Jumat, 18 Mei 2007

Guratan 5



Dear Diar,


Selamat senja sayang,
Aku hampir gila karena lupa kalau hari ini adalah hari Jumat... sementara pagi tadi ku singgahi ‘kediamanmu’mu, menyambangi oleh-oleh dan pelepah berkuntum bunga, lalu di tengahhari aku terus begerak pulang ke Kampus. Setiba di kampus, azan berkumandang dan di sisi jalan ku lihat sekumpulan mahasiswa bersarung dan berteluk belanga. Astaghfirullah, baru ku sadari bahwa hari ini hari Jumat. Sepatutnya aku tak menghentikan asyik masyuk percumbuan kita tadi di peraduanmu sampai Azan memanggil..., tapi kenapa begitu sepi dan tiada tanda-tanda? Atau aku memang terlalu asyik dengan lintasan pikiran ?


Aku baru pulang dari Penang mengantar Lina’s Family kembali ke Medan setelah mereka melakukan ‘marathon-tour’ seputar Thailand. Aktivitas dan perjalanan ini tak meredakan gaduh penghuni rongga dadaku. Kau tahu lintasan perjalanan terakhir kita, ketika menonton beberapa filem yang kulupa judulnya hanya dalam satu hari itu, di mall Bukit Jambul ? Aku lupa filem itu, karena bagiku cerita filem itu sudah tak penting lagi. Ia hanya assesoris backgraund cerita kita sendiri, setelah kamu sampaikan keinginanmu nonton filem di Gedung Bioskop selepas izin keluar dari Hospital Alor Setar di berikan dokter.


"Mas, dokter sudah kasih teteh pulang seminggu ini. Kamis depan kita balik seterlah hasil lab bone marrow keluar", katamu senyum-senyum. Memang jelas di air mukamu ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan. Aku menunggu lanjutan kata-katamu.


"Nonton yuk ! Teteh pengen nonton nih, kan udah lama gak nonton...", lanjutmu.


"Ayo..! Mari kita beli VCD filem yang kamu mau tonton itu", kataku sambil menjinjing tas ransel dan kantong plastik berisi obat-obatan dan kaleng susumu yang tersisa di rumah sakititu.


"Bukan mau nonton VCD mas, kita nonton di theater... sudah lama nih gak nonton di bioskop"


"Wah, di Alor Setar gak bagus bioskopnya.." kataku.


"Di Penang aja yuk... pengen nih, maaaaas ! "


"Ya deh.. yuk besok"


"Hi hi hi..." . Tampak cerah wajahmu sejenak. Manis sekali.


Tiba-tiba saja semua itu terkuak dalam kenanganku. Dan tak dapat lagi ku nikmati hari-hari ini... selain melulu dalam gundukan rasa ‘hampa’ dan kesedihan yang bertabur ke Langit. Dadaku larut. Tiadapun yang tahu. Dan akupun hanyut ke khayalanku tentang alammu.


Seperti anjuranmu selalu, jika kita mengalami hal serupa itu maka segeralah istighfar.... dan kulakukan itu sepanjang hari...dan sepanjang hari itu pula aku merasa kau mendekap lenganku kuat tanpa pernah melepaskannya.


Sepertimu juga, aku belajar bersyukur, memulangkan itikad pada hakikat. Menerima takwa tanpa bertanya. Sungguh ..! Aku tak akan sanggup membunuh hati, mengurai doa bagai mantera, dan berlari hidup seperti hewan pengejar isi perut, sementara akhirnya berhenti di mati begitu saja tanpa sempat mengerti.


Teh, kesedihanku tak dapat berhenti walau kelelahan mendera tubuh hingga lunglai dan wajahku pucat pasi. Aku rindu sekali. Dan semakin rindu karena tak mampu lagi aku merangkai keping-keping kenangan ini menjadi utuh ... menjadi penuh... sementara serisik angin menerbangkan sekeping demi sekeping bersama nafasku yang menghirup rindu menyesakkan dada...



Penuh rindu penuh cinta,
-.Swamimoe.-

Tidak ada komentar: