
Dear Diar,Selamat malam,Teh.
Aku singgahi peraduanmu, tadi. Aku jengkel. Maafkan aku. Hampir seminggu yang lalu ku ganti rumput ditamanmu. Himpunan rumput-rumput Gajah itu telah bervariasi dengan rumput Jepang. Kata orang mempercantik berandamu, tapi kataku dapat menggantikan contoh pelepah kurma yang di tancapkan Nabi ke sebuah pusara. Hendaknya hal itu bisa menjadi abadi. Ingatkah kamu kisah itu ? Hmh.., ada sedikit suasana yang melegakan rongga dadaku. Seperti kegerahan terik matahari siang yang seketika teduh di pintu ruang ber AC.
Aku di temani Pak Dasman dan Ibu, berikut dengan cerita gulai rebungmu yang kau hadiahkan kepada mereka. Gulai rebung tak terlupakan. Mulanya mereka begitu berhati-hati memancing pembicaraan 'rebung' itu padaku. Takut membangun kesedihan. Kuharap doa yang kutitipkan pada rumput-rumput itu menghantarkan kenyamanan tidurmu di dalam sana.
Tapi, ketika datang tadi rumput itu sudah tak ada, hilang beserta akar-tanahnya. Siapa jalang yang berani mempermainkan aku. Aku ingin tahu, sekaligus membuat perhitungan maksimal dengannya !! Ada alasan aku mempersingkat perjalanan fanaku dan segera menghampirimu. Sebuah kesempatan. Tapi akhirnya, dalam renunganku kupikir hilangnya rumput itu hanyalah tanda. Bahasa Tuhan yang sedang disampaikanNya. Aku memang bodoh dan masih bodoh. Tak dapat menangkap syair keramat yang dilantunkanNya lewat alam, lewat bahasaNya. Aku merasa seperti semakin kecil dan terasing, di lingkungan yang mempermainkanku.
Aku baru melintasi suasana itu. Dimana aku ingin tak perduli dengan tatapan orang lain, yang tak memperdulikanku. Aku baru melintasi jalan itu, dimana kesunyian begitu memagut. Seakan semua hati tertutup, mendung menutupi mentari, burung-burung berhenti bernyanyi, angin tak lagi berhembus. Tiada pintu yang terbuka bagi kehadiran ke’aneh’an rasaku dan pikirku. Tidak teman, sahabat ataupun bahkan keluarga. Aku tersisih di negeri asing.
Ketika matahari pagi bersinar, tak ku kenal lagi matahari itu. Seperti mawar yang tak mengenal bunga. Hangatnya tak sampai menyapa embun yang membasuh wajahku. Aku berfikir sejenak. Adakah perubahan yang terjadi pada diriku ? Berapa besar perubahan itu ? Sesaat aku tenggelam dalam pergulatan renungan.
Masih tersisakah sedikit waktuku untuk wujudkan keinginanmu ? masih tersediakan daya dan kesempatanku perbaiki rencana yang kusuguhkan kepada mu ? Tanya ku tenggelam dalam senyapnya hutan Sintoq.
Aku menerima guratan takdirku sepenuhnya. Sepenuh penyerahan diriku padaNYa. Tetapi, sangsi menggoda kala menapak pada keberadaamu.
Adakah kamu disibukkan sepi dan kerinduan ini juga ? Atau diganggu ketakutan dalam kesendirianmu ? Adakah lantunan doa-doaku ini mampu menjadi selimut yang menghangatkan kedinginan atas bekunya bumimu ?
Tidakkah aku menjadi orang yang sangat egois jika saja aku hanya memikirkan daya tahanku dan sekedar bagaimana aku dapat bangkit di kemudian hari ? Adakah esok itu bagimu ?
Aku menerima guratan takdirku sepenuhnya. Sepenuh penyerahan diriku padaNYa. Tetapi, sangsi menggoda kala menapak pada keberadaamu.
Adakah kamu disibukkan oleh beribu tanya dengan kehampaan ini juga? atau diganggu aneka siksa yang tak mampu kau menahannya ? Adakah lantunan doa-doaku ini mampu membungkamkan celoteh beribu tanya itu, dan halangi derita yang menderamu ?
Tidakkah aku hanya menjadi bagian dari pencinta diri sendiri, narsis yang individualis, ditengah peradaban hedonisme yang marak dewasa ini, jika saja aku hanya memikirkan daya tahanku, dan sekedar bagaimana aku bangkit di kemudian hari ? Adakah kesempatan itu bagimu ?
Aku tak dapat menukar pandanganku atas apa yang telah kamu lukiskan kepadaku selama ini, atau … aku harus habis kehilangan 'kemanusiaan' ku saat ini !
Melukai kulitku di setiap tingkat
Jiwaku sekarat stadium gawat
Biar nafasku tersekat kubulatkan tekat
Merakit niat yang tinggal sekerat
Berharap kuat hasratku di ujung penat
Hari ini tubuhku itu membutuhkanmu, sayang. Hadirlah di mimpinya, meneduhkan keliarannya.
Semoga Tuhan memberi penerangan.
Dengan segumpal rindu jiwaku meratap menggapaimu.
Bahagialah kamu disana, Teh.
Bahagialah.
Segudang harap,
-.Swamimoe.-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar