Rabu, 30 April 2008

Guratan 16 : S E M P U R N A

Dear Diar,

Selamat malam, Sayang !.


Hampir dua bulan berselang aku memaksa diriku tak menulis surat kepadamu, mengadu, bercerita tetang letupan-letupan kerinduanku yang tetap saja menggila. Meredam kasmaran yang kembali bergejolak seperti dulu-dulu ketika kita masih awal menanam dan menyemai cinta... Kamu masih ingat, bukan ? Begitu aneh, dia hadir kembali dikala aku tahu bahwa kamu telah tiada. Aku kembali jatuh cinta, dan menggelora., sehingga aku tak mampu untuk menerima sepenuhnya bahwa kamu betul-betul telah tiada. Alur kisah bersamamu kurasa begitu sempurna. Maafkan mas, jika sikapku ini masih mengganggu istirahat abadimu. Maafkan aku.


Aku tak tahu.


Baru saja mas kembali dari Jakarta, Padang, Bukittinggi dan Palembang. Intinya mengurus beasiswa. Entah mengapa dan setan dari mana yang berhasil membujukku untuk percaya tentang ketulusan beasiswa Diknas. Sejak dulu lagi aku tidak mengimani ketulusan bantuan dengan motif-motif politik sang penguasa. Tanpa "bargaining interest" dan "comparative advantage", semua itu palsu belaka. Maaf, mas memang sinis dengan hal seperti itu. Betapa tidak, aku terpaksa menukar sisa nafas RM 2000 (sebagian tabunganmu dulu yang masih rapih ku simpan, sekali lagi maaf ! ) untuk sebudel dokumen sia-sia, demi sebuah janji seorang akademisi, Prof. Ir. Tarkus Suganda, M.Sc, Ph.D, yang menabur surga ditelinga sejumlah Indonesian Student Society di kampus UUM, dan pada akhirnya mentah-mentah tak diakuinya. Untuk itu aku memang murung hampakan azimat simpananmu.


Aku tak tahu. Dibalik kekecawaan cerita "pulang" saat ini pun aku dikejutkan dengan oleh-oleh saguhati benih baru yang nanti harus kucoba menanamkannya dalam taman hati asuhanmu. Dua benih hijau yang ku khawatiri begitu rentan terhadap peralihan berbagai musim yang sering berlaku disini. Seperti katamu dahulu, bahwa kita memiliki tak hanya dua atau empat musim, tapi beribu. Ups....! Yang kurasa menggelikan tak terduga ialah benih liar bunga-bungamu seakan kau campakkan begitu saja, tapi ternyata tumbuh subur di beribu musim itu, lalu selalu kau banggakan sebagai benih subur yang sekaligus tumbuh menyuburkan tanahnya sendiri. Amboi...


Tentang dua benh baru ini memang masih perlu penyemai dan perawat agar ia tumbuh kuat di media tepat dengan kondisi suhu akurat. Lalu disiang-siangi dan dijaga sambil membuang gulma yang mungkin tumbuh parasit disekitarnya.


Hmmm...! Aku tak pasti, apakah ini usaha yang mungkin menbawa hasil, menambah warna dan aroma bunga-bunga baru melengkapi bunga-bungamu? Mungkinkah warna-warna baru itu menjadi kompilasi harmoni indah orchestra gubahanmu? Atau justru menjadi gelimang nada-nada sumbang yang bising gaduh di seantero jagat taman hati? Aku tak mampu lagi menghitung dengan kalkulasi ilmu pasti. Apalagi melakukan komparasi, cara yang sejak dulu ku tentang setengah mati. Lebih baik aku sendiri memancang nyali, menyambut tajamnya belati sunyi.


Di kejauhan terdengar lantunan rangkaian buluh bernyanyi, yang untaian syairnya berbunyi....


Kau begitu sempurna
Dimataku kau begitu indah
Kau membuat diriku
Akan s’lalu memujamu

Disetiap langkahku
Kukan s’lalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan
Hidupku tanpa cintamu

Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa

Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku lengkapi diriku
Oh sayangku kau begitu....
Sempurna.... sempurna....

Kau genggam tanganku....
Saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata
Dan hapus semua sesalku

Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa

Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku lengkapi diriku
Oh sayangku kau begitu....
Sempurna.... sempurna....

(by Andre & Blackbone)



Percik api kerinduanku,

-Swamimoe.-


NB:

Di Palembang mas di jamu dan menginap di rumah Aufa Syahrizal dan keluarga...ingat bukan? Echa sudah gadis dan Adek pun sudah besar. Semakin lucu dan manis. Andaikan kamu bisa ikut kemarin, mereka menjamu selera dengan makanan seafood di restoran terapung Sungai Musi. Kamu akan sangat menyukainya. Mereka selalu mengenangmu, teh. Semoga paket doa mereka juga cepat sampai kehadapanmu. Sejumlah photo kita mas mintakan dari mereka. Nanti mas kirimkan juga via saluran maya ini. Pesan mereka titip rindu teramat sangat untuk Uwak di kejauhan. Aku juga, sangat ...!.






Tidak ada komentar: