
aku tegak di muka bilik pusara
terdiam tak kuasa mengata
tak cukup kata untuk bicara
tak sanggup mengurai cerita
aku memang masih tegak terdiam
sebagian dalam makna bait-bait doa
sebagian dalam mantra
tapi sungguh itu tidak berarti perkasa
diam-diam juga bukan karena terpaksa
sejak langit mendung mentari buram
anganku pecah hati terbelah
rasa tumpah perkara lumrah
ketika tungkai lengan asaku coba merengkuh waktu
seketika hadir bayang-bayangmu bantu menyangga
oleng-oleng bahteraku diguncang keping-keping lara
tapi separuh tulangku membenam bersamamu
ke dunia tanah
aku memang diam tenggelam sendirian
paras air mata hari sudah hitam
hingga tak mampu mengukurmu di berapa dalam
ku gapai-gapai hari-hari kusam
hari ini
detak harmoni melodi nafasku legam
dilantun hiruk deru mesin geram
......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar