku jeri setiap waktu.
DidepanMu aku tak punya nyali dan jalu,
hingga aku ingin pergi dan hindarMu sedapat mungkin..
Tapi apa mungkin ?

Kaulah momok misterius menyeramkan itu.
Kata-kataMu sangat mandraguna sakti,
gemuruh yang menguncangkan seluruh sendi-sendi !
Apa saja yang kau mau,
kau kehendaki pasti jadi dan terjadi,
sempurna tanpa cela,
tanpa kekurangan tanpa selisih.

Tuhan Misteriusku,
bodohku selalu saja terjadi.
Sekali sekala Kau ampuni,
mungkin sambil tertawa geli
atas segala perilaku janggalku.

Tetapi sekali waktu mengusik murkaMu,
aku hancur luluh didalam azabMu berkali-kali...

Ooo Sang Penguasa Tunggalku,
tiada siapapun makhluk bisa memastikan kehendakmu,
sehingga bodohku memahami kepastian adalah juga kehendakmu.

Kehendak yang dingin tanpa ingin,
kehendak yang mapan tanpa harapan.
KehendakMu adalah kapan saja Kau mau tak bergantung ruang,
tak terikat waktu.
Yang ada adalah KEHENDAK.

Tuhan penjagaku Sang Maha Merawat.
Saat ini, setelah sekian kali aku tersesat
dan hanya Engkau lah penyelamat, hanya...!
Dan aku sedang hancur berkali-kali dalam azabMu.
Teramat pedih dan aku tak pernah mampu,
bertahan jika hanya Kau yang ‘memberikan’
aku telah hancur dan menjadi kembali
untuk hancur dan menjadi lagi
ini lah janji Mu, kata-kata kehendakMu.

Oooh Sang Guru Yang Maha Tahu
setelah ku tau
hati adalah ragu
yang ku punya hanya nafsu
yang betul ini palsu
yang kuat itu luruh
yang keras itu rapuh
yang bersih itu kumuh
yang rapih itu lusuh
ajari aku pengetahuan itu,
bukan berhenti di ayat atau mantera
bukan berhenti di doa atau jampi

Engkaulah yang sebenarnya guru
dan keyakinanku ada di ragu

Jika Keadilan adalah harga
budi adalah siasat
rendah hati itu kelemahan
sopan santun adalah ketakutan
kesetiaan itu penyembahan
maka semua itu fitrah mahluk kepadaMu
kepada Sang Penciptanya
dan bukan kepada sesama makhluk

Wahai Tuhan yang ku takuti
aku tersesatkan oleh pemimpin-pemimpin manusia,
guru-guru manusia,
kiyai-kiyai manusia,
pendekar-pendekar manusia,
para cerdik pandai manusia,
ketua-ketua perkumpulan manusia,
penakluk-penakluk manusia,
penjajah-penjajah manusia,
perampok-perampok manusia,
pemerkosa-pemerkosa manusia,
dan penjahat-penjahat manusia,
yang menghalang-halangi kemampuan manusia-manusia lain
menjadi seperti mereka.

Yang budayanya hasut dan fitnah
Kemenangan itu kebenaran
Kekalahan itu dosa
Dosa itu pelajaran
Yang kuat itu pemimpin
Licik itu cerdik
Pandai itu mampu membuat
Untung adalah mendapat lebih dari yang seharusnya
Rugi adalah kesiasiaan pekerjaan tanpa pamrih
Kejahatan adalah pengekangan keinginan mayoritas
Kebaikan adalah pengumpulan kenikmatan tanpa batas
hukumMu mengazab para pengikut selainMu.

Ampuni aku Tuhan,
andai selama ini akupun takut kepada selainMu,
setia,
santun,
bahkan merendahkan suara kepada selainMu.

Aku tak mengerti jika Kau begitu pecemburu.

Senin, 19 Maret 2007

Guratan 2. Tahukah Kamu ?




Dear Diar,

Selamat malam, sayang.
Tahukah kamu, bahwa hingga kini aku tetap tak mampu menepis kesedihan dan rasa gusar atas kepergianmu ? Bagai kanak-kanak yang selalu ingin mengikuti bundanya berjalan dan ...terus mengamuk bila ditinggalkan. Untuk itu maafkanlah aku, dan jangan sampai keisenganku ini menyusahkanmu...


Sebab...aku ingin mengaku....
hanya seorang di antara sekian yang mampu melelehkan gumpalan kalimat kenyal nyaris kaku. Itu adalah kamu, sayang ! Yang berkali-kali berhasil meyakinkan bahwa keluhuran keyakinan kita selalu ada didalam kenyataan sesaat sebelum semua nilai-nilainya kuanggap sebagai dogma mistik nonsens absolut, dan menggiring enejiku menjadi pragmatis-materialistik yang atheistik. Kamu juga selalu berhasil mematangkan jerawat batu dan membuatnya meletus tepat sebelum semua obat mujarab kuvonis palsu, yang tak pernah gagal membuat gatal, menyuburkan candu, dan menciptakan keengganan-keenggananku untuk segera menjadi normal.

Bagaimana keadaanmu sekarang? Adakah lebih baik?

Tentang rumah barumu itu. Kubaca isyarat-isyaratmu mengutuki pagar-pagar maya yang menempurungi kita. Tahukah kamu, betapa di sini aku pun sedang dibuat gila olehnya ?


Sungguh, ...kau percaya itu ? Bahkan malah oleh pagar-pagar maya itu, sesekali waktu aku berfikir untuk menembusnya, seperti filem-filem yang mengisahkan seorang aktor yang berhasil melarikan diri menembus rintangan dan penjagaan penjara alkatraz. Bagaimana mungkin aku menyerah ?? Rasanya, ... sepatutnya aku dapat mematahkan ketatnya pengawasan laskar Lima Inderawi dan menyandera yang ke Enam. Lalu menaklukan kerumitan rintangan dinding-dinding jeruji tulang, daging dan kulit ini, walaupun mereka diperkuat laskar otot dan urat, serta sensor di batas pagar kulit yang begitu sensitif.


Hanya aku betul-betul buta keberadaanmu, teh. Maut menyanderamu di lokasi yang begitu misteri. Beri aku kordinatnya... akan ku susul dan ku bebaskan kamu, sayang !! Hampir-hampir frustasi aku membaca sandi-sandi di lembaran kitab-kitab suci, bertanya pada para mpu-duniya dan para begawan ghita, yang semua nyaris ku caci sebagai penipu, hanya karena tak ku peroleh ‘jawab’nya.


Lucu !


Sejauh renggang jarak ini, kita masih dikutuk dengan banyak persamaan, kenangan terindah yang selalu menyayat jantungku, kesedihan abadi !... dan tentu saja “pengertianmu” yang teramat-sangat istimewa bagi ku. Hal yang mungkin akan selalu menjadi tanda yang terus lekat di kening kita. Hantu sejati ! ...



-.Swamimoe.-

NB: Tentang pagar-pagar itu,
kadang kupikir apa pula hak mereka membuat kita menjadi semakin gila?

Rabu, 14 Maret 2007

SERUAN HATI



Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah
Subhanallah, Subhanallah,
Allahu Akbar,

Ya Allah, lihatlah diriku sekarang ini
tataplah
aku ingin di dekatmu saat ini
saat sendiri saat tiada yang temani

Tuhan,
pikirku mbludak
rasaku muncrat

aku ingin tumpahkan seluruh pikiran dan perasaanku padaMu

Andai Kau di ketinggian, turunlah
andai Kau di kejauhan, mendekatlah..
andai Kau di kedalaman, keluarlah..
datanglah ke samping, ke depan, atau ke dalam lubuk hatiku
biar aku rasakan hadirMu..
sungguh aku ingin di sisiMU, dan bicara
hamba si lemah bodoh yang berdosa ini ingin mengadu
ingin bertanya, ingin memohon sesuatu dariMu..

Lihatlah keadaanku
bathinku, perasaanku, pikiranku
ku kira sakitku sudah di ambangnya,
dan aku tak akan merasanya lagi
tapi saat ini,
aku tidak punya alasan
kenapa aku merasa lebih dahsyat ?
kelirulah aku mengira ini ujian
ini bukan cobaan..ya Rabb
tapi hukuman
banyaklah kesalahanku yang belum terbayar!

Ya Allah,
pandanglah aku
andainya memang aku harus merasakannya lagi,
maka biar aku rasakan semua saat ini
lipat-gandakanlah kenyeriannya berjuta kali
berikan semua ganjarannya saat ini
dan biarkan aku rasakan, sampai ke puncak

Tumpahkanlah airmataku
sampai kering dan tak bisa keluar lagi,
ledakkanlah jeritanku
sampai sunyi tak terdengar lagi
walau aku tak
kan mampu memikul menanggung
biarlah aku merasa rasa sakit yang paling tinggi
yang bisa Kau berikan kali ini
sampai dosa-dosaku terbalas
sampai semua kesalahanku termaafkan,
hukum aku dengan perasaan ini !

Dan setelah airmata terkuras habis,
setelah kenyerian yang menguliti sudah kurasai
puncakkanlah, sudahi rasa sakit ini, akhirilah..
setelah itu jangan biarkan aku rasakan lagi,
biarkan tenangMu menyelimuti

Tatap diriku Tuhan
berbulan ku rasakan kelemahan ini
nyeri, perih dan tersakiti
tetapi
aku percaya kepadaMu..

Kau Tuhan seluruh makhluk dan semesta alam
yang ciptakan manusia dengan seluruh perasaannya..
maka tunjukkan kebenaranMu, ya Tuhan
yang benar itu adalah benar dan bukan sebuah kebetulan
hidayahilah aku kepahaman ilmuMu Ya Allah.
agar aku membenarkan kebenaranMu
dan memihak kepadanya dalam jalanku

Setelah semua yang aku lakukan,
sekarang ku serahkan padaMu,
meyakiniMu adalah keinginanku
Engkau lah yang ku maksud
Ridho Mu lah yang ku cari
Cinta Mu lah yang ku tuju
Engkaulah yang penuh
Engkaulah yang seluruh

Sudah, aku tak perlu
tak lagi ku cari pahalaku
tak kuimpikan lagi SurgaMu

Jadilah kehendakMu
Engkaulah kehendakku

Ya Allah Gusti...
Aku ikut Engkau
Jemput aku
Ajak aku
Sertakan aku !!!

Senin, 12 Maret 2007

JEJAK HIDUPKU




jauh jarakku merangkai hati
menghantar bunga kesana sini
bukan senyuman yang ku cari
atau kata manis peredam emosi

diluar,
tak ku tahu ujungya lagi
pertarungan masih sengit beraksi
sahdan musim bunga silih berganti
tak henti hingga warna bulan pucat pasi
walau seiring berjuta langkah pasti
tapi kakiku cuma menjejak tanah mati

Sukmaku pergi, berjalan atau berlari
mengembara mencari arasy istana nurani
walau hatiku digaduh geliat sunyi
sendiri atau entah dengan sesiapa lagi
aku tak perduli !!

(kuharap ada jawabnya dibalik labirinmu)

Jumat, 09 Maret 2007

Guratan 01

Dear Diar...

Selamat malam, sayang.

Maafkan bila goresan pena Masmu ini mengganggu tenangnya istirahat mu saat ini. Betapa egonya aku, mengganggumu untuk selesaikan masalahku, apapun itu. Tapi semua hal itu selalu mengait dengan kamu. Hingga kini aku masih tetap gelisah dengan kekhawatiran yang terbungkus dalam segulung kerinduan yang tak berkesudahan. Aku mulai menduga ini sebagai fenomena. Apakah ini bukan tanda-tanda yang kamu sampaikan ? Seperti juga aku yang selalu mecari celah yang mungkin dapat ‘mengintip’ informasi tentangmu, tentu kamu akan jauh lebih intens mengais celah itu, celah yang menghubungkan jarak kita. Celah untuk menyampaikan keadaanmu atau mengucapkan salam terakhirmu, seperti biasa kita lakukan untuk membunuh risau.


Sayang, I know you ‘damned’ well. Betapa sabarmu yang tiada henti mewujudkan itikad tanpa kehilangan ‘penyerahan diri’ atas segala keterbatasan. Perjuangan menghadang selusur sakit dan kepasrahan kesabaran menerima itu semua telah menguncangkan aku, manakala nilai-nilai itu akhirnya mewujud dalam bingkai utopia. Adakah kamu tahu, pelajaran apa yang diakibatkannya ? Tentu, karena selalu kamu kuatkan aku dari keraguan nilai-nilai itu. Bahwa tak akan luput dari penilaian Sang Evaluator Tunggal. Sedangkan manusia hanyalah evaluator cibir yang menggincu bibir. “Bertahanlah mas, dan kita akan semakin kuat !”, ujarmu sekali waktu ketika mengingatkanku. Lalu senyummu itu bergulir begitu sejuk (Amboi..!), meredam dendam yang ledakan merah di dadaku.


Neng,

Ketika semua orang berlalu dan berangsur-angsur menghapus bayang mu dengan begitu cepat. Aku tidak. Semakin ku coba untuk me’wajar’kan kepergianmu, semakin mengganggu kepercayaanku. Menghadirkan ketidak mengertianku atas segala sesuatu. Bertanya adalah pekerjaan sia-sia yang menyiksa...! Suatu ketika kucoba sampaikan kegusaran ini kepada Ibunda, dan ia memandangku menjadi begitu aneh dan sedih. Apalagi ketika dengan Mama yang pragmatis autoritarian, atau Pakcik yang sering tampak menjadi hedonis tapi mistikus religius itu, pasti kamu sudah mengira hasilnya. Aku harus membekali diri dengan beberapa lapis ‘baju’ kesadaran hati untuk siap menjadi 'tertawaan' our society ... Tampaknya hanya ‘selusur meniti-cari’ adalah jalan yang layak tempuh bagiku.


Jadi, maafkan lah masmu ini yang tak cukup pandai membaca sandi-sandi bahasamu, tapi rasa sepi, asing dan ketakutan itu telah kurasakan. Lamanya proses aku memahami ‘pesan’ itu membuat aku begitu khawatir. Kekhawatiran berlebihan sehingga membuat aku menjadi begitu paranoid. Was-was dan masgul yang begitu menakutkan dan selalu membawaku memikirkan keadaanmu. Sungguh, kerinduanku kepadamu menuntut kepastian !! Kepastian tetang keadaanmu sehingga segera ku mencari apa dan bagaimana cara yang harus ku lakukan untuk melunainya mengirimkan ‘sesuatu’ yang bermanfaat bagimu saat ini dan kelak.


Aku tak diizinkan menyertai dan menemanimu melakukan pengembaraan misteri itu kini. Aku masih menanti dalam antrian sederetan giliran panggilan, seperti yang direncanakan olehNya. Bila kesempatan itu tiba, ku tanggalkan pakaian fana ini, berlari menyusulmu sesegera mungkin dan ikut mengurai ‘misteri kelam’ itu bersama menuju hakikat. Nantikanlah aku....



Aku yg mencarimu,
-.Swamimoe.-